Mereka yang Gentar Karena Tagar


[PORTAL-ISLAM.ID]  Suhajar Diantoro Staf Ahli Bidang Pemerintahan Kementerian Dalam Negeri [Kemendagri] meradang. Nada protes pun diapungkan, “gerakan #2019GantiPresiden sudah melanggar etika kampanye Pemilu”.

Sehari kemudian giliran Badan Pengawas Pemilu [Bawaslu] angkat bicara, “gerakan #2019GantiPresiden bukan merupakan bentuk kampanye hitam. Gerakan tersebut tetap boleh dilakukan hingga masa kampanye mendatang”. Mungkin sang Staf Ahli kini sedang tersipu malu atau berpikir keras sambil kejang-kejang menyusun kontra-pembenaran atas narasi Bawaslu tersebut.

Sebelumnya bahkan tagar #2019GantiPresiden direspon dalam sebuah pidato presiden, ‘masak kaos bisa sampai ganti presiden’. Maksud hati melawan tagar, sembako ditebar, touring makin gencar. Ciri-ciri reaksi yang kehilangan nalar.

Konsultan politik Greg Adams pernah bilang slogan politik atau ‘tagline’ sangat penting dan menentukan bagi kemenangan seorang calon presiden. Tentu saja ini pandangan seorang liberal dari partai Demokrat AS, yang meyakini bahwa presiden era modern harus menggunakan metode pemasaran politik tidak hanya untuk memenangkan pemilu, tetapi untuk menjadi sukses dan bertahan sebagai pemimpin setelah memasuki istana kepresidenan.

Riset, survey, polling, jajak pendapat, segmentasi, targeting, positioning, merupakan alat dan strategi pemasaran politik standar di era modern. Kontestan yang gagap memanfaatkan alat-alat tersebut, memunggungi-nya atau malah menampakkan reaksi berlebihan atas aksi-aksi oposisi, justru akan memperbesar peluang untuk dikalahkan. Erosi kemenangan bisa terjadi.

Bruce Newman dan Richard Perloff, menegaskan bahwa pesan politik harus tegas, gamblang, mudah diingat dan terang benderang. Seraya mengkoreksi teori ‘subliminal messages’ [Subliminal Messages adalah sebuah pesan tersembunyi yang disisipkan pada objek-objek atau media-media tertentu, pesan ini bertujuan untuk mempengaruhi pikiran bawah sadar audience]: ‘hampir tidak ada bukti bahwa ‘pesan subliminal’ mempengaruhi sikap politik dan perilaku pemilih.’

Akhirnya, kalian memang harus gentar karena tagar.

Sumber: garudayaksa