Ustadz Fadlan: Islam Pertama Masuk Papua! NAH Ternyata KOMPAS Pernah Melansir "Masjid Tertua di Papua, dan Masuknya Islam pada tahun 1200"


[PORTAL-ISLAM.ID] Persekutuan Gereja-gereja di Kabupaten Jayapura (PGGKJ) menuntut menara Masjid Al-Aqsha di Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura dibongkar.

Tidak hanya itu, ada 8 tuntutan lain termasuk soal adzan dan busana keagamaan.

Pihak PGGKJ mengklaim kenyataan bahwa Nasrani (Kristen) merupakan agama pertama yang membuka keterisoliran Papua melalui para pengabar Injil pada tahun 1911.

Hal ini lalu dibantah oleh da'i asli Papua Ustadz Fadlan Rabbani Al Garamatan menegaskan bahwa klaim gereja itu tidak berdasar. Karena justeru agama Islamlah yang pertama datang ke Papua, bukan Kristen.

"Agama tertua dan pertama di Papua adalah agama Islam. Dan orang Islam cukup toleransi untuk mengantar pendeta masuk ke Irian. Kita Indonesia, semua agama dijamin. Alasan-alasan (yang disampaikan Persekutuan Gereja) tidak berdasar," tegas Ustadz Fadlan Rabbani Al Garamatan.

[video]



Pernyataan Ustadz Fadlan Rabbani ada yang membantah dari pihak Nasrani.

Namun apa yang disampaikan da'i asli Papua Ustadz Fadlan Rabbani Al Garamatan tentang sejarah masuknya Islam di Papua, ternyata bersesuaian dengan artikel yang pernah dipublis media KOMPAS.

Berikut selengkapnya....

Masjid Tertua di Papua, dan Masuknya Islam pada tahun 1200


KOMPAS.com - Papua atau yang dulu disebut Irian Jaya punya catatan sejarah Islam dalam wujud sebuah masjid berusia ratusan tahun di Desa Patinburak, Kecamatan Kokas, Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat.

Masjid oktagonal ini berukuran 100 meter persegi dengan wujud unik, terutama di bagian ventilasi yang berdesain bundar-bundar.

Bentuk tersebut memadukan unsur Eropa dan Nusantara, bahkan ada yang menakar bahwa kubahnya mirip dengan gereja-gereja di Eropa pada masa lampau.

Unsur-unsur yang berpadu tersebut bukan tidak mungkin muncul karena masjid yang kerap hanya bernama Masjid Tua Patinburak ini sudah berusia 147 tahun atau pada 1870 ketika Belanda memegang pemerintahan.

Namun, mengenai siapa yang membangunnya, berbagai sumber menyebutkan nama yang berbeda-beda.

Ada yang menyebut nama seorang imam bernama Abuhari Kilian di balik pembangunanya, seperti dituliskan di bimasislam.kemenag.go.id dalam artikel "Masjid Tua Patimburak, Masjid Bersejarah di Pulau Papua".

Sumber lain yang berasal dari Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mengatakan bahwa masjid dibangun pada masa Simempes, Raja Petuar keenam yang dilantik oleh  Sultan Tidore Muhammad Taher Atking.

Pembangunan itu lantas dilanjutkan oleh Raja Wertuar Ke-7 yang bernama Waraburi pada tahun 1886.

Bukan yang pertama

Masjid Tua Patimburak atau Patinburak sendiri menurut Bimasislam dinamai Masjid Al-Yasin. Di tengah-tengah bangunan masjid terdapat empat tiang penyangga yang menyerupai struktur bangunan di pulau Jawa. Interior masjid ini pun hampir sama dengan masjid-masjid yang didirikan oleh para wali di Jawa.

Musa Heremba, imam Masjid Patimburak, mengatakan bahwa bangunan masjid ini telah beberapa kali direnovasi.

Bagian asli yang tersisa adalah empat buah pilar penyangga yang terdapat di dalam masjid, yang pada masa penjajahan pernah diterjang bom tentara Jepang.

Maka dari itu, pada 1942, masjid diperbaiki dengan penggantian atap rumbia dengan seng gelombang. Lalu, pada 1963 dilakukan penggantian dinding papan kayu menjadi dinding tembok rabik atau anyaman bambu yang diplester dengan semen, sedangkan lantai tanah diganti menjadi lantai dari semen.

Terpaut dengan masjid yang sama atau tidak, ada cerita unik mengenai pengeboman oleh tentara Jepang terhadap masjid tersebut.

Masyarakat pada saat itu kemudian mengumpulkan dan membawa lari bagian mahkota dari masjid itu untuk disembunyikan di hutan. Masyarakat kemudian membawa mahkota masjid tersebut kembali ke Kokas, lalu membangun masjid baru pada 1947 dengan nama "Al Mujahidin", saat Jepang kalah di tangan pasukan Sekutu, seperti dituliskan dalam harian Kompas (Rabu, 30 Juli 2003) lewat "Indahnya Pantai Kokas dan Sejarah yang Penuh 'Misteri'".

Meski bersejarah, baik "Al Mujahidin" maupun Masjid Tua Patimburak (Masjid Al-Yasin) sama-sama sulit disebut sebagai tempat ibadah Islam pertama di tanah Papua.

Sebelum ada Masjid Tua Patinburak sendiri, berdasarkan catatan tim Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala dalam buku "Masjid Kuno Indonesia", sudah ada dua langgar yang dibangun, tetapi kemudian tidak berdiri lagi di sana.

Keraguan Masjid Tua Patinburak sebagai masjid pertama di Papua juga mengacu catatan sejarah bahwa Islam sendiri sudah berada di sana beratus-ratus tahun sebelumnya.

Pelaut Spanyol Luis Vaez de Torres yang berkelana pada 1606 ke wilayah yang kini disebut Papua Niugini menyebut bahwa sudah banyak orang Islam di Fakfak, sesuai catatan tim Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala di atas.

Lebih jauh, Musa Heremba, seperti dikutip Kompas.com, mengatakan bahwa penyebaran Islam di Kokas tak lepas dari pengaruh Kekuasaan Sultan Tidore di wilayah Papua ketika mereka mulai mengenal Islam pada abad ke-15 dengan Sultan Ciliaci sebagai sultan pertama yang memeluk agama Islam.

Sementara itu, Umar Sabuku, Imam Masjid Nurul Falah, Kampung Bumi Surmai, Kaimana, mengatakan bahwa Islam pertama kali dibawa oleh Imam Dzikir di Borombouw pada 1405.

"Penyebaran agama Islam masuk melalui interaksi perdagangan dengan pedagang dari luar Papua, seperti dari Sumatera, Sulawesi, dan Maluku. Imam Dzikir kemudian menetap di Pulau Adi dan mengajarkan Islam yang kemudian diterima oleh keluarga kerajaan," ujarnya.

Usianya pun jauh lebih lama lagi menurut catatan harian Kompas di artikel yang sama pada 2003. Pada abad ke-12, di wilayah Kecamatan Kokas terdapat lima kerajaan, yakni Wertuar, Sekar, Petuanan Arguni, Petuanan Pattipi, dan Kerajaan Petuanan Rumbati yang kebanyakan penduduknya beragama Islam, selain beberapa warga beragama Protestan dan Katolik.

Diperkirakan, kerajaan-kerajaan tersebut muncul bertepatan dengan Islam masuk di Fakfak yang diduga dibawa oleh para pedagang Persia dan Arab.

Duga-menduga mengenai sejarah Islam di tanah Papua sendiri tidak bisa dimungkiri terjadi karena adanya budaya unik di wilayah ini yang berlaku sejak lama, seperti dikatakan Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Fakfak Mustaghfirin kepada harian Kompas pada artikel pada 2003 tersebut.

"Memang sulit kita menggali suatu obyek sejarah di sini. Di masyarakat setempat di sini ada kepercayaan yang diwariskan secara turun-temurun. Kalau mereka sampai menceritakan suatu peristiwa penting termasuk menyangkut sejarah (misalnya) masuknya Islam ke Fakfak atau ke Kokas, itu sama dengan memperpendek umur," ujar Mustaghfirin. 

Walau Kantor Dinas Pariwisata dan Budaya telah dibentuk sejak 1982, seperti dicatatkan harian Kompas, tak satu pun data di kantor itu yang menjelaskan tentang Kokas, bahkan termasuk data pertempuran Perang Dunia II di Kokas antara Jepang melawan Sekutu.

Meski begitu, catatan sejarah Islam di Papua masih berwujud, setidaknya dalam bentuk Masjid Tua Patinburak, yang bisa dikunjungi dengan angkutan kota di Terminal Kota Fakfak lalu dilanjutkan dengan perjalanan perahu motor 2 jam ke Desa Patinburak.

Sumber: KOMPAS
Baca juga :