Dulu Memperalat "WONG CILIK", Kini Memperalat "BOCAH CILIK"


by: Iramawati Oemar*

"WONG CILIK" dimaknai sebagai "orang miskin, masyarakat kelas bawah yang secara ekonomi tergolong kurang mampu".

Sedangkan "BOCAH CILIK" arti harfiahnya "anak kecil" atau anak-anak, kelompok usia belum dewasa.

Nah, jahatnya syahwat politik ketika ada kelompok yang punya agenda politik terselubung, namun karena jiwa pengecutnya, mereka selalu memperalat pihak lain.

Dulu, "wong cilik" yang diperalat, dimanfaatkan, dimobilisasi untuk berdemo, hanya dengan imbalan nasi bungkus atau nasi kotak plus uang pengganti lelah yang tak seberapa. Angkot atau metro mini kadang sudah disediakan dari titik pemberangkatan, tapi kadang pula tidak dijamin akan diantar pulang.

Demo menggunakan wong cilik yang sebenarnya tidak paham issu apa yang diusung, sudah kerap kali kita lihat. Banyak tertangkap kamera setelahnya rebutan nasi bungkus atau nasi kotak, ada juga pembagian amplop sambil diabsen, pulang bawa sekardus mie instan sebagai bonus. Itu bagi yang beruntung. Yang malang, kadang uang lelah yang dijanjikan dipotong oleh koordinator.

Ya, kita sudah paham lah kelompok mana yang biasa memanfaatkan dan memperalat WONG CILIK untuk berdemo membawa issu yang sudah mereka siapkan lewat spanduk dan poster yang tinggal dibawa.

Kemarin, konon katanya sekelompok mahasiswa, aliansi mahasiswa, berdemo di Balaikota DKI, memprotes sejumlah kebijakan gubernur dan wakil gubernur DKI. Mereka menagih janji kampanye Anies-Sandi. Sejumlah spanduk dan poster print out sudah disiapkan. Bahkan boneka karton ditempel wajah Anies pun sudah disiapkan untuk dibakar.

Tapi benarkah mereka MAHASISWA?! Mahasiswa dari perguruan tinggi mana?! Mahasiswa itu sangat bangga menunjukkan identitas kampusnya. Jangankan berdemo yang terkesan heroik, hadir di acara talk show TV saja mereka selalu pakai jaket almamaternya.

Nah, yang berdemo di Balaikota DKI kemarin tidak tampak barisan berjaket almamater.

Sebaliknya justru wajah-wajah culun anak abege (ABG) yang tanpa ekspresi. Meski bawa tulisan di poster dan spanduk serta aksi bakar boneka yang seharusnya mencerminkan amarah mereka, nyatanya wajah-wajah mereka tetap datar tanpa ekspresi.

Nah lho!!!

Siapa yang MEMPERALAT anak-anak ABG ini?! Semoga saja mereka bukan anak jalanan. Setahu saya memang anak SMA baru selesai UN seminggu lalu dan minggu ini mereka bisa libur sejenak, tak ada lagi pelajaran. Begitu pula anak SMP, sebagian mereka libur karena kakak kelasnya sedang UN.

LICIK sekali yang punya ide memanfaatkan mereka untuk berdemo di Balaikota dengan bayaran sekedarnya. Anak-anak ABG itu pikirannya diracuni kebencian, diajari memaki dan menghujat, membakar boneka wajah orang, padahal mereka TIDAK TAHU apa yang mereka suarakan.

Ini BIADAB!!!

Ya, tidak tahu adab, tidak beradab.

Silakan kaum kalah pilkada DKI yang menolak move on, anda boleh saja membenci Anies-Sandi sampai ke ubun-ubun.

Anda sah-sah saja mengawasi kinerja gubernur dan wakilnya, bahkan mengkritisi pun boleh. Tidak puas dan mau berdemo? Silakan!! Tapi be gentleman, please!!!

Jangan kayak BANCI kaleng. Menyuruh anak-anak tak paham politik untuk berdemo.
Ini bukan saja pelanggaran Undang-undang soal demo, tapi ini KELICIKAN syahwat politik dengan MENGORBANKAN ANAK-ANAK!!!

Sengaja saya capture judul berita dari media mainstream Detik, juga ada 2 foto yang saya ambil dari berita tersebut (ada watermark detik pada foto), untuk menunjukkan bahwa ini bukan hoax.

Agar lebih lengkap, saya sajikan foto-foto jepretan sahabat saya Uni Maya Amhar yang kemarin kebetulan berada di Balaikota.

Jepretan emak-emak memang tak sebagus juru foto profesional atau kameraman media. Tapi kelebihannya, justru bisa memotret dari jarak dekat, membaur bersama pendemo, men-shoot wajah-wajah polos mereka.

Hai, kamu, iya kamu, Bong200 yang kemarin sudah sorak-sorak bergembira karena Anies didemo dan bonekanya dibakar, kayak begini yang kalian banggakan?!

Kalian senang karena mengira yang mendemo Anies adalah para pemilih Anies. Kayaknya kalian kudu kecewa, sebab anak-anak ini tahun lalu saya yakin belum punya hak pilih. Bahkan mungkin tahun depan pun belum bisa memilih.

Jadi ya manfaatin aja buat demo, siapa tahu "ongkosnya" murah meriah.

Kami hanya bisa mengelus dada, astaghfirullah... TEGANYA YANG MEMPERALAT ANAK-ANAK REMAJA!

__
*Sumber: dari fb penulis
Link: https://www.facebook.com/Iramawati.Oemar/posts/10214217822832524