Kebencian Sukmawati dan Islamnya Umar bin Khaththab


[PORTAL-ISLAM.ID]  Puisi Sukmawati Soekarnoputri yang dibacakan di ajang Indonesia Fashion Week 2018 dan beredar viral di dunia maya, sangat menyita perhatian publik. Diantara bait pusinya ialah: “Aku tak tahu Syariat Islam, Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah, Lebih cantik dari cadar dirimu…”

Tidak tanggung-tanggung, Sukmawati bahkan mengulang kalimat ”Aku tak tahu Syariat Islam” dalam bait selanjutnya, ”Aku tak tahu syariat Islam, Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok, Lebih merdu dari alunan azan mu…”(Republika online, Selasa, 3 April 2018).

Puisi tersebut menurut paus sastra Lampung Isbedy Stiawan ZS sebagai gamblang sehingga tak perlu tafsir yang multidimensi. “Ya seperti satir yang mencemooh kukira”. (lampung.rilis.id, 3 April 2018).

Mengulang kalimat tentu bermaksud –atau setidaknya dapat dimaknai –untuk menegaskan ungkapan yang dianggap penting. Kalimat “Aku tak tahu syariat Islam” menegaskan tentang adanya jarak bahkan dinding pemisah antara Sukmawati dengan syariat Islam. Dan yang tidak boleh kita lakukan dalam hidup ini ialah membandingkan sesuatu dengan sesuatu yang tidak kita ketahui (ilmunya).

Jika Sukmawati seorang Muslimah, maka hendaklah ia bertobat. Jika non muslim, maka hendaknya lebih bersikap toleran. Namun, jika bukan keduanya, maka engkau (Sukmawati) dan kami bahkan kita adalah anak Bangsa Indonesia yang ber-Pancasila dimana kita semua adalah pewaris perjuangan para pendiri Bangsa ini yang notabene satu di antaranya ialah Soekarno yang ia adalah orangtuamu.

Soekarno dengan pengalaman spiritual yang baik, tergambar dari kedekatannya dengan para ulama dan perhatiannya tehadap dunia Islam. Seharusnya, kita semua dan tentu saja termasuk kalian, para putra putrinya, berusaha meneladaninya.

Tidak ada sepenggal makna dari untaian kebenaran universal milik Bangsa Indonesia yang diwariskan oleh para Pendiri Bangsa kepada kita ialah Pancasila yang dapat kalian jadikan argumentasi pembenaran membuat sebuah karya untuk menebar kebencian dan permusuhan.

Mengingkari syariat Islam sejatinya sama dengan mengingkari keberadaan kita sebagai makhluk ciptaan-Nya. Islam diturunkan untuk manusia satu paket dengan diciptakannya nenek moyang kita Nabi Adam AS dimana Baginda Rasulullah Muhammad SAW adalah penutup para Nabi untuk menyempurnakan rangkaian risalah Islam yang diturunkan kepada para nabi-Nya.

Dan risalah Islam yang disampaikan melalui Baginda Rasulullah SAW adalah edisi terahir yang paripurna dan telah mencukupi bagi kita sekalian.(lihat QS.5.al-Maidah:3).

Islam bukanlah seperangkat pengetahuan yang hanya sekedar untuk diketahui. Islam adalah sebuah sistem tata kehidupan yang komprehenship dan integral bagi ummat manusia bahkan seluruh tata kosmos kehidupan.

Sebagai sebuah sistem maka akan dapat dirasakan dan bermanfaat ketika ia dijadikan pedoman dan dilaksanakan (applied) dalam kehidupan sehari-hari. Jika seseorang berhenti sampai kepada mengetahui Islam saja maka dia adalah sebatas islamolog.

Siapa saja yang bersungguh-sungguh menjemput hidayah Insya Allah akan mendapatkannya. Umar bin Khaththab sebelum memeluk Islam dengan amarah yang menggelegak dan menghunus pedang mencari adik perempuan dan iparnya yang dikabarkan telah memeluk Islam.

Dikisahkan bahwa sang adik perempuan yang berlumuran darah karena ditampar Umar tersebut menasehati agar Umar yang nampaknya tertarik dengan bacaan Alquran untuk mensucikan diri dengan mandi baru diperbolehkan membaca mushaf Alquran (Surat Thaha).

Pada akhirnya Umar diberikan hidayah oleh Allah SWT dan minta dipertemukan dengan Rasulullah SAW serta ber-Islam. Sebagaimana kita ketahui Sahabat Umar bin Khaththab ra menjadi satu diantara para sahabat Rasulullah SAW yang sangat disegani dan menjadi khalifah yang tegas, adil, dan bijaksana.

Saya nukilkan kisah ini tidak ada pretensi apapun kecuali ingin menceritakan sebuah perjalanan seorang hamba menjemput dan diberikan hidayah yang sungguh-sungguh hanya merupakan otoritas Allah SWT (lihat QS.28.Al-Qasas:56).

Bahwa Sukmawati telah secara terbuka meminta maaf, tentu sebagai sesama kita harus memaafkan beliau. Namun, sebagai warga negara seyogyanya beliau juga taat dan mempertanggungjawabkan perbuatannya secara hukum.

Karena sangat boleh jadi jika beliau pada ahirnya diputus bersalah dan menjalani hukuman justru menjadi asbab hidayah bagi beliau. Tidak sedikit orang yang justru bertemu Tuhan dan memperoleh pencapaian spiritualnya di balik jeruji penjara tentu bagi mereka yang mampu memetik hikmah.

Kita tidak tahu seperti apa ending dari sebuah perjalanan kehidupan kita, yang pasti baginda Rasulullah SAW mengajarkan kepada umatnya agar bermohon supaya happy ending (husnul khatimah) memperoleh kebaikan dan kebahagiaan dunia dan ahirat.

Di antara doa yang perlu kita amalkan ialah “(Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam Keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.” (QS.12 Yusuf:101).

Dengan demikian membangun komunitas jejaring bersama orang-orang yang shalih untuk menguatkan iman Islam kita menjadi sangat penting. Namun demikian, berinteraksi dengan sesama manusia apapun latarbelakangnya ialah merupakan perintah suci dari Allah SWT Tuhan Yang Maha Kuasa (lihat QS. 49. Al-Hujurat:13). Wallahu A’lam bish-shawab.

Penulis: Salumun, Mahasiswa Program Doktor UIN Raden Intan Lampung, Dosen STIT Pringsewu.