Klaim Kantongi Seabreg Prestasi, Ganjar DIHAJAR Warga: PENCITRAAN KAKEHAN CANGKEM!


[PORTAL-ISLAM.ID]  Saya sulit nemu prestasi Ganjar Pranowo. Selama 5 tahun berkuasa, dia produksi banyak kegaduhan. Kemiskinan hanya turun 1%. Itu pun mungkin karena pake standard Menteri PPN September 2016 di mana garis batas kemiskinan di titik Rp. 361.990.

Bila pake kriteria BPS lain lagi ceritanya. Menurut BPS, "Petani dengan luas lahan 500m, buruh, nelayan, tukang kebun dll dengan pendapatan di bawah 600 ribu per bulan" tergolong miskin.

Kemiskinan hanya statistik bagi penguasa. Pastinya, slogan "Jateng toto titi tentrem kerto raharjo" cuma keluar dari mulut Pro Ganjar.

Di Jakarta, media berkontribusi dongkrak citra Ganjar. Karena Ganjar kancane Ahok. Setali tiga uang. Makanya Ganjar sering bolak-balik Jateng-Jakarta. Ngisi acara talkshow. Temanya, seputar pungli Jembatan Timbang. Itu-itu aja. Supaya tercipta kesan "gubernur hebat".

Media brengsek ngga lirik opini kontra Ganjar. Misalnya Mas Jozz Gandozz yang nulis, "Pencitraan kakean cangkeman thok. Purworejo Kebumen ke barat, jalannya bolong-bolong. Bikin orang meninggal di jalan. Itu jalan provinsi boss..bosok."

Ngeri banget kalau baca keluhan masyarakat Jawa Tengah. Netizen Deded Asmarahady berkomentar, "Kakean obral kartu".

Paling gawat labelisasi yang dibuat Wahyu Eka Setiyawan. Dia bilang, "Marhaenis Palsu". Maksudnya: Ganjar.

Kontradiksi sosial pro-kontra pabrik semen nyata. Pro pabrik semen menyindir sedulur sikep. Sadis sekali nyinyirannya. Mereka bilang yang tolak pabrik semen sebaiknya pake gedhek. Jangan pake semen.

Selain polemik pabrik semen, ternyata di Baturaden ada gugatan warga terhadap PLTB yang babat hutan lindung. Di Desa Danasari Tegal, warga ngeluh proyek irigasi mangkrak 8 tahun.

PLTB Gunung Slamet disebut-sebut sebagai penyebab bencana longsor, banjir dan pencemaran air. Alhasil, Gerakan Save Gunung Slamet dirilis.

Saking gemes, seseorang berkata, "banyu butek kaya kae siki iwak-iwak pada mati. Nelangsa kambi wong serakah nang ndunya".

Padahal, salah satu janji kampanye Ganjar-Heru adalah "Ijo royo royo".

Seolah tidak dikenal, ada warga sebut nama gubernurnya Ganjar Prahoro dan Ganjar Pranomo.

Ganjar diam seribu bahasa, tidak merespon masalah area sawah dijadikan perumahan. Katanya banyak terjadi di Salatiga. Komunitas Gereh Pethek di Desa Widodaren menggelar aksi protes. Pasalnya, jalan desa mereka rusak akibat sering dilewati armada proyek jalan tol.

Masalah ganti rugi lahan proyek jalan tol pun merebak. Masyarakat terdampak jalan tol Semarang-Batang merasa dirugikan.

Petani gula, petambak garam, budi daya ikan resah. Tak tersentuh. Petani Jagung di Kendal pernah nangis karena harga anjlok dan bibit naik 25% per kilogramnya.

Kartu Tani dimasalahin. Banyak yang ngeluh soal mafia pupuk. Ada kasus petani diharuskan beli pupuk organik yang tidak dibutuhkan. Ngantri bikin Kartu Tani di BRI. Disuruh bikin PIN pada bingung. Baru buat PIN langsung lupa.

Di banyak daerah, para petani penggarap hutan (persilan) cemas. Akibat syarat harus punya lahan sawah tegalan.

Petani lebih memilih adanya jaminan harga jual daripada subsidi pupuk. Generalisasi kebutuhan pupuk juga problematis. Karena konstruksi tanah berbeda di tiap daerah.

Kasihan petani. Mereka tanam. Harga jual rendah. Harga bibit tinggi. Bila kena hama maka "rugi raya". Hutang pasti ngga terbayar. Terpaksa ngutang lagi untuk modal tanam berikutnya.

Mungkin Wahyu Eka Setiyawan benar, Ganjar bukan seorang Marhaenis.

Penulis: Zeng Wei Jian