INFRASTRUKTUR, NASI DAN GIZI BURUK PAPUA


INFRASTRUKTUR, NASI DAN GIZI BURUK

by Salkamal Tan*
(Tinggal di Papua)

Aduh Pak Presiden ku,
Baca postingan bapak seperti ini bikin saya speechless...

Berarti benar dugaan saya, hasil kunjungan Bapak ke beberapa kota besar di Tana Papua dan Papua Barat belum cukup membuat Pak Presiden paham betul apa yang dibutuhkan oleh masyarakat asli Papua sebenarnya.

Pak Jokowi hanya mengunjungi kota-kota besar di Tana Papua dan Papua Barat untuk meresmikan infrastruktur pelabuhan, bandara atau mencoba jalan yang sedang dibangun sambil berbagi sepeda, sertifikat tanah, dan kartu ini itu ternyata tak cukup membuat Bapak mengerti apa yang kami butuhkan. Asal sedikit datang ke Tana Papua dan Papua Barat, pemuja Bapak yang hidup di luar Papua memuja Bapak bak manusia setengah dewa.

Izinkan saya untuk sedikit berbagi informasi kepada Pak Jokowi yah.

Pertama, makanan pokok asli masyarakat Papua itu bukan nasi tetapi sagu yang bisa diolah dengan berbagai macam olahan bisa menjadi papeda, papeda bungkus atau papeda bola-bola. Itu bagi masyarakat Papua yang tinggal di daerah pesisir.

Bergeser sedikit ke daerah pegunungan makanan pokok mereka adalah petatas atau umbi-umbian bisa ubi jalar atau keladi. Jadi bukan beras atau nasi. Coba Bapak lihat acara bakar batu, tidak pernah mereka memasak nasi saat acara itu tapi umbi-umbian karena itulah makanan lokal disini.

Saya bukan menyebutkan infrastruktur tidak penting, penting. Tapi pembangunan manusia-nya jauh lebih penting seperti pendidikan, kesehatan dan ekonomi kerakyatan.

Bapak tahu gak? Saya pernah merasa sedih sekali saat melintasi salah satu jalan Trans Papua yang sudah dibangun sejak jaman Pak SBY dengan menumpang mobil, karena di malam yang gelap tanpa cahaya disertai hujan deras rupanya masih ada masyarakat Papua yang menyusuri pinggir jalan sambil membawa noken di kepala. Sebagian ada yang menggunakan daun-daunan kering yang dianyam sebagai pengganti mantel hujan, beberapa orang lagi yang masih berusia balita berjalan tanpa pelindung hujan.

Yah inilah realita nya, infrastruktur jalan sangat membantu, tapi masyarakat asli Papua tak punya uang cukup untuk sekadar menyewa transportasi bermotor apalagi membeli. Kebanyakan infrastruktur itu hanya bisa dinikmati oleh masyarakat pendatang, masyarakat Papua yang kebetulan berkecukupan karena menjadi pejabat atau memiliki pekerjaan tetap, sebagian laginya sesekali bisa menikmati sambil duduk atau berdiri di mobil dengan bak terbuka bergerombol menyusuri jalanan.

Pemuja Bapak menyombongkan infrastruktur, saya dulu pernah menyombongkan infrastruktur jalan dengan satu mama-mama (ibu-ibu -red) kader Posyandu masyarakat asli Papua usia 50-an tahun. Saat itu selesai mengunjungi salah satu kampung untuk pelayanan kesehatan, saya akan kembali ke ibukota kabupaten saya mengajak salah satu mama kader untuk ikut naik mobil. Tapi rupanya beliau keberatan, karena takut mabuk darat. Dia berkata akan berjalan kaki ke kota menyusuri jalur hutan yang biasa mereka lalui. Ternyata mereka tiba setengah jam lebih cepat di titik yang kami sepakati bertemu dibandingkan kami yang menumpang mobil.

Masyarakat Papua dulu sebelum ada akses jalan mereka sudah terbiasa masuk keluar hutan, apabila jarak tempuh memakan waktu berjam-jam biasanya mereka akan membekali diri dengan papeda bungkus, petatas bakar, keladi bakar dan lauknya ulat sagu bakar serta cemilan pisang rebus.

Kedua, dari tulisan Pak Presiden saya jadi paham kenapa masalah gizi buruk tak pernah usai di Tana Papua dan Papua Barat. Pendekatan yang dilakukan oleh pusat rupanya menggantikan makanan pokok masyarakat asli Papua dengan nasi, padahal tidak semua lahan di Papua bisa ditanami padi. Dari seluruh wilayah Papua yang baru bisa memproduksi beras dalam jumlah cukup adalah Merauke yang merupakan buah hasil pembangunan Kementerian Pertanian di era SBY, dan semoga tetap bertahan.

Tapi untuk menikmati nasi, masyarakat harus membeli, untuk membeli mereka harus dibekali skill yang bisa menghasilkan. Bila uang tak cukup untuk beli beras dan lauk, mereka beli mie instan, untuk sekedar menutupi rasa lapar. Bagi yang tidak punya uang yah kembali ke bahan makanan lokal.

Semoga apa yang saya tulis ini bisa membuka mata hati masyarakat di luar Papua agar tahu sebenarnya kondisi masyarakat di Tana Papua dan Papua Barat ini. Semoga pendekatan penanganan gizi buruk jangka panjang juga memperhatikan potensi ketersediaan bahan makanan lokal.

15-02-2018

*Sumber: fb penulis