Pelajaran Dari Nabi Nuh AS


Pelajaran Dari Nabi Nuh AS

Oleh: Ustadz Komiruddin Imron, Lc

Salah satu sebab keengganan umat nabi Nuh AS untuk mengikuti ajakan Nabinya adalah karena mereka menutup impormasi kecuali dari golongannya.

Ketika impormasi lain itu datang sudah ada persepsi keliru yang terbangun di jiwa mereka. Sebuah persepsi bahwa apa saja yang dibawa nuh As adalah kesesatan.

قَالَ الْمَلَأُ مِنْ قَوْمِهِ إِنَّا لَنَرَاكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata: "Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata". (Surat Al-A'raf, Ayat 60)

Sehingga sebaik apapun impormasi itu mereka tetap menutup telinga dengan rapat-rapat.

Saking alerginya mereka dengan ajakan nabi Nuh as, bukan hanya menutup telinga, bahkan ditambah dengan menutupkan baju ke kepala mereka.

وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا

"Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. (Surat Nuh, Ayat 7)

Karena persepsi "sesat" ini yang terbangun di benak mereka, apapun yang bersumber dari nabi Nuh adalah salah dan harus diperangi.

Setiap ajakan nabi Nuh as kepada kebaikan mereka lecehkan dan anggap remeh.

قَالُوا أَنُؤْمِنُ لَكَ وَاتَّبَعَكَ الْأَرْذَلُونَ

Mereka berkata: "Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?". (Surat Asy-Syu'ara, Ayat 111)

فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلَّا بَشَرًا مِثْلَنَا وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلَّا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَا نَرَىٰ لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ

Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: "Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta". (Surat Hud, Ayat 27)

Sampai akhirnya ketika mereka kewalahan dan tak mampu lagi menghadapi nabi Nuh as mereka mulai mengancam.

قَالُوا لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ يَا نُوحُ لَتَكُونَنَّ مِنَ الْمَرْجُومِينَ

Mereka berkata: "Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti hai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang hina?". (Surat Asy-Syu'ara, Ayat 116)

Tapi ketika ancamana itu tidak mempan, sementara twittan (baca : ajakan) nabi Nuh as untuk mengajak mereka ke jalan keselamatan tidak dapat dihentikan, mereka mulai putus asa. Mereka pun mulai menantang (Mubahalah) untuk didatangkan azab.

قَالُوا يَا نُوحُ قَدْ جَادَلْتَنَا فَأَكْثَرْتَ جِدَالَنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ

Mereka berkata "Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar". (Surat Hud, Ayat 32)

Nabi Nuh as sadar bahwa tidak mudah mengajak orang yang pemikirannya telah diracuni doktrin pembesar-pembesar (Almala') mereka.

Usahanya mengajak mereka ke jalan kebenaran siang malam tak dianggap apalagi dihargai. Mereka semakin lari menjauh.

قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا

Nuh berkata: "Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, (Surat Nuh, Ayat 5)

فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا

"Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran)". (Surat Nuh, Ayat 6)

Maka ia diperintahkan membuat bahtera besar yang akan menyelamatkan para penumpang yang berhati jernih. Tidak tanggung-tanggung besarnya bahtera itu.

Saking besarnya, bayangkan saja, ombak setinggi gunung tak sanggup menenggelamkannya. Dan dibuatnya diatas bukit yang tinggi dan jauh dari laut.

Melihat ini mereka dapat amunisi untuk kembali mengejek nabi Nuh. Ia dikatakan gila dan tidak waras, membuat sesuatu yang tak masuk di akal mereka.

وَيَصْنَعُ الْفُلْكَ وَكُلَّمَا مَرَّ عَلَيْهِ مَلَأٌ مِنْ قَوْمِهِ سَخِرُوا مِنْهُ ۚ قَالَ إِنْ تَسْخَرُوا مِنَّا فَإِنَّا نَسْخَرُ مِنْكُمْ كَمَا تَسْخَرُونَ

Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan meliwati Nuh, mereka mengejeknya. Berkatalah Nuh: "Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami). (Surat Hud, Ayat 38)

Tapi pesan Allah, enggak usah ditanggapi. Biarkan saja mereka mengoceh. Nanti juga dia tahu...

وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا وَلَا تُخَاطِبْنِي فِي الَّذِينَ ظَلَمُوا ۚ إِنَّهُمْ مُغْرَقُونَ

"Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan". (Surat Hud, Ayat 37)

Ya, kadang kita harus tetap bekerja sesuai roadmap yang telah disusun tanpa harus menghiraukan orang-orang yang mengejek.

Itulah sekilas kisah nabi nuh as. Sebagian umatnya tenggelam dan binasa karena setiap diingatkan akan ada bahaya banjir mereka pun tetap tutup telinga.

Bahkan ketika tanda-tanda bahwa itu semakin dekat dan terlihat kasat mata dengan dibuatnya bahtera mereka bukannya sadar, tapi mala bertambah permusuhannya.

Sunatullah dan tabiat jalan yang takkan pernah berubah. Hanya kejernihan hati yang dapat menyingkap setiap kabut yang menyelimuti kebenaran.

تِلْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهَا إِلَيْكَ ۖ مَا كُنْتَ تَعْلَمُهَا أَنْتَ وَلَا قَوْمُكَ مِنْ قَبْلِ هَٰذَا ۖ فَاصْبِرْ ۖ إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ

"Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa." (Surat Hud, Ayat 49)

Kotabumi, 19 Maret 2018