Sinyal Gatot ke Prabowo Lewat Pembelaan Indonesia Bubar 2030


[PORTAL-ISLAM.ID] Mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo ikut berkomentar tentang pernyataan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang menyebut Indonesia bubar 2030.

Gatot membela penyataan Prabowo soal prediksi yang diambil dari sebuah novel 'Ghost Fleet'. Bahkan menurutnya, hal itu bisa lebih cepat apabila kondisi Indonesia semakin lemah dalam konteks pertahanan dan keamanan negara.

Dia mengajak semua pihak menanggapi secara positif pidato Prabowo yang menyebut Indonesia bubar 2030. Gatot mengatakan hal itu sebagai peringatan bagi bangsa Indonesia agar memperkuat persatuan.

[video pernyataan Jenderal Gatot]
Direktur Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno menilai pembelaan Gatot terhadap Prabowo sebagai sinyal politis.

"Saya membaca konteks saat ini dia sedang melamar jadi capres atau cawapres dari Gerindra. Pernyataannya harus sehati dong dengan Pak Prabowo, wajar dia harus mendukung apa yang disampaikan Prabowo 100 persen, bahkan lebih agresif," kata Adi kepada CNNIndonesia.com Jumat (23/3).

Adi menilai ada beberapa faktor mengapa Gatot lebih memiliki kedekatan ke poros Prabowo ketimbang poros lainnya.

Pertama, kata Adi, Gatot dan poros Prabowo sama-sama saling membutuhkan dalam konstelasi politik di tanah air menjelang pilpres 2019.

Adi mengatakan poros Prabowo membutuhkan tambahan 'amunisi' tokoh baru seperti Gatot agar mampu meningkatkan elektabilitas Prabowo yang kemungkinan akan dicalonkan kembali oleh Gerindra sebagai capres.

Sementara di sisi lain, Gatot dapat memanfaatkan poros ini untuk mendaftar dan ikut berpartisipasi sebagai calon wakil presiden jika poros ini akan mengusung Prabowo.

Saat ini poros Prabowo didukung oleh Gerindra dan PKS, sebagai partai yang bisa mengusung capres dan cawapres pada pemilu 2019.

Adi menilai sosok Gatot dianggap mampu mendongkrak elektabilitas Prabowo apabila dirinya dicalonkan sebagai cawapres maupun dapat meningkatkan elektabilitas parpol pengusungnya.

Sebelumnya, Lembaga Media Survei Nasional (Median) merilis hasil survei yang dilakukan pada 1-9 Februari lalu. Hasilnya menunjukan elektabilitas Gatot Nurmantyo terus merangkak naik.

"Jadi semacam simbiosis mutualisme lah, Gerindra dan Prabaowo butuh amunisi baru, tokoh baru karena Gatot mulai muncul namanya, dan sebaliknya, Pak Gatot juga bisa ambil kesempatan untuk bisa [jadi] capres atau minimal jadi cawapres di poros ini, jadi gayung bersambut," kata Adi.

Faktor kedua, tambah Adi, pintu poros Jokowi sudah tertutup bagi Gatot jika yang bersangkutan memiliki keinginan untuk maju sebagai cawapres Jokowi.

Menurut Adi, banyak tokoh politik yang juga sudah ancang-ancang mengisi posisi cawapres Jokowi.

Selain itu, tambahnya, PDIP sebagai partai pengusung Jokowi dinilai tak memiliki kesamaan pandangan politik dengan Gatot terutama soal kedekatannya dengan kelompok Alumni 212.

Adi berpendapat, Gatot sering melontarkan pernyataan yang justru memiliki kecenderungan menguntungkan kelompok Alumni 212 ketimbang menguntungkan Jokowi.

"Berkaca pada pilkada DKI Jakarta misalnya, PDIP kan berdiri secara diametral berbeda dengan sikap kelompok Alumni 212. Nah, Pak Gatot sepertinya punya kecenderungan lebih nguntungin dan berpihak pada kelompok Alumni 212, jadi chemistri-nya (Gatot-PDIP) enggak ketemu," kata Adi.

Faktor ketiga, kata Adi, peluang Gatot untuk mendekat ke poros ketiga yang diinisiasi oleh Partai Demokrat masih sangat kecil. Terlebih lagi, poros itu hingga saat ini masih sebatas wacana dan sangat kecil kemungkinan untuk terbentuk.

Dia menilai peluang Gatot untuk mendekat ke poros ketiga bentukan Partai Demokrat pun sulit dilakukan. Pasalnya, poros tersebut masih belum jelas kekuatan politiknya untuk bersaing dengan dua poros lainnya di pilpres 2019.

"Apalagi poros ketiga, di sana nasib keberadaan porosnya saja masih belum jelas, kalaupun jadi ada poros ketiga pasti sudah diblok sama AHY (Agus Harimurti Yudhoyono) yang kepingin jadi capres, sehingga memang jalan Gatot itu ada di porosnya Prabowo," ujar Adi, seperti dilansir CNNIndonesia.