[Bagian Tiga] Serangan AS ke Suriah: Manuver Turki dan Neo-Ottomanisme


Bagian Pertama
Bagian Kedua


[Tulisan Ketiga]
Serangan AS ke Suriah:
Manuver Turki dan Neo-Ottomanisme

Pada 2016, sempat terjadi kekisruhan antara Turki dengan Rusia. Disaat bersamaan, Turki menyatakan bahwa meski ia anggota NATO, Turki akan mendahulukan kepentingan nasionalnya terlebih dahulu. Turki menyadari bahwa posisinya riskan, ditambah dengan kenyataan bahwa Turki terjepit diantara dua superpower dunia. Karena itulah, dalam menolong revolusi rakyat Suriah, Turki tidak mungkin menghantam langsung pihak-pihak kontra-revolusi dengan mengirimkan militernya begitu saja. Karena itulah, Turki dibawah Erdogan memutuskan untuk bermain cantik.

Diawal 2016, sempat bergaung ide akan Partition of Syria, dimana Suriah akan dibagi-bagi atas beberapa negara dengan dalih “perdamaian”. Meski Rusia yang melaungkan ide ini, diduga kuat AS juga bermain, karena banyak kolom opini dan “expert” di media AS yang menyarankan hal serupa. Namun, Turki menolaknya.

Lalu bagaimana Erdogan “bermain”? Erdogan paham bahwa terlepas dari motif ekonomi (migas dkk), Iran juga memiliki motif religi. Iran meyakini bahwa pasca sukses bercokol di Iraq, maka Suriah adalah sasaran selanjutnya. Bila gagal men-Syiah-kan rakyatnya, setidaknya memanfaatkan Suriah untuk ekspansi Syiah. Apalagi, terlepas dari wilayah Suriah yang cukup strategis, dalam sejarahnya Suriah (dulu bagian wilayah Syam) memiliki bobot signifikan di dunia Islam. Kesadaran akan hal ini terlihat dari berbagai pidato para Ayatullah dan menteri Iran, yang menegaskan bahwa keutuhan wilayah Suriah adalah harga mati bagi mereka.

Hal inilah yang dimainkan Erdogan; ia dulu mengirimkan Menlu Mevlut Cavusoglu ke Iran untuk mencari kesepahaman mengenai keharusan Suriah tetap satu wilayah. Meski Iran berseberangan dengan Turki, namun mereka sepaham mengenai hal ini. Iran pun bersikukuh dihadapan Rusia bahwa Suriah dapat mereka menangkan bersama dan karenanya, tak boleh dibagi-bagi. Dari sisi Turki, Erdogan bersikukuh pada sekutu NATO-nya bahwa perpecahan Suriah akan membawa instabilitas di Anatolia Tenggara (Kurdistan Turki) dan mengancam keamanan nasional Turki, juga ia sering mengatakan bahwa bangsa-bangsa beradab memiliki kewajiban moral untuk mengakhiri penderitaan rakyat Suriah (mendepak Assad). Hal ini, dan kegagalan kudeta pada 2016, kemungkinan mengakhiri makar tersebut.

Setelahnya, didalam bayang-bayang kudeta, Erdogan kembali menegaskan bahwa keamanan nasional Turki terancam dengan keberadaan komunis Kurdi di perbatasan Turki, tepatnya daerah Jarablus.

Sebelum menerjunkan pasukan, Turki mengatakan pada Rusia bahwa wilayah Jarablus adalah wilayah Kurdi yang dibeking AS dan karenanya, operasi militer Turki disana tak akan mengancam kepentingan Rusia.

Pada AS, Erdogan menyebut bahwa sebagai sesama sekutu NATO, mereka seharusnya tidak menghalangi Turki dari melindungi wilayah perbatasannya.

Penguasaan Turki atas Jarablus menjadi palu pertama yang menghantam rencana pembagian Suriah.

Pada awal 2018, hal sebaliknya dilakukan Turki. Turki mengeskploitasi kepercayaan diri Rusia dkk bahwa mereka akan menang dengan menyebut bahwa operasi yang akan mereka lakukan di area Afrin merupakan hak Turki membela diri, juga ia menyebut pada Putin bahwa penguasaan Turki pada wilayah Afrin akan memperlemah posisi AS dkk di utara Suriah.

Waktu silih berganti, kepercayaan diri kelompok Rusia dkk itu membuat Assad lengah dan merasa ia dapat melakukan apapun pada rakyat Suriah, termasuk mengebom dengan bom Kimia.

Disini, atas bantuan Turki, oposisi Suriah sukses memberitahukan dunia bahwa Assad kembali melakukan serangan Kimia yang melanggar “garis batas” dari sikap internasional.

Dari sisi AS pun, Trump ingin membuktikan bahwa bukan saja ia berbeda dengan Obama, tapi ia juga seorang pemimpin dunia yang prestige-nya masih ada. Serangan AS kemarin benar-benar melumpuhkan rezim Assad, yang kini hanya menjadi façade Iran dan Rusia.

Disaat AS dan NATO menunjukkan taringnya, tersirat terlihat kesadaran Putin bahwa ia tak bisa “menguasai” Suriah sendirian. Lebih-kurangnya, kedua pihak kini menyadari bahwa disaat jalan peperangan kemungkinan akan menyeret dalam negeri mereka, maka jalur perundingan diplomasi adalah jalan yang rasional. Dan oleh sebab inilah, maka saya memprediksi bahwa perundingan antara kedua pihak akan sulit menemui titik terang. Dan disinilah celah Erdogan “bermain”.

Pasca serangan AS dan sekutunya, Erdogan menyatakan ia mendukung AS dkk dengan menyebut daftar kejahatan Assad yang lain sembari mengemukakan bahwa perundingan merupakan satu-satunya jalan semua pihak untuk “menang”.

Pada tekanan dan tudingan berbagai pihak bahwa Turki berada di pihak teroris, Erdogan menggunakan kenyataan bahwa Turki adalah negara penampung pengungsi terbesar di Suriah sebagai leverage. Pasukan Turki juga menghalau teroris PKK dan ISIS di Afrin.

Pada tudingan bahwa Turki menambah kekacauan di Suriah, Erdogan mengingatkan bahwa Bulan Sabit Merah Turki dan IHH menjadi kontributor riil kemanusiaan terbesar di Turki.

Pada tudingan bahwa Turki adalah antek AS, Erdogan mengingatkan bahwa ia adalah inisiator perundingan tiga pihak Rusia-AS-Iran di Astana.

Pada tudingan bahwa Erdogan mengacau barat, ia menyebutkan bahwa pembukaan pangkalan Incirlik merupakan bukti bahwa Turki telah menunaikan kewajibannya sebagai anggota NATO.

Kini, dengan melakukan pengamatan kasar melalui media-media pro-Erdogan seperti Daily Sabah dan Yeni Safak, terlihat bahwa Erdogan-lah yang kini mulai mencoba membalik keadaan. Ia menegaskan bahwa semua “sekutu” Turki harus memperhatikan kecemasan Turki akan keamanan nasionalnya, bahwa demi perdamaian rezim Assad harus pergi, bahwa semua kelompok yang ingin mendirikan negara sendiri harus meletakkan senjata, bahwa rakyat Suriah harus kembali ke negerinya sendiri, bahwa rakyat Suriah-lah, bukan pihak-pihak luar, yang harus menentukan nasib mereka sendiri.

Caranya? transisi, pemilu. Erdogan sudah menghimbau dimulai kembalinya perundingan global, ia juga kembali mengeksploitasi masing-masing pihak. Bahkan, kemungkinan keputusan Erdogan yang memerintahkan Turkish Airlines untuk melakukan pembelian pesawat di Boeing sebesar US$ 10 Milyar dan pembelian system rudal S-400 senilai US$ 2.5 Milyar oleh AU Turki merupakan bentuk “upeti” pada AS dan Rusia, agar setidaknya pendapat Turki diindahkan, agar setidaknya revolusi Suriah diberi “nafas”.

Inilah mengapa saya berani menyebut bahwa Turki Erdogani membawa narasi Neo-Ottomanisme. Mengapa? Karena secara teknis, Erdogan tidak punya tanggung jawab apa-apa pada ummat Islam di dunia. Erdogan hanya bertanggung jawab pada rakyat Turki yang telah menaikkannya ke tampuk kepresidenan. Untuk apa Turki bersusah-susah menjepitkan diri ke tengah kekacauan? Andai Turki mengikuti saja narasi NATO, Turki tak akan dirongrong berbagai makar dan serangan sampai kudeta.

Saya melihat, dari berbagai pidatonya, bahwa Erdogan merasa ia dan Turki memiliki tanggung jawab moral sebagai penerus Khilafah Utsmaniyah, bahwa sebagai anak-cucu Sultan Muhammad al-Fatih, ia dan rakyat Turki punya kewajiban moral untuk menjadi penolong ummat, sekecil apapun pertolongan yang mampu mereka berikan.

Selain itu, Erdogan adalah seorang Ikhwan. Hati seorang Ikhwan akan selalu bersama Ummat, dan seorang Ikhwan harus bisa mengubah hambatan menjadi kesempatan, bagaimanapun kesulitan yang dihadapinya.

Siapapun yang menuding Turki dan Erdogan tidak membela Ummat atau bahkan menuduh sebagai pengkhianat ummat hanya bisa dikategorikan kedalam dua kelompok; kelompok kurang info, atau kelompok kurang IQ.

Kedepannya, Erdogan bersama sekutunya (Kuwait, Qatar, Pakistan) akan terus melakukan berbagai maneuver dalam memperjuangkan revolusi Suriah.

Belum terlambat bagi Arab Saudi dkk untuk bertaubat dan membersamai Turki, belum terlambat untuk mencegah Suriah dari menjadi pintu bencana bagi Ummat, dan belum terlambat bagi anda yang merasa belum mampu memberi dukungan fisik bagi Turki untuk setidaknya berdoa untuk mereka. Karena berdoa, adalah senjata iman.

Oleh: Mohamad Radytio Nugrahanto