Keputusan Matang Prabowo di Pilpres 2019


Teka-teki apakah Ketua Umum Partai Gerindra akan maju menjadi capres mulai terjawab. Seperti kata Wakil Ketua Dewan Pembina Gerindra Hashim Djojohadikusumo, maju tidaknya Prabowo dalam pencapresan baru akan diputuskan setelah Pilkada.

Penjelasan yang hampir sama juga disampaikan mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo yang sempat bertemu dengan Prabowo. Menurutnya sebagai prajurit tidak ada kata ragu, bagi Prabowo. Jadi tidak benar, maju mundurnya deklarasi pencapresan, karena Prabowo ragu, apalagi bimbang. “Sampai sekarang Pak Prabowo memang belum memutuskan untuk nyapres.”

Soal deklarasi pencapresan Prabowo dalam beberapa pekan terakhir menjadi isu paling hot. 34 DPD Gerindra se-Indonesia telah mendesak Prabowo untuk melakukan deklarasi. Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon bahkan menyatakan awal April akan deklarasi.

Sejumlah nama juga telah disebut-sebut akan dipasangkan sebagai cawapres mendampingi Prabowo. Mereka antara lain Gatot Nurmantyo, Anies Baswedan, Anis Matta dan Ahmad Heryawan.

Namun isu itu menjadi mentah kembali dengan penjelasan Hashim. Apalagi Prabowo dalam kampanye pasangan Sudradjat-Ahmad Syaicu (Asyik) di Bandung beberapa hari lalu menyatakan “Menangkan dulu pasangan Asyik, baru (setelah itu) bicara Pilpres.”

Perbedaan pernyataan antara Prabowo dengan para pendukungnya bukan berarti ada perpecahan. Ini hanya masalah sudut pandang dan perbedaan fokus serta prioritas.

Bagi para pengurus Gerindra, apalagi yang menjadi caleg, keputusan Prabowo untuk maju kembali akan berdampak positif bagi elektabilitas partai. Mereka akan mudah mengkomunikasikannya kepada para konstituen. Dari sejumlah survei jelas terlihat korelasinya. Salah satu alasan utama memilih Gerindra karena mereka menginginkan Prabowo menjadi presiden. Prabowo adalah political endorser dan vote getter terbaik Gerindra.

Sebaliknya bagi Prabowo persoalannya tidak sesederhana itu. Kalkulasinya harus benar-benar matang. Dia tidak boleh salah mengambil keputusan. Bila salah, bisa sangat fatal.

Bila dia memutuskan maju, Pilpres 2019 akan menjadi kali ketiga bagi Prabowo. Pada dua pilpres sebelumnya (2009, 2014) dia kalah. Pada 2014 dia kalah melawan Jokowi.

Tentu Prabowo tidak menginginkan kekalahan untuk ketiga kalinya. Itu akan menjadi kekalahan yang sangat menyakitkan dan kenangan buruk di sisa usianya. Dia akan dikenang sebagai tokoh politik yang mencatatkan rekor kekalahan terbanyak. Padahal dilihat dari perjalanan karir politiknya, banyak catatan-catatan lain yang tak kalah cemerlangnya.

Tidak banyak jenderal yang berhasil membangun partai politik seperti Prabowo berhasil membesarkan Gerindra. Untuk bidang ini namanya bisa disejajarkan dengan SBY yang berhasil membangun Demokrat. Prabowo berpotensi mengungguli SBY karena dalam Pileg 2019 Gerindra diprediksi akan menjadi salah satu pemenang pemilu. Suara Gerindra di berbagai survei berkejaran dengan PDIP.

Dari sisi kemampuan melahirkan tokoh (king maker), indra penciuman politik dan tangan dingin Prabowo sudah terbukti setidaknya dua kali. Dan itu terbukti di dua palagan besar Pilkada DKI.

Pada Pilkada DKI 2012 Prabowo berhasil meyakinkan Ketua Umum PDIP Megawati untuk mengusung pasangan Jokowi-Ahok. Padahal keduanya merupakan tokoh yang relatif tidak dikenal dan harus berhadapan dengan incumbent Fauzi Bowo yang elektabilitas sangat kuat.

Pada Pilkada 2017 Prabowo kembali menunjukkan “kesaktiannya.” Gerindra bersama PKS mengusung Anies Baswedan-Sandiaga Uno menantang Ahok-Djarot. Padahal media dan lembaga survei sudah membuat framing Ahok tak mungkin dikalahkan.

Sejarah mencatat Jokowi-Ahok, dan Anies-Sandi menjadi pemenang. Andil
Prabowo sangat besar dan menentukan dalam proses lahirnya para figur yang kemudian ikut mewarnai peta politik nasional itu. Jokowi menjadi presiden, Ahok menjadi gubernur yang fenomenal sekaligus kontroversial, sementara Anies sudah mulai moncer dan digadang-gadang bisa menjadi penantang Jokowi.

Tiga syarat Hasim

Dengan background Prabowo yang diwarnai kalah dan menang, mana yang akan dipilih. Tetap maju sebagai capres dengan berbagai konsekuensinya, atau memilih peran sebagai King Maker?

Mari kita kalkulasi tiga syarat dari dari Hasim.

Pertama, memenangkan pilkada. Ada 17 pilkada yang diikuti Gerindra. Tiga diantaranya medan pertempuran penting yakni Jabar, Jateng, dan Jatim. Jumlah suara di tiga wilayah ini sangat besar dan bisa menjadi indikator peta pertarungan Pilpres 2019.

Dari tiga wilayah penting tersebut Gerindra menjadi pengusung utama di Jabar dan Jateng. Di Jabar Gerindra mengusung pasangan Sudrajat-Syaichu. Dari beberapa survei elekbilitasnya masih sangat rendah dan berada di urutan ketiga di bawah Ridwan-UU dan Deddy-Dedi.

Di Jateng Gerindra mengusung pasangan Sudirman Said- Ida Fauziah. Elektabilitasnya juga masih kalah dibanding pasangan Ganjar Pranowo-Taj Yasin.

Untuk memenangkan dua wilayah penting ini Prabowo harus kerja keras, all out dan at all costs. Belum lagi 14 wilayah lainnya termasuk Sulsel dan Sumut.

Kedua, kesehatan Prabowo. Isu sensitif ini sungguh menarik mengapa sampai harus dimunculkan oleh Hasim. Prabowo lahir 17 Oktober 1951. Tahun ini usianya akan menginjak 67 tahun. Faktor usia dan kesehatan ini sangat erat hubungannya dengan beban berat sebagai presiden dan perubahan peta politik global.

Melihat trend para pemimpin dunia yang baru terpilih –dengan mengecualikan Trump– semuanya berusia muda.

Usianya rata-rata antara 40-50 tahun, bahkan beberapa diantaranya di bawah 40 tahun. PM Kanada Justine Trudeau ketika terpilih berusia 44 tahun. Presiden Prancis Emmanuel Macron (39), PM New Zealand Jacinda Arden (37) dan Kanselir Austria Sebastian Kurz malah masih berusia 31 tahun.

Ketiga, faktor logistik. Dengan mengangkat isu logistik Hasim bersikap realistis. Dia punya pengalaman mengelola pendanaan pada Pilpres 2014 ketika Prabowo berpasangan dengan Hatta. Jadi dia sangat tahu berapa dana yang dibutuhkan, dari mana dana berasal, bagaimana memperolehnya, dan bagaimana penggunaannya.

Faktor logistik ini sangat erat hubungannya dengan elektabilitas kandidat. Melihat elektabilitas Prabowo yang masih rendah dan kalah jauh dari Jokowi hampir dipastikan akan sulit melakukan penghimpunan dana.

Para “investor” politik yang terdiri dari para pengusaha besar, para taipan, tidak akan menaruh dananya pada kandidat yang tidak berpeluang menang.Jargon yang berlaku “money always follow the prospect.”

Secara bisnis dan politik mendukung kandidat yang bakal kalah, sangat tidak menguntungkan. Modal tidak akan kembali, return on investment rendah. Secara politik konskuensinya lebih berat lagi. Menjadi musuh penguasa. Sebuah situasi yang tidak favourable dan pasti sangat dihindari para pengusaha.

Dengan menyatakan tiga syarat di atas, dan beratnya peluang untuk terpenuhi, maka sebenarnya Hashim sudah menyampaikan sebuah isyarat yang sangat kuat. Namun seperti kata Hasim, dalam politik itu anything is possible. Tidak ada yang tidak mungkin.

31/3/18

(Hersubeno Arief)