Kami Pembangkang?


Kami Pembangkang?

By: Ust. Nandang Burhanudin

(1) "Santai aja. Kita akan melakukan lompatan besar." Kata Anis Matta membuka orasi. Hadirin tertawa. Semua seakan paham, cuaca hati yang tak sedang hangat menyapa.

(2) Durasi 1.30 menit, di tengah kantuk menyerang pada jam kritis, adalah tantangan tersendiri. AM mampu menghadapi.

(3) Anis is back dengan tagar Capres 2019, jelas membuat gemetar. Padahal belum tentu ada parpol yang ridho. Mission impossible.

(4) AM telah menyiratkan gelombang ketiga Indonesia harus siap melakukan misi mustahil di 2019. Bekal yang harus dimiliki antara lain:

(5) 1. Ruh al-hurriyyah. Jiwa merdeka. Enggan menjadi budak yang menghambakan diri pada penguasa lacut. Ini masalah militansi. Komitmen dengan cita-cita dasar manusia: meraih merdeka dan menghambakan diri sepenuhnya pada Allah Ta'ala.

(6) 2. Ruh at-tamkin. Jiwa prestatif, generasi yang sudah teruji di setiap aksi. Sejak lama terlatih menjadi pelayan umat dan pengabdi masyarakat. Transaksi dengan Allah tidak lagi sekedar teori. Namun dilakukan sepenuh hati, tanpa peduli yang diperjualbelikan adalah harta dan jiwa.

(7) 3. Ruh al-qudwah. Jiwa keteladanan. Mereka meneladani sepak terjang baginda Nabi, shahabat, tabiin, salafus shalih. Tidak hanya dalam ritual, namun hingga pada pengorbanan. Keteladanan ini mereka dapatkan dari mutiara tarbiyah

(8) 4. Ruh al-'isyq. Entah siap atau tidak, kami merindukan ruh ini. Jiwa rindu meraih syahid. Melawan kejahatan perlu kejantanan. Implementasinya, syahid di medan jihad melawan penguasa zhalim.

(9) Itulah ruh Generasi Ketiga. Bukan pembangkang, bukan barisan sakit hati. Kami hanya merindu ruh-ruh itu divilarisasi, bukan dipersekusi apalagi diintimidasi.

(10) Apalah artinya kelas proletar seperti kami tuan. Bukankah wujud kami seperti 'adamnya. Jadi santai saja tuan. Tak perlu gelagapan.

(11) Jika menang berkah itu anugerah, kami tak menanti ghanimah. Kami hanya merindu remah-remah ukhuwwah itu kembali bergairah. Wallahu A'lam.