Kartu Kuning dan Gelora Baru Reformasi Jilid 2


Kartu Kuning dan Gelora Baru Reformasi Jilid 2

Kamis, 5 Maret 1998 adalah salah satu tonggak sejarah besar dalam Reformasi 1998. Setelah sebelumnya didahului oleh beberapa aksi sporadis mahasiswa di berbagai tempat dan kota. Hari itu, 20 mahasiswa Universitas Indonesia (UI) mendatangi Gedung MPR/DPR yang sedang melaksanakan Sidang Umum MPR dengan agenda pertanggung jawaban Presiden RI dan memilih Presiden RI baru yang hasil akhirnya sudah pasti bisa diketahui. Yaitu, menerima pertanggung jawaban Presiden dan memilih kembali Soeharto sebagai Presiden RI.

Tetapi ada yang berbeda pada hari itu. Rombongan yang diorganisir oleh Senat Mahasiswa UI (sekarang berganti nama BEM UI), bersama hampir seluruh Senat Mahasiswa Fakultas-Fakultas di UI, nekat mendatangi Sidang Umum MPR dengan agenda utama: Menolak PertanggungJawaban Presiden Soeharto

Saya yang pada waktu itu sebagai Kepala Bidang Sosial Politik SMUI bersama Rama Pratama sebagai ketua SMUI, Fitra Arsil Full sebagai Sekum (sekarang Kadep HTN FHUI), Mustafa Fakhri sebagai Ketua SMFHUI (sekarang Ketua Pusat Studi HTN FHUI), Heru Cokro saat itu sebagai Ketua BPM UI, bersama kawan-kawan lainnya, jauh hari sudah menyiapkan beberapa seminar dan diskusi dengan mengundang beberapa pakar di bidangnya untuk mempertajam kajian dalam rangka mengevaluasi pemerintah Soeharto pada waktu itu.

Menjelang keberangkatan ke Sidang Umum MPR, agenda bermalam berhari-hari di Pusgiwa dijalani untuk membuat kompilasi kajian tersebut, di seputar bidang Politik, Ekonomi Hukum, Budaya dan Sosial serta Hankam.

Jadilah kajian tersebut sebuah bundel yang sangat tebal hasil kompilasi tim yang bekerja siang malam. Bahkan, banyak kawan aktivis yang berseloroh, kompilasi tersebut sudah pantas menjadi disertasi meski kita semua belum skripsi.

Ditemui Fraksi ABRI pada waktu itu, Senat Mahasiswa UI menyampaikan pikiran-pikiran dan gagasannya atas telaah kritis dari evaluasi pemerintahan yang dipimpin Soeharto pada waktu itu dengan kesimpulan, Seoharto telah gagal dalan parameter Politik, Hukum, Ekonomi, Sosial, Budaya dan Hankam, sehingga laporan pertanggungjawaban sebagai Presiden, tidak dapat diterima alias ditolak!!

Kontan, publik di seluruh penjuru Indonesia bahkan seluruh dunia, terkaget-kaget, terkejut dengan keberanian, kegagahan dan intelektualitas lebih tepatnya kenekatan mendekati gila perwakilan Mahasiswa UI yang dikomandoi oleh Senat Mahasiswa UI.

Pada waktu itu, Soeharto sebagai penguasa Orde Baru, bisa dikatakan tidak ada satupun elemen masyarakat apalagi elemen politik yang berani berseberangan dengannya. Hanya ada beberapa gelintir tokoh yang berani mengkritik dan biasanya mengalami nasib tragis. Diantara tokoh yang berani dan tetap bertahan pada waktu itu adalah Amien Rais, yang kelak menjadi Tokoh Rerformasi.

Aksi penolakan tersebut benar-benar sebuah kejutan yang heroik dan memberi inspirasi dan semangat baru pembuka gelombang gerakan reformasi untuk terus bergerak. Sejak itu, gelombang penolakan Soeharto dan reformasi seperti tak bisa dibendung lagi. Hingga akhirnya Orde Baru runtuh, di bulan Mei 1998. Hanya berselang 2 bulan saja dari aksi Senat Mahasiswa UI.

Kartu Kuning

Belum lama ini, masyarakat juga dikejutkan oleh aksi gagah berani BEM UI saat menyambut Presiden Joko Widodo saat menghadiri acara Dies Natatalis UI di kampus UI, Jum'at (2/2/2018). Sejak awal masuk di gerbang kampus, rombongan Jokowi sudah disambut dengan aksi masa teatrikal tim BEM UI yang membentangkan spanduk dan tulisan-tulisan tentang beberapa kegagalan Jokowi mengelola negara ini selang tiga tahun kepemimpinannya.

Dan puncaknya adalah, pemberian Kartu Kuning oleh ketua BEM UI, Zaadit Taqwa, sesaat Jokowi selesai memberikan pidato di Balairung.

Aksi heroik mahasiswa ini, kontan saja mendapat sambutan hangat dan pujian serta dukungn dari berbagai lapisan masyarakat. Apa yang menjadi kegelisahan dan penderitaan semua lapisan masyarakat, seperi terwakili olehnya.

Dari mulai penanganan gizi buruk di Papua, hutang luar negeri yang menggila, daya beli yang semakin tak berdaya, represi kepada publik dan tokoh agama, pembatasan kebebasan berpendapat, dwifungsi Polri, dll.

Aksi Kartu kuning ini benar-benar menjadi inspirasi dan spirit baru perlawanan kepada rezim otoriter yang selama ini mengkebiri demokrasi dan mematikan ruh reformasi.

Momentum Kartu Kuning seperti mengembalikan marwah pergerakan Kampus UI untuk benar-benar mengawal Reformasi menjadi nyata.

Sudah saatnya Aktivis UI mengambil kembali peran sejarahnya yang sudah lama hilang, untuk memimpin pergerakan bersama seluruh elemen mahasiswa, tokoh masyarakat, intelektual, cendekiawan, menyelamatkan bangsa dan negara ini dari keterpurukan, dan hancurnya tatanan sosial, politik, ekonomi, budaya, hukum yang dipertontonkan oleh rezim ini.

Gelorakan Reformasi Jilid 2 untuk Indonesia yang lebih demokratis, beradab dan berkeadilan.

Katakan Hitam adalah Hitam
Putih adalah putih
Tiada kata Jera dalam Perjuangan

Tuhan bersama para pemberani

Salam Semprit

Priiiiiiiiiiit...!!!

Ari Wibowo
Mantan Kabid Sospol Senat Mahasiswa UI
Mantan Sekjend BEM UI