PBB dan Yusril: Benteng Terakhir Umat Islam


[PORTAL-ISLAM.ID]  Setelah berjuang dalam sunyinya jalan pembela Islam dibidang politik, karena semua orang diam melihat kekuasaan mulai lupa diri, akibat hiruk pikuk tuduhan dan kriminalisasi, semua orang tidak berani melawan kezaliman, meskipun ketidakpastian hukum dan ketidakadilan semakin menampilkan diri dalam bentuk yang vulgar.

Saat itulah Yusril Ihza Mahendra dan Partai Bulan Bintang berdiri untuk melawan kedzaliman, memperjuangkan keadilan, menegakkah hukum, dan membela Islam secara konsisten tanpa abu-abu.

Yusril tampil dengan gayanya yang khas, tanpa rasa takut akan resiko, melawan keangkuhan kekuasaan, dengan argumentasi hukum yang jelas dan terang, dengan sikap yang konsisten, dengan keberanian yang tak pernah surut.

Adakah keberanian seperti itu dari para politisi, akademisi dan intelektual Islam seperti Yusril Ihza Mahendra?

Mungkin ada, tapi sedikit yang mau berjuang terus terang seperti itu. Semangatnya, keberaniannya dan harapannya akan peradaban politik indonesia yang baik, membuatnya semangat meskipun harus menghadapi kekuasaan yang besar. Pendiriannya tidak bisa digoyah oleh terpaan propaganda dan agitasi politik yang menyudutkan perjuangannya.

Kekuatannya dimedia sosial tidak seperti orang lain, karena ia tidak mencitrakan diri. Ia ikhlas berjuang meskipun sunyi dari riak tepuk tangan.

Yusril tidak memiliki tim cyber khusus seperti Politisi yang lain, ia tidak berjuang hanya sebatas memainkan issue, tapi berjuang dalam dunia nyata dengan gerakan nyata, tidak sebatas argumentasi dan opini, tapi fakta dan gerakan nyata, dirasakan oleh rakyat Indonesia.

Pengalamannya dalam pemerintahan tidak meninggalkan jejak yang buruk, mulai dari menulis pidato Presiden Soeharto hingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Menjadi menteri dalam tiga kabinet, dari Menteri Kehakiman dan HAM hingga Menteri Sekretaris Negara.

Ada gerakan yang ingin menghancurkan kredibilitasnya, namun karena ia melawan dengan kebenaran, ia memenangkan pertarungan itu, meskipun melawan kekuasaan negara. Kita pasti tahu kasus SISMIMBAKUM, yang menjadi jejak hukum seorang pakar hukum.

Idealisme terpatri dalam dirinya, mengakar nilai-nilai keagamaan, sehingga segala bentuk keburukan ditolaknya, ia benar-benar menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar dalam kehidupan bernegara.

Keinginan sederhana, agar ummat Islam menjadi bagian yang menentukan bagi jalannya negara. Hukum dijalankan dengan sebenar-benarnya, keadilan dilaksanakan dengan baik.

Baginya keadaban politik dan kemajuan politik, baik itu untuk ummat maupun untuk bangsa hanya bisa dilakukan dengan mengedepankan nilai transendental dan nilai kemanusiaan.

Bagi Yusril semua Itu hanya bisa terwujud apabila hukum dijadikan sebagai sarana untuk menyelesaikan persoalan dengan tujuan utamannya mencapai keadilan universal.

Cita-citanya terhadap Pembangunan Bangsa dan Negara, telah diwariskan secara baik oleh beberapa pahlawan nasional yang konsisten berjuang dalam garis perjuangan dan barisan ummat Islam.

Dalam Barisan ini ada M. Natsir, ada Sjafruddin Prawiranegara, ada Buya Hamka, ada Mohammad Roem, dan tokoh-tokoh Islam lainnya. Dan semangat dari sentuhan tokoh itulah yang mengilhami lahirnya partai yang didirikannya bersama-sama dengan tokoh lainnya setelah gerakan Reformasi bergulir, Sebagai pelanjut dari perjuangan Keluarga Besar Bulan Bintang.

Partai Bulan Bintang (PBB) adalah salah satu partai politik Indonesia yang berasaskan Islam. PBB merupakan reinkarnasi Masyumi. Masyumi sendiri adalah partai politik Islam di Masa awal kemerdekaan, dan dibubarkan oleh Soekarno tahun 1960. Masyumi sangat konsisten dalam memperjuangkan aspirasi ummat Islam diparlemen, tidak pernah mundur apabila meyakini perjuangannya itu kebenaran, meskipun resiko besar menghadangnya.

Sedangkan Partai Bulan Bintang didirikan pada 17 Juli 1998. PBB melanjutkan perjuangan Partai Masyumi, karena Yusril secara pribadi dididik oleh tokoh Masyumi, salah satunya, yaitu Mohammad Natsir.
Bahkan Pak Natsir mewariskan peniti emas kepada Yusril Ihza Mahendra yang diberikan oleh keluarga pak Natsir, yaitu anaknya Hj. Ida Natsir pada saat mukernas I PBB di Jakarta. Dari sanalah symbol bahwasanya Partai Bulan Bintang adalah partai penerus perjuangan Masyumi.

PBB Dengan mottonya “tegakkan keadilan dan kepastian hukum” dan “Bela Islam, Bela NKRI, Bela Rakyat” berjuang dalam membela umat melalui garis politik. Kata kunci perjuangan PBB tersebut sangat mewakili perasaan ummat Islam dan seluruh bangsa Indonesia saat ini.

Persoalan hukum dan persoalan keadilan, merupakan persoalan yang paling fundamental bagi bangsa Indonesia. Apabila Kepastian dan keadilan tidak dijalankan maka yang akan tercipta kekacauan dan anarkisme, dan itu mengancam persatuan dan keutuhan bangsa yang beragam ini.

Setiap orang yang tidak diperlakukan adil, akan berpotensi melakukan pemberontakan akibat frustasi. Maka jalan perjuangan PBB Membela Islam, Membela NKRI dan membela Rakyat, adalah bentuk perlawanan terhadap kedzaliman dan ketidakadilan untuk mempertahankan kedaulatan dan keutuhan bangsa.

Dengan konsisten di jalan perjuangannya itulah, maka ummat Islam mulai menyadari bahwa PBB merupakan benteng ummat Islam dibidang politik. Dan tidak hanya ummat Islam, tokoh-tokoh politik Islam mulai menyadari, dan mulai tertarik pada perjuangan Bulan Bintang.

Membanjirnya dukungan ke PBB merupakan bayaran tunai dari perjuangan Yusril dan PBB selama ini. Oleh sebab itu konsistensi, idealisme dan kebenaran pasti akan menang, meskipun kejahatan, kedzoliman dan kepongahan bergerak cepat.

Kebenaran pasti akan menang, dengan syarat bahwa kita harus bersatu dan berjuang bersama-sama. Maka benarlah kata Ali Bin Abu Thalib yang mengatakan, “kejahatan yang terorganisasi akan mengalah kebaikan yang tidak terorganisasi dengan baik”.

Tapi apabila kebenaran mengorganisasikan gerakannya maka akan dengan mudah mengalahkan kejahatan itu. Maka jalan yang paling baik adalah mengorganisasi perjuangan bersama umat Islam khusunya lewat jalan politik bersama Partai Bulan Bintang dan Yusril Ihza Mahendra, insya Allah Ummat Islam akan memenangkan pertarungan politik dengan mudah.

Penulis: Furqan Jurdi