JELAS dan TRANSPARAN! Rakyat Saweran untuk Sudirman-Ida


[PORTAL-ISLAM.ID]  Tikus-tikus Pilkada berpesta. Menggerogoti kandidat. Cetak stiker, pasang baliho, sogok preman kabupaten, sewa mobil, bayar redaktur, pasang iklan, bikin website, rekrut buzzer nasbung, produksi meme dan rilis fitnah.

Kandidat harus ngutang. Demokrasi big budget. Pemilu high cost. Terpaksa deal dengan bohir, bandar, konglomerat dan taipan. Dibayar dengan konsesi proyek, bila menang.

Demokrasi ini demokrasinya borjuis. Bourgeois democracy is A government that serves in the interests of the bourgeois class. Orang miskin, buruh, tani, nelayan, wong cilik dan marhaen hanya menonton di pinggiran.

Kandidat yang diongkosin konglomerat mengakomodir kepentingan yang bayar biaya kampanye.

Most of states fundamentally represent the interests of one class over others. Kepenting kaum "the haves". Karena itu, Vladimir Lenin menyebut 'bourgeois democracy' sebagai 'bourgeois dictatorship' atau diktatorship orang-orang kaya.

Sudirman Said dan Ida Fauziyah beda. Mereka tak mau ngutang kepada bandar. Gerakan donasi dan situs http://www.saweranjateng.id/index.php dirilis.

Rakyat terbanyak bisa berpartisipasi. Mereka menjadi stake-holder pemilu. Jika Sudirman-Ida menang, maka itu kemenangan rakyat.

Gerakan Saweran ini bukan metode baru. Ahok pernah mengadopsi strategi fund raising Obama di tahun 2008.

Obama mengkapitalisasi 13 juta mailing list followernya. Dengan bangga, Obama berseru, "The vast majority of the money I got was from small donors all across the country."

“Obama Raised Half a Billion Online,” kata Jose Antonio Vargas, Washington Post, 11/20/2008.

Obama menang dengan support dari 34% donasi di bawah $200, 23% menyumbang antara $201-$999 dan saweran 42% dari mereka yang memberi di atas $1000.

Ahok tumbang karena dia hanya lip-service. Ngomong doang. Publik tau dari mana sumber dananya mengalir.

Penulis: Zeng Wei Jian