Internet Mati Saat Nyepi = TOLERAN, Penutupan Warung Siang Hari Selama Ramadhan = INTOLERAN


Internet Mati Saat Nyepi
VS 
Penutupan Warung Siang Hari Selama Ramadhan

Saat ummat Hindu di Bali melaksanakan Nyepi selama sehari dan seperti biasa seluruh aktivitas publik, airport, jalan raya, pelabuhan dihentikan.

Namun yang menarik tahun 2018 ini juga diberlakukan memutus jaringan internet selama Nyepi. Keputusan ini mengikuti usulan dari Majelis-Majelis Agama dan Keagamaan Provinsi Bali untuk mematikan layanan internet hari Sabtu, 17 Maret 2018 dari pukul 06.00 WITA sampai dengan Minggu, 18 Maret 2018 pukul 06.00 WITA. (detikcom)

Keputusan mematikan internet nyaris tanpa ada gejolak meskipun ini berdampak kepada mereka yang non Hindu yang tidak ikut Nyepi apalagi internet telah masuk ruang privat setiap orang dan menjadi kebutuhan vital juga untuk jalannya bisnis/usaha.

Kalau kita bandingkan dengan kejadian tahun 2016 saat penutupan warung di siang hari selama Ramadhan mendapat protes keras dari beberapa pihak dengan alasan intoleransi dan melanggar hak orang yang tidak berpuasa.

Protesnya bahkan brisik dan nyaring banget ngalahin suara emak-emak yang lagi marah di rumah.

Media KOMPAS mengekspresikannya dengan judul "Larangan Warung Buka Saat Bulan Puasa Dinilai Merusak Citra Islam dan Toleransi"


Namun ketika kasus Nyepi tanpa internet mereka mingkem bae, gak brisik, gak protes, gak tereak koar-koar Toleransi, merusak citra Hindu, bla bla bla...

Kenapa tudingan INTOLERAN hanya kepada Islam?
Kenapa tuntutan untuk TOLERAN hanya kepada Muslim?

Waktu warung diminta tutup siang hari saat Ramadhan, mereka tereak "Hormatilah yang Tidak Puasa".

Tapi Ketika Nyepi gak ada tereakan "Hormatilah yang Tidak Nyepi".