Hubungan Antara Pilpres 2019, Najib, Mahathir, Trump, dan Kita


Oleh: Mutawakkil Abu Ramadhan*

DR. Al Qadri seorang pakar masalah keislaman di Perancis mengatakan: USD 618 juta dollar ditransfer oleh keluarga kerajaan Saudi ke rekening pribadi PM Malaysia Najib Razak.

Tujuan utamanya adalah mendukung Najib agar menang terhadap jaringan "Islam politik" yang berkonsentrasi kepada sosok Anwar Ibrahim.

Belakangan uang itu bermasalah, karena terkait dengan kasus korupsi terheboh sepanjang sejarah Malaysia.

Mantan Jaksa Agung Malaysia yang dipecat Najib menyatakan bahwa terjadi kebocoran sejumlah besar dana investasi Malaysia (1MDB) dengan modus money laundering. Diperkirakan kebocoran itu mencapai hampir 4 milyar dollar.

Yang membuat heboh adalah sosok-sosok yang terlibat didalamnya (money laundering) adalah jaringan geopolitik anti demokrasi di Arab, sebut saja tokoh seperti Al Utaibi seorang Dubes Emirat Arab di Washington.

Dan mendadak Menlu Saudi Al Jubair mengatakan bahwa uang Usd 618 juta dollar adalah hadiah pribadi keluarga kerajaan Saudi. Semenjak pernyataan itu keluar, publik Malaysia semakin digelayuti kecurigaan. Kok hadiah bisa sebesar itu?

Najib bersama jaringan kroninya juga menunjukkan gaya hidup yang super mewah yang memancing rasa penasaran media. Istrinya pernah memamerkan sebuah cincin berlian termahal di dunia.

Diluar dugaan, tiba-tiba Mahathir Mohamad muncul kembali di arena politik dan sangat efektif merubuhkan kekuasan Najib. Demi menjatuhkan Najib, Mahathir dan Anwar Ibrahim kembali bersatu membentuk barisan oposisi.

Mahathir merasa bersalah karena Najib sudah membawa Malaysia kearah yang bisa menghancurkan. Dan Malaysia juga dinilai semakin dekat dengan jaringan geopolitik di Timteng yang pro Israel.

Saat masih bersama, Mahathir dan Anwar Ibrahim bersama-sama membangun apa yang diistilahkan dengan “Proyek Peradaban Islam”. Mereka membangun Universitas Islam Internasional, pusat keuangan Syariah dan menggandeng negara-negara Islam dalam kerjasama politik dan ekonomi.

Kini, Mahathir dan Anwar Ibrahim kembali bersatu dan kembali memenangkan kekuasaan. Syekh Yusuf Qaradawi mengucapkan selamat secara khusus untuk mereka.

Penguasa di Abu Dhabi, Riyadh dan Cairo sangat kecewa dengan perkembangan ini. Sebab tujuan utama mereka membangun jaringan penguasa sekuler otoriter di negara-negara Islam kembali gagal......

Trump termasuk yang paling kecewa, karena politik adu domba dia di negara-negara muslim kembali gagal. Trump berhasil mengadu domba negara teluk dalam kasus embargo Qatar. Tapi, dia gagal di Malaysia.

Hal yang tersisa tinggal di Pakistan dan Indonesia. Jaringan despot antara Trump, Cairo, Abu Dhabi dan Riyadh akan mensupport politikus sekuler anti gerakan Islam di kedua negara Islam terbesar ini..... Kita pun sedang menghadapinya tahun 2019 nanti.

(3 Ramadhan 1439)

__
Sumber: fb penulis