FENOMENA Semarak #2019GantiPresiden, Rakyat Secara Swadaya-Swadana Sudah Memulai "Pesta Rakyat"


Oleh: Iramawati Oemar

Ahad, 29 April 2018, aplikasi WhatsApp saya kebanjiran kiriman foto dan video dari beberapa grup WA. Isinya potret kondisi CFD di beberapa kota, terutama Jakarta, Surabaya, Medan dan Bandung. Saya hanya bisa ‘mupeng’ melihat aktivitas teman-teman. Saya terpaksa gagal ikut CFD di Bunderan HI meski semua sudah direncanakan dengan matang. Karena Ibu saya sakit, Sabtu malam sepulang dari Hambalang saya langsung pulang ke Cilegon. Untunglah hotel yang sudah dipesan bersama teman, ada yang menggantikan. Alhasil, Ahad pagi saya hanya bisa ikut menikmati kemeriahan itu lewat WAG.

Salah satu teman saya yang ikut jadi “seksi sibuk” di CFD Surabaya, kemarin berhasil menjual 1.000 lembar kaos plus 300 topi berhastag #2019GantiPresiden. Tentu saja yang berjualan kaos di arena CFD sekitar Taman Bungkul Surabaya bukan hanya dia saja. Ketika mengambil pesanan kaosnya, teman saya itu bertemu dengan temannya yang juga mengambil pesanan 500 lembar kaos.

Bayangkan, di hari H saja masih ribuan lembar kaos bisa terjual, artinya yang membeli adalah orang-orang yang hari itu hadir di lokasi CFD namun belum memiliki kaos. Padahal, yang sudah hadir dan memakai kaos berhastag sejak dari rumah, jumlahnya juga sudah ribuan orang. Bisa dibayangkan betapa besarnya animo masyarakat untuk membeli kaos itu. Ini sangat luar biasa, mengingat kemarin tergolong “tanggal tua” namun masyarakat rela merogoh kocek demi selembar kaos seharga 50 – 80 ribu rupiah.

Di Jakarta juga begitu, cerita teman saya yang hadir disana. Para penjual kaos kebanjiran pembeli. Kaos yang dijual rerata seharga 50 – 55 ribu (yang lengan pendek). Warnanya macam-macam, ada putih, hitam, merah, biru, abu-abu, dll. Varian tulisannya pun beragam, meski tentu saja tulisan intinya #2019GantiPresiden. Modelnya pun beraneka, ada yang sablonan tulisan sengaja diletakkan di bagian bawah, untuk mengakomodir para perempuan berhijab lebar yang tentunya tulisan akan tertutup hijab jika diletakkan di dada. Bahkan, si pedagang kaos rela mentraktir/membayari bubur ayam yang dibeli teman saya. Mungkin dia ingin berbagi kebahagiaan atas laris-manisnya dagangan dia pagi itu.


Fenomena maraknya pedagang kaos berhastag #2019GantiPresiden sebenarnya sudah sejak 2 pekan terakhir. Hari Jum’at pekan lalu, saya mendapat kiriman foto-foto dari pelataran sejumlah masjid di berbagai kota. Biasanya menjelang dan sesudah shoat Jum’at sudah jamak ada “pasar kaget” berjualan aneka produk busana. Nah, Jum’at kemarin, komoditas kaos berhastag itu mendominasi dagangan para pedagang kaki lima.

Sungguh mengharukan fenomena ini. Sebuah gerakan yang benar-benar dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.

Rocky Gerung menyebut fenomen maraknya #2019GantiPresiden ini sebagai “public sphere”: ruang argumentasi publik.


Dari rakyat lah ide gerakan tersebut, lalu dibuat dan diramaikan oleh rakyat, menghidupkan roda perekonomian wong cilik, menggeliatkan sentra-sentra usaha kaos dan sablon rumahan, memicu kreatifitas ide untuk berlomba membuat desain dan paduan warna menarik. Ujungnya, semua itu juga untuk dibeli dan dipakai oleh rakyat.

Beraneka-ragamnya kaos, bahkan di satu kota saja bisa bermacam-macam dari berbagai kelompok, menunjukkan bahwa gerakan #2019GantiPresiden adalah gerakan yang SPONTAN dari rakyat, melibatkan banyak elemen masyarakat. BUKAN kaos yang dipesan dalam jumlah besar sekaligus, melalui tender milyaran rupiah pada satu atau segelintir pengusaha tertentu yang memiliki kedekatan dengan pihak pemesan. Masyarakat membeli langsung di lokasi CFD dari pedagang kaki lima, atau secara berkelompok memesan pada usaha kaos sablon, menunjukkan bahwa memang TIDAK ADA DROPPING kaos bagi peserta. Yang mau datang silakan datang, bawa kaos sendiri, kalau belum punya kaos ya silakan beli sendiri di lokasi. Ini benar-benar alamiah, tidak ada pengerahan massa yang diangkut/ didatangkan dengan bis-bis, diberi kupon pembagian sembako 1 macam saja, dijanjikan sekotak nasi atau diiming-imingi uang lelah.

Lihatlah ekspresi wajah mereka yang hadir, mereka bangga mengenakan kaosnya. Bahkan di CFD Bandung aksi ini pakai marching band dengan suasana sangat ceria.

[video - CFD Bandung]

[video - CFD Jakarta]

Berbeda dengan ekspresi wajah pasutri yang sempat viral tempo hari, sambil menenteng tas goody bag berisi sembako, kaos 2 periode yang mereka kenakan diluar (karena sesungguhnya mereka sudah mengenakan baju milik mereka sendiri) terasa tak menyatu dengan dengan diri mereka, sama sekali tak tercermin dalam senyum di raut wajahnya. Atau sekelompok anak-anak – yang sebagian besar dari mereka sekilas wajahnya mirip anak-anak jalanan – yang diberi kaos “Dia sibuk kerja”, wajah mereka memang menyiratkan tawa, tapi itu tawa kesenangan karena mendapat kaos gratisan dan nasi kotak setelahnya.

Hari Ahad 29 April kemarin gerakan #2019GantiPresiden membumi serentak di beberapa kota. Tanpa konsumsi, tanpa uang transportasi, bahkan tanpa kaos gratisan. Semua modal sendiri. Bahkan beredar viral foto pasutri dengan kelima anak mereka yang masih kecil, semuanya seragam mengenakan kaos berhastag. Di Surabaya, disediakan 3 lembar banner masing-masing sepanjang 25 meter dengan lebar 1 meter (25 m x 1 m) untuk tempat membubuhkan tanda tangan bagi siapapun yang mendukung gerakan itu. Luar biasa, peserta CFD antri menandatangani, hingga 3 lembar banner itu penuh terisi tanda tangan warga Surabaya.

Rupanya masyarakat sudah menyampaikan SUARA HATI mereka, aspirasi mereka, yang ingin mengganti Presiden incumbent dengan presiden baru melalui ajang Pilpres 2019 setahun yang akan datang. Hari pemungutan suara memang masih 352 hari lagi. Namun mereka yang akan memberikan hak suara di bilik-bilik suara sekitar 50 pekan yang akan datang, sudah jelas tidak merahasiakan suaranya : mereka menginginkan adanya pergantian kepemimpinan nasional! Mereka tak mau melanjutkan kepemimpinan nasional yang sekarang menjadi 2 periode. Inilah akibat janji-janji yang terlalu mudah diingkari.

Mereka yang sinis mengatakan: “percuma saja teriak ganti presiden, toh tidak ada calonnya”. Ah, itu sih soal gampang! Kalau sekarang saja di saat belum ada pesaing, belum ada calon definitif, rakyat sudah berani terang-terangan menyuarakan kehendaknya untuk mengganti Presiden, nanti kalau calon definitif sudah ada, mereka akan dengan mudah menentukan dukungan.

Polling yang diadakan Google tempo hari menunjukkan 87% publik ingin mengganti Presiden. Logikanya: saat ini disaat petahana masih tidak ada pesaing, sudah 87% yang menyuarakan ingin ganti presiden. Mengacu pada hasil polling Google, jika seandainya saja hari ini dilakukan simulasi Pilpres, dengan pilihan Presiden petahana VS kotak kosong (karena belum ada capres definitif yang disahkan KPU), maka kemungkinan besar 87% akan memilih kotak kosong. Hastag dan kaos itu hanyalah simbol semata. Yang mengejawantah adalah gerakannya. Kaos ada karena ada yang membuat, dibuat juga karena ada yang pesan, yang pesan juga niatnya untuk dipakai. Lalu kenapa mereka merasa perlu memakai kaos berhastag #2019GantiPresiden?! Karena mereka ingin MENYAMPAIKAN SUARANYA SEDARI SEKARANG!

Suara itu 50 pekan lagi akan mengejawantah, ribuan orang yang ikut CFD, yang tidak ikut CFD, yang ikut polling Google, yang tidak ikut polling, yang suka menulis di medsos, yang cuma ikutan like, comment dan share, maupun yang tak punya akun medsos, berbondong-bondong mereka akan datang ke TPS.

352 hari lagi mereka akan menerima surat suara, membukanya di bilik suara dan itulah saatnya gerakan #2019GantiPresiden akan benar-benar bermuara pada KENYATAAN.

Jadi, masih mau bilang “masak kaos bisa ganti presiden?!”

[Video - Bule pun ikut swadaya beli dengan kaos #2019GantiPresiden]