Ketika Orang Gila Ikut Berpolitik


[PORTAL-ISLAM.ID]  Menjelang tahun-tahun politik kali ini ada yang unik, terutama di Jawa Barat. Mengingat prinsip politik demoKERAsi adalah tidak punya prinsip, maka apapun bisa terjadi, meski melanggar prinsip-prinsip etika dan agama sekalipun. Timbangan politik demoKERAsi adalah kekuasaan pragmatis melalui mekanisme transaksional. Politik demoKERAsi tak ubahnya seperti ajang perjudian, yang tidak mengenal halal dan haram.

Saya katakan unik karena adanya kemunculan orang gila yang melakukan tindak kriminal berupa pembunuhan kepada orang-orang tertentu. Secara kognitif orang gila tidak mungkin melakukan perencanaan, tindakan apalagi evaluasi dalam tiap tindakannya. Dikarenakan saraf otaknya telah ada yang terputus, maka orang gila akan mengalami gangguan otak permanen.

Belum lama ini telah terjadi tindak kriminal berupa pembunuhan Prawoto, seorang Komandan Brigade Pimpinan Pusat Persis dan tindak penganiayaan terhadap Mama Ajengan Emon Umar Basri pengasuh Pesantren Al Hidayah Santiong Cicalengka, anehnya kedua peristiwa itu dilakukan oleh orang gila. Jika dibangun argumen sederhana bahwa antara pelaku dan korban serta momentum, maka bisa dikatakan orang gila ini secara tidak sengaja telah ikut mewarnai tahun politik di Jawa Barat.

Dari konstruksi argumen yang penulis buat, maka peristiwa pembunuhan terhadap aktivis Islam dan penganiayaan terhadap ulama oleh orang gila, maka momentum ini bisa saja dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu untuk membangun argumen baru demi kepentingan politik mereka. Para pelaku politik tentu saja sedang berhitung, bagaimana memanfaatkan manuver orang gila ini sebagai hal yang menguntungkan kepentingan politik mereka. Inilah wajah politik demoKERAsi itu.

Meski demikian, terminologi kata gila memang bisa ditinjau dari berbagai dimensi epistemologi. Ada beberapa dimensi kegilaan. Pertama gila kognitif, adalah adanya gangguan saraf pada otak yang menjadikan seseorang mengalami semacam gangguan jiwa. Dalam bahasa inggris gila dalam arti gangguan jiwa biasa disebut insanity atau madness.

Inilah awal dari istilah gila yang sebenarnya, dimana orang itu tidak lagi memiliki rasa malu, takut, sedih atau perasaan yang lainnya. Bisanya orang gila model ini mudah ditemui di pinggir-pinggir jalan, kadang tertawa sendiri, bahkan tak jarang mereka tak berbusana. Orang gila seperti ini tidak mungkin melakukan pembunuhan secara terencana, tidak mungkin. Gila dalam perspektif ini adalah semacam pola pikir dan perilaku yang abnormal.

Namun demikian, istilah gila ini mengalami semacam perluasan makna, baik positif maupun negatif. Kata Kegilaan selain digunakan untuk menunjukkan manusia tidak waras, sinting, gendeng, edan, sableng, majnun dan gelo , juga dipakai untuk menujukkan perilaku yang diluar kebiasaan orang lain atau out of the box. Frase seperti ide gila, gila baca, karya gila dan semacamnya justru seringkali menjadi positif. Frase gila bola, gila mancing, gila harta, gila kekuasaan, gila perempuan, gila makan cenderung dimaknai negatif namun tidak termasuk gangguan jiwa.

Bahkan menurut penulis sistem politik demoKERasi bisa menjadikan manusia gila harta, gila kekuasaan dan gila perempuan. Telah banyak kejadian di Barat yang menuhankan demoKERAsi yang berujung jepada rusaknya peradaban karena hegemoni nafsu duniawi. DemoKERAsi liberal di Barat adalah contoh sempurna akan rusaknya kehidupan akibat disorientasi manusia. Peradaban Barat melihat kebahagiaan hidup hanya sebatas duniawi yang ditandai oleh kepemilikan harta, kekuasaan dan kebebasan seks. Hanya tiga itu, ya hanya tiga itu. Gila kan ?

Namun ada yang menarik dari sabda Rasulullah tentang orang yang sesungguhnya gila. Syaikh Abdullah Al Ghazali dalam Risalah tafsir menyampaikan sebuah riwayat hadist sebagai berikut :

Pada suatu hari Rasulullah berjalan melewati sekelompok sahabat yang sedang berkerumun. Lalu beliau bertanya kepada mereka, “Mengapa kalian berkumpul disini ?”. Para sahabat menjawan,” Ya Rasulullah, ada orang gila sedang mengamuk. Oleh sebab itulah kami berkumpul disini”.

Rasulullah lalu bersabda, "Sesungguhnya orang itu tidaklah gila [al majnun], namun orang ini hanya sedang mendapat musibah. Tahukah kalian, siapakah orang yang sebenar-benarnya disebuat gila [al majnuun haqqul majnuun]. “Tidak ya Rasulullah, hanya Allah dan Rasulnya yang mengetahui”, jawab para sahabat.

Rasulullah menjawab, “ Orang gila yang sesungguhnya adalah orang yang berjalan dengan penuh kesombongan, yang membusungkan dadanya, orang yang memandang rendah kepada orang lain, lalu berharap Tuhan akan memberikan surga, padahal ia selalu berbuat maksiat kepadaNya. Selain itu orang-orang yang ada disekitarnya, tidak pernah merasa aman dari kelakuan buruknya. Dan disisi yang lain, orang juga tidak pernah berharap pada perbuatan baiknya. Nah orang seperti itulah yang disebut sebagai orang gila yang sebenar-benarnya gila. Sementara orang yang kalian tonton adalah orang yang sedang mendapat musibah”.

Kesombongan dan kemaksiatan adalah gila yang sebenarnya menurut Rasulullah. Sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. maksiat adalah melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah. demoKERAsi yang merupakan ide Barat adalah kegilaan yang nyata, dimana dengan sombongnya menolak kebenaran Islam, merendahkan para pejuang Islam dan menetapkan hukum yang bertentangan dengan Islam. Perjudian dan perzinahan bahkan LGBT dibolehkan dalam demoKERAsi, meski dilarang oleh Allah.

Untuk para ustadz dan kyai yang mendapat kezaliman dari orang gila hingga menemui ajal, maka ajal adalah hak Allah semata, terlepas bagaimana cara Allah membuat skenario. Berjuang maupun tidak berjuang, ajal akan tiba juga. Namun saya bersaksi kedua kyai itu adalah pejuang dan orang baik, semoga khusnul khotimah dan mendapatkan jannahNya yang indah dan abadi.

Sekali lagi, demoKERAsi adalah ideologi sekuler liberal yang secara sombong menolak kebenaran Islam dan bahkan menistakan Islam. Bagi demoKERAsi, ukuran politik adalah pragmatisme semata, tak ada halal dan haram. Maka pemuja demoKERAsi akan dijebak dan dipaksa untuk melakukan apapun agar bisa meraih kekuasaan demi memenuhi nafsu duniawinya. DemoKERAsi akan menyeret pemujanya untuk menjadi orang gila yang sesungguhnya.

Sementara orang gila yang telah menganiaya dan membunuh pejuang Islam dan kyai, jika benar dia sakit jiwa, adalah musibah yang menimpanya. Namun jika ia berpura-pura, dilihat dari indikasi kronologis, maka sungguh itu adalah perbuatan biadab. Jika dia berpura-pura gila, maka tak mungkin juga tak ada motifnya, mungkin saja dia disuruh oleh orang lain yang lebih biadab. Cukuplah sejarah masa lalu dimana para kyai menjadi sasaran pembunuhan menjadi pelajaran bagi umat Islam hari ini untuk terus waspada dan menyatukan langkah konsolidasi dan bersatu.

Ketika orang gila ikut berpolitik, itulah salah satu wajah buruk demoKERAsi, sebuah ideologi gila dalam arti sesungguhnya. Jika disebut zaman edan, maka demoKERAsilah biang keroknya. Satu hal yang penting, umat Islam harus waspada namun juga tambah semangat bersatu memperjuangkan Islam kaffah tanpa rasa takut sedikitpun agar demoKERAsi segera terjungkal dalam kehinaan dunia akherat. Bagi yang terlanjur memuja demoKERAsi, maka segera bertobatlah. Semoga Allah meridhoi perjuangan ini, hingga Islam tegak di muka bumi, atau kita mati di jalan mulia ini.

Penulis Dr. Ahmad Sastra ( Dosen Filsafat dan Psikologi Komunikasi)