Zaman Khalifah Umar Terulang, Warga Suriah Demo Minta Turki Bebaskan Kota Mereka seperti Afrin


[PORTAL-ISLAM.ID] ALEPPO - Dulu saat zaman Khalifah Umar, warga Syam (Suriah, Yordan, palestina) meminta pasukan Islam membebaskan mereka dari kekuasaan diktator Romawi.

Kini terulang, penduduk Suriah di Kota Tal Rifaat di Provinsi Aleppo utara menggelar unjuk rasa pada Sabtu (24/3/2018). Unjuk rasa ini digelar dengan tujuan meminta Pasukan Turki melakukan operasi militer serupa seperti dilakukan di Afrin.

Para pengunjuk rasa, termasuk sekitar 400 pejuang dari Tentara Pembebasan Suriah (FSA), memblokir jalan antara Kota Azaz dan Kota Sijo dengan seruan dilakukannya Operasi Olive Branch Turki untuk Kota Tal Rifaat.

Di akun Twitter, Tentara Turki berbagi video terkait permintaan warga Suriah tersebut.

“Warga Tal Rifaat yang ingin membebaskan kota mereka dari organisasi teroris turun ke jalan,” kata tentara Turki dalam video itu seperti dilansir Kantor Berita Anadolu, Sabtu (24/3).

Beberapa orang warga dalam video itu terlihat memegang bendera Turki.


Sebelumnya, pada Ahad (18/3/2018) pasukan Turki dalam ‘Operasi Ranting Zaitun (Olive Branch)’ bersama mujahidin Suriah FSA (Free Syrian Army) telah berhasil membebaskan Kota Afrin di Suriah barat laut dari kelompok-kelompok teroris YPG/PKK yang dibackup Amerika yang telah bercokol di kota itu sejak 2012.

Aksi unjuk rasa warga Suriah di Kota Tal Rifaat di Provinsi Aleppo agar pasukan Turki juga membebaskan kota mereka, ini mengingatkan pada sejarah zaman Khalifah Umar bin Khathab yang mengirim pasukan Muslim untuk membebaskan Syam (Suriah, Yordania, Palestina).

Dalam buku "The Preaching of Islam", sejarawan kristen Thomas W. Arnold mencatat keadilan Khalifah Islam yang dipimpin Umar Bin Khathan membuat warga Kristen penduduk Syam lebih memilih hidup di bawah kekuasaan Khalifah Islam dibanding dipimpin oleh Kaisar Romawi walau sama-sama Kristen. Mereka pun meminta pasukan Islam untuk membebaskan kota-kota mereka.

Ketika pasukan Muslim di bawah pimpinan Abu Ubaidah mencapai lembah Jordan, penduduk Kristen setempat menulis surat kepadanya berbunyi:

“Saudara-saudara kami kaum muslimin, kami lebih bersimpati kepada saudara daripada orang-orang Romawi, meskipun mereka seagama dengan kami, karena saudara-saudara lebih setia kepada janji, lebih bersikap belas kasih kepada kami dengan menjauhkan tindakan-tindakan tidak adil serta pemerintah Islam lebih baik daripada pemerintah Byzantium, karena mereka telah merampok harta dan rumah-rumah kami.”

Penduduk Emessa menutup gerbang kota terhadap tentara Heraclius serta memberitahukan kepada orang-orang Muslim bahwa mereka lebih suka kepada pemerintahan dan sikap adil kaum muslimin dari pada tekanan dan sikap tidak adil penguasa Romawi.

Demikianlah gambaran jiwa rakyat di Syam selama masa perang (tahun 633-639 Masehi). Dimana tentara kaum muslimin lambat laun dapat mengusir tentara Romawi dari wilayah itu. Dan tatkala Damaskus pada tahun 637 mempelopori menciptakan syarat-syarat perdamaian dengan pihak Kekhalifahan Islam, yang berarti terjaminnya keamanan dan diperolehnya kondisi-kondisi yang menguntungkan, maka hal itu segera diikuti oleh kota-kota lainnya. Emessa, Arethusa, Hieropolis mengadakan perjanjian yang sama dengan pihak Kekhalifahan Islam, kepada siapapun mereka harus membayar pajak. Bahkan Patriarch Jerusalem menyerahkan kota itu dengan syarat-syarat yang sama. Kecemasan terhadap timbulnya kekacauan agama akibat tindakan Kaisar Romawi mendorong mereka untuk lebih mendekati sikap toleransi kaum Muslimin.

Demikianlah sejarah mencatat... kedamaian di bawah naungan Khilafah Islam.

Kini, penduduk Syam (Suriah) meminta Turki yang dipimpin "Khalifah" Erdogan untuk membebaskan mereka.

[video diunggah TSK atau TNI-nya Turki]