CATAT! INI FAKTA yang Akan RONTOKKAN Jokowi di 2019



[PORTAL-ISLAM.ID]  Kekuatan Joko Widodo di Pilpres 2019 akan melemah seiring dengan munculnya fakta-fakta terkait politik dan elektabilitas Jokowi.

Pengamat politik Tony Rosyid mengingatkan, selain gerakan #2019GantiPresiden yang semakin menguat, beberapa fakta yang muncul belakangan bisa melemahkan Istana dan Jokowi di Pemilu 2019.

"Fakta pertama, isu ekonomi. Rakyat merasakan hidup sulit. Setelah subsidi dicabuti, rakyat dikejar pajak, daya beli melemah, kehidupan dirasa makin susah. Ini membuat Istana dan Jokowi makin tersudut," beber Tony Rosyid.

Menurut Tony, fakta kedua, yang membuat Jokowi rontok adalah, banjirnya tenaga kasar dari China. Semakin dibantah, semakin jelas datanya. Semua orang ngomong buruh China. Bahkan, pihak imigrasi menemukan kampung China di hutan.

"Tak bisa ditutup-tutupi. Ternyata bukan hoax. Sudah pukuhan ribu buruh China didatangkan. Dan terus mengalir deras, karena teken kontrak sudah dibuat bersamaan dengan ketergantungan hutang negara ke China yang semakin besar," ungkap Tony.

Fakta ketiga, menurut Tony, adanya ketidakadilan masalah hukum. Yakni, penangkapan sejumlah ulama dan aktivis tanpa proses hukum maupun proses hukum yang tidak adil. Utamanya, kasus Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab yang dijerat 17 kasus dalam waktu yang super singkat.

"Menjelang Pilpres 2019, satu persatu kasus Habib Rizieq mulai di-SP3-kan. Ada apa? Publik makin curiga, kok hukum begitu rapuh? Tak bisa disalahkan jika publik menduga, ada permainan. Tepatnya, ada intervensi. Hukum tak lagi independen," tanya Tony.

Fakta keempat yang membuat Jokowi rontok, kata Tony, adalah janji kampanye Jokowi. Di mana ada  jejak digital terhadap 66 janji Jokowi. Satu persatu mulai diingat dan ditagih publik.

"Empat Fakta di atas yang terus menerus disuarakan dalam hashtag #2019GantiPresiden akan berpengaruh terhadap elektabilitas Jokowi. Jika elektabilitas Jokowi terus runtuh, maka secara otomatis mengancam empat pilar kekuasaan Istana. Empat pilar itu adalah partai koalisi, pemilik modal, media dan aparat hukum. Orang bilang oknum. Tepat sekali," pungkas Tony Rosyid.