Sumber Kegaduhan: KAUM "LOMPAT PAGAR" AGAMA LAIN


(by Azwar Siregar)

Saya bisa dan biasa bersahabat dengan siapa saja. Tapi ada jenis orang yang menurut saya harus dihindari.

Manusia jenis kutu kupret, yang sering berteriak, "Rasis...Rasis...".

Tapi justru dia sendiri yang bersikap rasis, selalu kepo dan lompat pagar ikut campur urusan agama orang lain.

Misalnya, sekarang lagi ramai di medsos gara-gara ulah si Joshua, bocah nakal yang masa kecil mengobok-obok air berisi ikan, setelah besar mencoba mengobok-obok kerukunan umat beragama, typikal bocah tengik yang salah asuhan.

Fenomena ikut campur agama dan iman orang lain mulai makin menjamur dan menjadi-jadi sejak Ahok memulai.

Agak aneh juga melihat sebagian saudara-saudara kita non muslim di negeri ini.

Saya garis bawahi "sebagian", dan untuk membedakannya dengan saudara-saudara kita Non Muslim yang baik, kita sebut aja Kelompok jahat ini, Mpok Kolor alias "Kelompok Kepo dan Lompat Pagar".

Secara tidak langsung Ahok adalah Simbol dan Raja gerombolan Mpok Kolor ini.

Para Mpok Kolor bisa lebih hapal nama-nama Ulama dan Ustadz dibandingkan saya sendiri. Mereka bahkan lebih banyak mendengarkan ceramah Ulama Islam daripada ceramah Pemuka agama-nya sendiri.

Tentu saja karena mereka tidak punya Iman, mereka mendengarkan ceramah dibimbing Setan.

Sama dengan tetangga Kepo yang mendadak pusing, mual dan meriang melihat tetangga-nya ganti Mobil baru, Gerombolan Mpok Kolor ini juga selalu pusang, mual dan meriang di tambah dengki dan iri hati melihat mayoritas muslim di Negeri ini bersatu.

Kalau si Tetangga Kepo memuaskan kedengkiannya dengan menyebarkan gosip dan fitnah sana-sini sampai diam-diam tengah malam masuk dan kencing ke pekarangan Rumah Orang lain, para Mpok Kolor ini juga diam-diam mengikuti ceramah para Ustadz dan kencing di media sosial bermodalkan fitnah dan opini pribadi.

Saya tidak akan pernah punya pendapat pribadi tentang Pendeta agama A atau B di luar Islam, karena saya tidak tahu dan memang tidak mau tahu.

Tapi bagaimana mungkin Anda bukan Muslim bisa punya pendapat sendiri bahkan rasa benci dengan ceramah Ustadz, misalnya Ustadz Abdul Somad kalau bukan karena Kepo dan Lompat Pagar?

Ketika di tanya, "Apa alasan para Mpok Kolor tidak Suka Ustadz Somad?"

Jawaban mereka karena Ustadz Somad sering mengkafir-kafirkan orang di luar Islam dan ceramahnya dianggap memecah-belah.

Ditanya, "Tau darimana?".

Mereka jawab, "Sering nonton Ceramahnya di youtube".

"Beliau kan ceramah untuk Umat Islam, untuk apa Anda mendengarkan ceramah pemuka agama yang berbeda dengan anda?".

Biasanya para Mpok Kolor ini akan terdiam malu sambil menggigit kancing baju. Persis tukang ngintip yang tertangkap basah, dosanya mungkin ngga seberapa tapi malunya yang luar biasa.

Seumur-umur saya pribadi tidak pernah menonton apalagi menyimak ceramah pemuka agama lain, Khotbah pendeta misalnya. Kalaupun dulu ada acara penyegaran rohani di RCTI, saya akan langsung ganti siaran atau matikan Tipi.

Sikap Kepo dan Lompat Pagar para Mpok Kolor ini mereda setelah Raja-nya di tahan.

Tapi seiring dengan Pilgub Sumut, aroma dan bau busuk para Mpok Kolor ini mulai tercium tajam.

Pertama karena salah satu kandidat yang di usung adalah bekas cawagub si Raja Mpok Kolor yang terlibat dan kalah di Pilgub DKI. Para pendukung dan team soraknya seperti mendapat ladang pertempuran baru untuk balas dendam.

Kedua, Gerombolan Mpok Kolor yang paling keji dan memuakkan ini justru banyak berasal dari Sumut dan suku kami Batak dan terkenal sebagai pendukung garis keras si Raja Mpok Kolor.

Ini salah satu yang saya sorot dan sayangkan, kenapa orang itu yang dimajukan ke Sumut, semoga saja tidak memecah belah persaudaraan kami orang Sumut.

Entah lupa atau memang daya tangkap otak para gerombolan Mpok Kolor yang masih standar pentium satu, mereka membabi-buta menyerang Islam. Mereka lupa kalau Islam adalah agama orang yang mereka paling puja dan puji se-negeri ini.

Tadi malam saya sampai terpancing emosi karena satu ekor Mpok Kolor yang bernama Rinaldi Sihombing, tidak sanggup lagi menyembunyikan iri hati dan kedengkiannya sampai menyebutkan keinginannya menampar Ulama.


Model-model kunyuk seperti si Rinaldi Sihombing ini masih sangat banyak bertebaran di Negeri ini khususnya di Sumut, cuma sebagian cukup bijak menyembunyikan kedengkiannya dan sebagian lagi berani bersikap terang-terangan.

Jadilah tetangga yang baik, kalau tidak sudi bertegur sapa atau saling melambaikan tangan, paling tidak jangan selalu memancing keributan.

Ingat sebagian besar tetanggamu orang-orang baik, mereka cuma akan tertawa kalau kalian hanya menari-nari bugil memancing emosi di depan rumahnya.

Tapi ingat kawan, sebagian besar dari mereka tidak akan pernah diam kalau anda ikut campur masalah Iman apalagi sampai melecehkan.

Toleransi beragama itu sangat sederhana, jangan kepo apalagi bertindak bego dengan lompat pagar.

"Bagimu Agamamu dan Bagiku Agamaku" sangat Indah.

Mari berlomba-lamba beribadah dan mendekatkan diri kepada Tuhan, hormati tetanggamu karena penghormatan itu akan kembali kepadamu.

___
*Dari fb Azwar Siregar