Beberapa Catatan tentang Tsiqoh


[PORTAL-ISLAM.ID] Iman Syahid Hasan Al Banna berkata mengenai Tsiqoh:

"Yang saya maksud dengan Tsiqoh (kepercayaan) adalah rasa puasnya seorang jundi atas pimpinannya, dalam hal kapasitas kepemimpinannya maupun keikhlasannya, dengan kepuasan yang mendalam yang menghasilkan perasaan cinta, penghargaan, penghormatan dan ketaatan." 

Beberapa Catatan tentang Tsiqoh:

1. Diantara kesalahan sebagian pemimpin adalah ia mengharapkan kepercayaan dari anggota tetapi dia sendiri tidak memberikan sesuatu yang dapat menimbulkan kepercayaan anggota. Kepercayaan dapat ditimbulkan dari kemampuan, kelayakan dan kebijaksaan pemimpin melalui pergaulan dengan pemimpin yang lain, pergaulan praktis dan kebiasaan sehari-hari.

2. Kesalahan pemimpin lainnya adalah ketidakmampuan dalam mendidik para anggotanya padahal ia berada di sekitarnya dan selalu berhubungan dengannya.

3. Jangan memberikan tugas kepada orang yang tidak mampu menunaikannya.

4. Berusahalah sebagai seorang pemimpin agar setiap keputusannya harus memiliki alasan yang kuat dan beberapa pertimbangan yang dapat menjamin keamanan jama’ah.

Tsiqah telah mendorong Abu Bakar mengandalkan Khalid ra, padahal ia menyimpan sekian banyak catatan dengannya dan tak kurang memarahinya atas beberapa hal. Ia tsiqah kepada seseorang bagi kepentingan rakyat banyak daripada kesalihan dirinya, padahal kepadanya tergantung kepentingan rakyat banyak.

Pusta Pengendali Tsiqah

Tak ada kekuatan pengendali Tsiqah selain kepada Allah. Bila mereka menyerahkan amal sepenuhnya kepada Allah maka tak ada sedikitpun keraguan tersisa untuk bekerja dengan sesama da’i. Jadi kekuatan iman kepada Allah, kejujuran, amanah, cinta kasih, kehangatan ukhuwah adalah hal-hal yang menyuburkan akar Tsiqah. Itu semua menjadikan kerja seberat apapun, resiko perjuangan sepedih apapun dan pengorbanan apapun tak ada artinya. Tak ada gerutuan kepada pemimpin atau bawahan. Yang ada syukur, sabar, dan sepenanggungan.

Alangkah rindunya dakwah hari ini kepada kondisi ideal yang bukan mustahil, walaupun sukar dipahami kecuali oleh mereka yang telah mengalami dan menikmatinya. Tak ada lagi bagi upaya lobbi, sugesti dan mobilisasi yang hanya mengandalkan kekuatan kerongkongan semata-mata. Karena dakwah yang suci ini adalah dakwah ruhiyah dan bukan dakwah jasadiyah semata. Ia merangkum akal dan hati. Lebih dulu dari merangkum gerak dan jasad. Ia punya pusat pengendali yang merukunkan seluruh elemen saat harta kekayaan dunia sebesar apapun tak mampu merukunkan antar hati mereka.

Firman Allah: “Ia merukunkan antar hati mereka, yang seandainya engkau belanjakan seluruh kekayaan bumi seluruhnya, niscaya engkau takkan mampu merukunkan antar hati mereka, tetapi Allah merukunkan antar mereka.” (Q.S. Al Anfal : 63).

Tsiqoh itu lahir karena Cinta, bukan dipaksa.

__
Maroji’:

- Said Hawa, “Membina Angkatan Mujahid”
- M. Abdullah Khatib, M. Abdul Halim Hamid, "Konsep Pemikiran Gerakan Ikhwan"
- KH Rahmat Abdullah "Untukmu Kader Dakwah"