Menguliti Excuse Mentality Pendukung Ndoro Ganjar


[PORTAL-ISLAM.ID]  Anies Baswedan, The People's Governor, menyatakan banjir adalah tanggung jawabnya.

Secara diametris, mentalitasnya berbeda dengan Ahok dan Ganjar Pranowo. Di banyak masalah, Ahok selalu punya kambing hitam.

Ndoro Ganjar lain lagi polanya. Dia selalu punya para-pihak. Masalah jalanan, tanggul jebol, banjir, Kartu Tani dan sebagainya. Kalo bukan Kades, ya camat dan bupati yang harus dipertanyakan. Nggak heran bila ada yang tanya apa fungsinya sebagai gubernur.

Mentalitas macam ini disebut "Excuse mentality". Mentalitas payah. Ngga bisa diharap fixing problems dan cari solusi.

Menurut Kurt Gray dalam essay "The Universal Human Need to Blame", menyalahkan orang lain adalah kebutuhan universal manusia. "When bad things happen, people universally look for something to someone to blame," katanya.

Masalah baru muncul bila excuse mentality ini diadopsi pemimpin. Dia jadi ngga punya akuntabilitas. Polanya: denial, blame, excuse. Padahal, 'accountability is what every people wants their leader to be'.

Pada kasus Ganjar, excuse mentality diikuti para buzzernya. Bila ada pengkritik, Pro Ganjar rame-rame ngebully. Si pengkritik diminta ngomong ke Kades, Camat atau Bupati. Jangan ke Ndoro Ganjar. Karena dia nggak salah. Maka, sebuah narrative of blame tercipta.

Ahoker, Buzzer Ganjar dan Hillary followers serupa. Setali tiga uang.

Liberals Pro Hillary menyalahkan hacker Russia, media, sistem electoral college, Bernie Sender, Direktur FBI, dan kaum buruh atas kemenangan Donald Trump.

Ahoker, Pro Ganjar dan Hillary Followers pokoknya berprinsip orang lain yang salah. Mereka menciptakan fenomena yang disebut "the culture of blame".

Tipikal ketiganya, mengutip Nobel Prize winner Daniel Kahneman, mengadopsi "shortcut thinking". Hanya sekedar baca judul, tapi males meneliti fakta secara mendalam.

Penulis: Zeng Wei Jian