NYATA BEDANYA! Dikuliti di Rosi, Ganjar Sibuk Dengan Kartu, Pak Dirman Tampil Cemerlang Bela Petani Miskin


[PORTAL-ISLAM.ID]  Acara Rosi & Kandidat Jateng dibuka dengan top of mind publik. Tanpa rekayasa. Ganjar identik dengan suka marah, pembangunan stadion Jatidiri molor, nggak sanggup atasi banjir rob dan rambut putih.

Di masalah Kartu Tani, stressing Ganjar di soal "data". Seolah Kartu Tani itu has nothing to do dengan kesejahteraan petani.

Memang, "data" itu penting. Malaikat juga tau. Alih-alih maksimalkan BPS, Ganjar menciptakan Kartu Tani.

Menurut Sudirman Said, Kartu Tani niatnya bagus. Tapi eksekusinya perlu penataan. Itu eufimisme. Dia tidak hendak menyerang Ganjar. Kesimpulan Pak Dirman: Kartu Tani harus dihapus.

Sumber dari rencana "eliminasi kartu" adalah aspirasi kaum tani di semua kabupaten. Mereka ngeluh Kartu Tani bikin puyeng. Petani trauma dengan kartu-kartu macam ini.

Ganjar sebut itu hanya persepsi. Dia tetep mau paksakan keinginan. Ora sudi mendengar aspirasi dari bawah.

Dari sepotong Kartu Tani, Ganjar ngelantur ke banyak pointer. Soal distribusi pupuk, harga bawang, polemik impor beras dan data.

Pak Dirman menyatakan petani banyak ngeluh soal syarat-syarat Kartu Tani, cara penggunaan dan batas-batasannya. Intinya, Kartu Tani bukannya memudahkan tapi malah menyulitkan petani. Misalnya, syarat menabung dulu untuk dapet subsidi. Padahal, jangankan nabung, 30% petani harus ngutang kanan-kiri saat mau menanam.

Kalo begini, pihak bank yang untung. Tampaknya Ganjar tetep merasa Kartu Tani sukses. Dia tuding yang kritik adalah free-rider pilkada.

Setelah ngeles sana-sini, akhirnya Ganjar mengakui bahwa keluhan petani memang ada. Yaitu masalah RDKK dan bukan anggota kelompok tani. Pointer ini yang dimaksud Pak Dirman mengenai problem di prasyarat Kartu Tani. Jadi jelas, Kartu Tani memang bermasalah.

Hal ini dikonfirmasi Ganjar dengan memberlakukan affirmative policy bagi petani yang nggak punya rekening bank.

Sederhananya, bila nggak bermasalah, ngapain juga Ganjar menerapkan affirmative action. As simple as that.

Penulis: Zeng Wei Jian