Anis Matta, Dunia Intelijen dan Mafia Politik


[PORTAL-ISLAM.ID]  Mengalahkan Jokowi itu harus dimulai dengan mengalahkan ego ego pribadi dalam kalangan elit partai, kuhususnya partai islam.

Mayoritas partai sekuler di negeri ini sudah menyatakan berada di blok jokowi, baik jokowi nanyi jadi nyapres atau gak.

Kaum kapitalis di negeri ini yang merupakan adik kandung nya demokrasi liberal sudah membaca peta politik dengan baik, sedangkan mayoritas umat islam masih asyik berisik di timeline medsos.

Bagi kaum elit yang punya akses cukup luas terhadap panggung politik nasional, masalah presiden indonesia itu siapa hanya masalah kapan mereka mau tekan tombol.

Umat islam banyak tidak sadar akan fakta dan realita ini, maka mereka semakin leluasa menjalankan agenda nya, kesimpulan merela masih sama”mudah menaklukkan partai islam” uang mereka yang akan bicara.

Kekurangan dana dan kas politik bukanlah persoalan yang sepele dalam dunia politik, di negara maju seperti Amerika, capres seperti Hillary Clinton yang sudah menghabiskan dana kampanye 800 milyar per minggu tetap saja kalah dari Donald Trump, bagaimana dengan kondisi keuangan partai islam di indonesia? Faktanya memprihatinkan.

Makanya tiket capres atau cawapres tidak akan mudah didapat begitu saja, itu bukan barang gratis, faktanya tidak ada satupun partau islam hari ini di indonesia memiliki cadangan kas 300 M, include PPP, PKB, PBB, PKS bahkan PAN juga begitu, padahhal untuk menyambut tahun politik, minimal dana yang dibutuhkan oleh sebuah partai adalah 500M, lalu mau apa?

Kas gak punya, tokoh partainya pun berelektabilitas rendah, tapi mau ngotot jadi wakil presiden? Itu hanya akan membuat kalangan elit politik sekuler di blok jokowi menertawakan umat islam.

Dan tidak ada satupun tokoh atau ketua umum partai islam hari ini di indonesia punya elektabilitas diatas 5% secara nasional, Ketum PPP(1,3%), Ketum PAN(1,5%), Ketum PBB(0,9%) Presiden PKS( 1,4%) Ketum PKB(4,5%).

Tokoh seperti Ahmad Heriawan, Hidayat Nur Wahid, Zainul Majdi, dan yang sejenis mereka dalam 5 jajak pendapat terakhir hanya memperoleh angka elektabilitas 2,8% gak lebih, itupun angka stagnan yang sudah susah dinaikkan dengan cara apapun.

Dua tokoh islam saat ini yang masih bisa naik elektabilitas nya secara kalkulasi dan kentelasi politik hanya Ketum PKB Muhaimin Iskandar dan mantan Presiden PKS Anis Matta, meskipun saat ini ketum PKB punya rating 4,5% alias paling tinggi diantara ketum partai lain, elektabilitas Muhaimin di daerah jaws masih bisa naik di kisatan angka 7-8%, faktor utamanya adalah basis suara PKB yang masih mantap stabil di angka 11jt an suara prediksi 2019 nanti.

Begitu juga nama Anis Matta, saat ini nama Anis Matta bertengger sebagai tokoh islam muda paling punya daya tawar tinggi di tingkat nasional, angka anis matta nempel ketat dengan Muhaimin di angka 4,3%, peraih elektabilitas kedua terbesar dalam kalanhan tokoh islam, dan sama seperti Muhaimin, elektabilitas Anis Matta masih bisa leading bahkan nyalip Muhaimin yang mentok di angka 7-8% tadi, Anis Matta bisa nyalip ke angka 8-10% suara jika umat islam pandai menjual nya ( data data diatas merujuk ke berbagai hasil jajak pendapat kredibel, baik lembaga independen maupun polling polling rahasia yang dilakukan tim sukses masing masing partai dan tim suksed personal capres).

Dengan fakta ini, wajar Anis Matta dijegal para intel dari kiri dan kanan, Anis Matta ingin dihabisi dengan cara apapun, satu hal yang membuat Anis Matta masih kuat hari ini, loyalis nya yang cukup kuat, dan sikap keterbukaan Anis Matta dan ketidak kakuan nya dalam memandang peta politik indonesia, Anis Matta termasuk tokoh yang cerdas bermanuver dengan semua kekuatan politik tanah air.

Melihat fakta fakta diatas, maka saya haqqul yakin bahwa partai islam akan gagal mengajukan nama tokohnya sebagai cawapres, terutama ke blok Prabowo dan Kubu SBY.

Disinilah cerdas nya Anis Matta, Anis memilih bermain “diluar” sebagai alat ukur untuk memunculkan poros baru jika semua partai islam gagal dapat tiket nyapres, Anis sudah membaca gelagat itu sejak awal, Anis tidak lagi pada level berpikir ketua umum partai islam mana yang bisa nyapres, tapi Anis sudah mikit tokoh islam mana yang bisa mewakili umat dalam bursa pilpres, Anis Maju melawan para intel yang terus menerus ingin menghabisi nya.

Karena hanya Anis Matta satu satunya tokoh politik saat ini yang diincar dan ingin dihabisi para intel dan makelar kelas kakap politik, yang lain tidak diurus oleh para intel dan para mafia, tentu mafia punya logika sendiri kenapa memilih Anis, para mafia sudah sangat terlatih untuk hal hal itu, mereka gak mau Anis Matta benar jadi Habibie baru atau jadi Jusuf Kalla baru.

Para Loyalis Anis Matta pun sudah tidak berpikir apa yang bisa didapatkan oleh seorang Anis dalam pilpres, Loyalis Anis justru sudah berpikir apa yang bisa Anis Matta selamatkan dari jatah umat dalam pikpres mendatang, negarawan selalu mikir nasib generasi gak sekedar ngurus pemilu 5 tahunan

Maka nya tanpa komando, loyalis anis matta sigap menjual Arah Baru Indonesia ala Anis ke seluruh indonesia dengan semua resiko, Anis dan Loyalis Anis sudah pada tahapan finishing dalam mendeteksi dan melemahkan lawan politik umat islam, dan sudah bukan pada level ngurusin duel sesama tokoh islam apalagi duel sesama aktivis islam.

Penulis: Tengku Zulkifli Usman