Blow Up Media "Cadar dan Anjing" (PERANG PEMIKIRAN/PRODUK UNTUK MENDISTORSI ISLAM)


Oleh: Dedy Dewa Wahyudi*

(PERANG PEMIKIRAN) PRODUK UNTUK MENDISTORSI ISLAM

Sebuah produk harus diciptakan, sebagai sebuah jalan untuk mendistorsi (menghancurkan) produk original dan ini berlaku sebagai program atau agenda.

Sudah banyak program atau agenda untuk mendistorsi pandangan serta ajaran Islam.

Dari program meliberalisasi yang berujung pada Ghozwul Fikr (perang pemikiran) hingga pada agenda tataran mendistorsi Aqidah dengan memberikan ajaran lain untuk dikondisikan.

Sebuah produk terkadang diciptakan karena kebutuhan persaingan, untuk menghancurkan persepsi tentang Produk Original (ORI).

Maka sering ada produk aspal atau KW, yang ada dan sengaja dihadirkan untuk membuat bingung para pemakai produk ORI.

Islam adalah produk original atau asli, sudah dalam sejarah peradaban banyak pihak mencoba membenturkan dengan produk-produk pemikiran aspal atau KW sebagai sebuah perang pemikiran.

Bagi sebagian umat yang masih baru belajar tentang keislaman, hal-hal yang ditunjukkan lewat produk aspal atau KW bisa berbahaya bagi pemikiran.

Karena produk aspal atau KW mencoba memberikan alternatif pola pemikiran Islam terbaru versi maunya barat atau kaum liberal.

Disaat itulah produk KW atau aspal memiliki peran sebagai penghancur (mendistorsi) ajaran original.

Ini biasa dilakukan dalam sebuah perang pemikiran, mencoba mendistorsi produk original dengan menghadirkan wajah produk aspal atau KW versi yang diinginkan kaum barat atau liberal.

Dengan tujuan, membangun ajaran atau versi yang dikondisikan sesuai keinginan pihak tertentu.

Apa yang ditunjukkan oleh wanita bercadar dengan kebiasaannya memelihara anjing bisa menjadi contoh pola perang pemikiran dengan menghadirkan produk aspal atau KW sebagai opsi alternatif pemikiran tentang ajaran Islam.

Didalam ajaran Islam, mengenai larangan memelihara anjing terdapat dalam hadits dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam, beliau bersabda:

مَنِ اتَّخَذَ كَلْبًا إِلاَّ كَلْبَ مَاشِيَةٍ أَوْ صَيْدٍ أَوْ زَرْعٍ انْتَقَصَ مِنْ أَجْرِهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطٌ

“Barangsiapa memanfaatkan anjing selain anjing untuk menjaga hewan ternak, anjing (pintar) untuk berburu, atau anjing yang disuruh menjaga tanaman, maka setiap hari pahalanya akan berkurang sebesar satu qiroth” (HR. Muslim no. 1575). Kata Ath Thibiy, ukuran qiroth adalah semisal gunung Uhud (Fathul Bari, 3/149)

Sudah sangat jelas dan terang benderang, karena ajaran Islam lengkap dan sempurna.

Lalu, tiba-tiba masyarakat dikejutkan dengan pemberitaan yang cukup massif dan sistematis, di-blow up oleh media hingga menjadi viral di medsos tentang kehidupan wanita bercadar yang biasa memungut anjing-anjing gelandangan.

Dalam sebuah konteks perang pemikiran, hal ini adalah sebuah taktik penggiringan atau membangun pemikiran alternatif terbaru kepada umat Islam.

Bahwa ada pesan dibalik object dan subjek yaitu anjing dan wanita bercadar mewakili Islam.

Mendistorsi secara diam-diam ajaran Islam tentang hukumnya memelihara anjing, dan menggantikan dengan pola pikir yang sesuai versi yang dikondisikan melalui subject nya wanita bercadar.

Apa yang dicontohkan dan dipertontonkan, tak lebih dari sebuah agenda 'cuci otak' dengan tujuan melawan pola ajaran yang asli atau original.

Dan bagi sebagian umat yang kurang paham mengenai hal ini, tentu menjadi pola pemikiran baru dan bisa dinilai sebuah ajaran yang bisa dipegang sebagai acuan.

Luar biasa efek yang ditimbulkan, dan media kembali menjadi senjata yang sempurna didalam perang pemikiran.

Semua pasti ada agenda dan tujuannya, untuk apa? Meliberalisasi pola pikir dan ajaran umat Islam.

Yang utama adalah bagaimana umat Islam siap menghadapi perang pemikiran yang dikampanyekan oleh media pro barat dan liberal.

Karena program dan agenda dengan menciptakan produk-produk KW dan aspal akan terus dibuat dan dikampanyekan media cs sebagai sebuah solusi mendistorsi pola pikir umat.

Bersiaplah wahai umat Islam!

(Sumber: dari fb penulis)

__
NB: Produk-produk seperti ini akan terus diproduksi dan diblowup. Dulu AFI "Plagiat", namun berkat sikap kritis Umat Islam di medsos, mereka GAGAL.