Jokowi dan Misteri Angka Tiga Anies di Piala Presiden


Oleh: Hersubeno Arief
(Wartawan senior, Konsultan media)

Kontroversi seputar insiden di Gelora Bung Karno saat berlangsung final Piala Presiden 2018, masih terus bergulir. Penjelasan istana tidak ada arahan dari Presiden Jokowi untuk mencegah Gubernur Jakarta Anies Baswedan, tidak bisa memperbaiki kerusakan yang sudah terjadi.

Kehadiran Anies sebagai tuan rumah, sekaligus sebagai “Bos” Persija jelas tidak dikehendaki. Dia bintang hari itu yang harus dinetralisir. Tanda-tandanya cukup jelas.

Sebagai Ketua Steering Committee Maruarar Sirait (Ara), ketika menyampaikan sambutan, sama sekali tidak menyebut nama Anies. Soal ini sempat menimbulkan tandatanya dan kehebohan di kalangan penonton dan medsos. Namun itu baru berupa signal, tanda-tanda. Bisa saja Ara –yang dikenal sebagai orang dekat Presiden– lupa.

Signal, bahkan pesan itu menjadi jelas, terang benderang ketika pasukan pengaman presiden (Paspampres) menghadang Anies. Saat itu Anies akan bergabung dengan Presiden Jokowi dan para pejabat lain, turun dari tribun kehormatan menuju podium untuk menyerahkan piala kepada sang pemenang, Persija Jakarta.

Apa salah dan dosa Anies? Jelas tidak ada yang salah. Secara protokoler, sebagai kepala daerah Anies memang harus mendampingi Presiden. Terlebih lagi sebagai gubernur yang timnya menjadi juara, Anies juga berhak dan malah harus mendampingi.

Alasan Ara bahwa tidak semua pejabat mendampingi karena panggungnya tidak cukup, terkesan dibuat-buat, asal kena. Di medsos beredar foto-foto saat Jokowi menyerahkan piala ke Persib Bandung didampingi mantan Gubernur DKI Ahok dan Walikota Bandung Ridwan Kamil. Pada saat itu Persib Bandung juara pada Piala Presiden 2015. Nampak sekali perbedaan perlakuannya.

Insiden di GBK bukan sekedar olahraga dan protokoler. Ini adalah soal perebutan panggung politik. Anies Baswedan adalah figur yang disebut-sebut sebagai penantang paling potensial menjadi pesaing Jokowi. Kehadiran Anies apalagi Persija menjadi juara setelah absen puluhan tahun, tentu harus diwaspadai. Dia harus dinegasikan. Dieliminir sebelum membesar.

Jumlah penonton terbesar

Ada beberapa alasan mengapa Anies sampai harus dihadang oleh Paspampres.

Pertama, Piala Presiden yang mulai diselenggarakan pada tahun 2015 ini sesungguhnya tidak murni olahraga. Event ini adalah politik olahraga, berkaitan konflik antara pemerintah dengan federasi sepakbola internasional FIFA.

Pemerintah membuat kompetisi alternatif, setelah kompetisi regular dihentikan karena Indonesia terkena sanksi FIFA.

Pemerintah saat itu berusaha menyingkirkan Ketua Umum PSSI dijabat oleh La Nyalla Matalitti. Jadi kegiatan ini sepenuhnya adalah panggung yang disediakan untuk Presiden Jokowi.

Kedua, sebagai olahraga yang paling banyak digemari, sepakbola menyedot banyak perhatian penonton. Tidak hanya yang hadir di stadion, namun juga dari sisi rating dan share, atau jumlah penonton tv. Artinya apa? Momen ini bisa menjadi ajang kampanye, ajang pencitraan yang sangat massif dan efektif.

Sebagai gambaran saja, pada babak delapan besar, jumlah penonton yang hadir maupun yang menyaksikan di televisi, jumlah sangat besar. Empat laga yang digelar di stadion Manahan, Solo 3-4 Februari lalu menyedot sebanyak 55.802 penonton.

Jumlah penonton yang menyaksikan melalui siaran langsung di televisi Indosiar jumlahnya lebih dahsyat lagi. Saat SFC Vs Arema, ratingnya mencapai 4,4 dan share audience 17,3 %. Bali United Vs Madura United rating 4.4 dan share audience 17,0%. Persebaya Vs PSMS rating 3.9 dan share audience 25.8%. Sementara Mitra Kukar Vs Persija rating 3.5 dan share audience 23.4%.

Share audience adalah jumlah penonton pada saat program tersebut berlangsung. Dengan memperoleh share audience 23.4%, artinya hampir seperempat jumlah penonton televisi di Indonesia matanya semua melotot tertuju kepada pertandingan Piala Presiden. Misalnya saat itu jumlah total penonton sebanyak 200 juta orang, maka hampir 50 juta diantaranya menonton pertandingan Piala Presiden.

Jadi ini benar-benar sebuah panggung “kampanye” yang dahsyat. Jangan sampai ada orang atau tokoh lain yang memanfaatkannya.

Share audience sebesar itu hanya bisa dicapai oleh sejumlah sinetron yang sangat popoler di beberapa stasiun TV. Sinetron Ganteng-ganteng, Serigala, dan Orang Ketiga yang tayang di SCTV, atau serial Mahabarata yang pernah tayang di stasiun ANTV adalah beberapa contohnya.

Bila dibandingkan dengan pertandingan liga sepakbola Inggris, maupun La Liga, rating dan share audience Piala Presiden dan pertandingan liga domestik, jauh lebih tinggi. Apalagi bila klub yang bertanding model Persib atau Persija yang mempunyai pendukung fanatik.

Pada final Piala Presiden kemarin jumlah penonton di stadion mencapai 72 ribu orang. Rating dan share audience nya belum dipublish. Tapi dapat dipastikan jumlahnya jauh lebih tinggi dari pertandingan babak-babak sebelumnya.

Ketiga, mencegah munculnya matahari kembar. Data-data di atas cukup menjelaskan mengapa Anies harus dicegah. Kehadirannya bisa menjadi semacam matahari kembar yang menyaingi Jokowi. Diantara para penantang Jokowi, Anies merupakan satu-satunya figur yang mempunyai peluang untuk terus tampil dalam sorotan publik.

Sebagai Gubernur DKI frekuensi penampilan Anies di media hanya berada sedikit di bawah Jokowi. Dibandingkan dengan para penantang lain yang tidak sedang menjabat seperti Prabowo, kemunculan keduanya di media (media appearance) jauh lebih tinggi. Faktor ini menjadi penting untuk mendongkrak popularitas yang akan berimbas pada elektabilitas.

Skenario yang gagal


Melihat apa yang terjadi di GBK, skenario Jokowi atau para pendukungnya untuk mengganjal Anies gagal total, bahkan malah menjadi bumerang. Di medsos muncul berbagai kecaman, baik berupa tulisan, meme, video dll.

Anies mendapat simpati yang luas karena menjadi figur yang didzolimi. Orang menjadi simpati bahkan empati menyaksikan bagaimana Anies setelah dihadang Paspampres kembali ke tempat duduknya, dengan wajah yang kecewa. Bayangkan kalau itu menimpa diri kita. Apa yang kita rasakan?

Namun yang menarik ternyata suasana tersebut sontak berubah, ketika Anies-Sandi turun ke lapangan, setelah Presiden Jokowi pergi. Puluhan ribu penonton menyerukan yel-yel nama Anies-Sandi dengan suara yang bergemuruh dan tidak ada putus-putusnya.

Eforia ini kemudian berlanjut keesokan harinya ketika Tim Persija diarak para penggemarnya ke Balaikota bertemu dengan Anies-Sandi.

Dua peristiwa tersebut menjadi sangat kontras. Anies yang coba dibuat menjadi nothing, malah menjadi something. Coba dinegasikan sebagai zero, malah menjadi hero.

Wajar bila penggila sepakbola Jakarta dilanda eforia. Setelah lebih dari 17 tahun, inilah untuk pertamakalinya Persija kembali merengkuh piala sebagai juara.

Angka tiga rupanya menjadi angka yang selalu menguntungkan bagi Anies Baswedan. Pada Piala Presiden yang ketiga, Persija menjadi juara. Kebetulan pada pilkada lalu, dia bersama Sandi mendapat nomor urut tiga.

Sebelum pertandingan final, Anies juga meramalkan Persija akan menceploskan tiga gol ke gawang Madura United. Kebetulan pula jumlah hadiah yang diperoleh Persija Rp 3.3 miliar.

Apakah ini juga menjadi semacam tanda bahwa Anies akan menjadi capres yang ketiga di luar Jokowi dan Prabowo?

19/2/18

(Sumber: Kanigoro)