Jika Situasi Memaksa, SBY Bakal Nyapres Lagi


[PORTAL-ISLAM.ID] Wacana untuk merevisi Undang-undang (UU) Pemilihan Umum (Pemilu) dan penafsiran konstitusi UUD 1945 terkait masa jabatan wakil presiden (wapres) terus mencuat. Ada elemen masyarakat yang akan melakukan judical review ke MK. Revisi ini pun membuka peluang Jusuf Kalla (JK) dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk maju kembali di pilpres 2019 mendatang.

Menanggapi hal itu, Ketua DPP Partai Demokrat Bidang Hukum dan Advokasi Ferdinand Hutahaen mengatakan, pihaknya mengaku menghormati berbagai elemen masyarakat yang tengah melakukan gugatan kepada mahkamah konstitusi (MK). Meski demikian, partai berlambang mercy itu pun mengaku tak akan mengajukan SBY kembali jika permohonan uji materi itu dikabulkan.

"Kalaupun itu nanti lolos (uji materi MK) sepertinya Partai Demokrat tidak akan kembali mengusung Pak SBY. Karena beliau sudah menyatakan sudah cukup dalam kontestasi seperti itu," kata Ferdinand di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (7/5).

Menurut Ferdinand, sang ketua umumnya telah sepakat untuk melakukan regenerasi kepada generasi selanjutnya di partai Demokrat. Salah satunya dengan mendorong sang putra sulungnya menjadi pemimpin masa depan, yakni Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

"Kalau Partai Demokrat diminta untuk mengusung kadernya, saat ini kita akan mengusulkan Agus Harimurti Yudhoyono," ungkapnya.

Meski demikian, Ferdinand tak menampik kemungkinan SBY maju kembali masih terbuka. Namun, kemungkinan itu terjadi kala adanya situasi yang tengah mendesak dan memaksa.

"Itu hanya akan terjadi ketika sebuah situasi nasional memaksa bahwa beliau harus turun gunung kembali tetapi ketika tidak ada situasi nasional yang memaksa, saya pikir SBY tidak akan maju lagi," tuturnya.

Lebih jauh, Ferdinand mengaku situasi memaksa yang dimaksudkan adalah kala melihat tensi politik yang semakin memanas di tengah masyarakat. Begitupula dengan berbagai gesekan antara para pendukung yang semakin tak terbendung. Kondisi ini yang memungkinkan sang nahkodanya itu akan maju kembali.

"Situasi ini memaksa pak SBY harus turun ya mungkin saja beliau harus turun tetapi ketika situasi normal begini tidak akan turun lagi," pungkasnya, seperti dilansir Jawa Pos.