BADAI ELEKTABILITAS PKS (Meloloskan diri dari musibah di tahun Politik)


BADAI ELEKTABILITAS PKS 
(Meloloskan diri dari musibah di tahun Politik)

Oleh: Tengku Zulkifli Usman
Analis Politik, Jakarta

Masalah prediksi politik itu adalah gabungan kaedah ilmiah dengan kemampuan dan seni membaca situasi, jika gagal meng-ilmiah-kan, maka akan gagal juga menarik kesimpulan.

Dalam riset terbaru elektabilitas partai politik saat ini, PDIP, Golkar, dan Gerindra adalah 3 partai papan atas Indonesia di 2019 dengan angka elektabilitas yang konsisten diatas 10%.

Saya membaca riset LSI terbaru Januari 2018, lalu saya mempelajari semua aspek sehingga memunculkan angka-angka survei tersebut secara ilmiah dan cermat.

Dalam rilis terbaru LSI, saya juga mengecek hasil-hasil riset lain yang kurang lebihnya sama hasilnya dengan hasil riset LSI, hasilnya, ada 5 partai lama yang kondisinya saat ini kritis untuk dapat meraih angka ambang batas PT (Parlement Treshold) sebesar 4%.

Mereka adalah PPP (3,5%), PKS (3,8%), PAN (2%), Hanura (0,7%) dan Nasdem (4,2%) meskipun Nasdem memperoleh angka diatas 4%, namun karena margin error survei ini sebesar 2,9%, maka nasib Nasdem pun dalam posisi merah.

Hasil Survei LSI: PKS PAN PPP Nasdem dan Hanura Terencam Tak Lolos Parlemen Lagi
http://wartakota.tribunnews.com/2018/01/25/hasil-survei-lsi-pks-pan-pp-nasdem-dan-hanura-terencam-tak-lolos-parlemen-lagi

Disini Saya ingin menyoroti PKS secara langsung, kalkulasi kami agak berbeda sedikit dengan hasil survei diatas, dalam hitungan kami dan beberapa pengamat yang lain, PKS, PAN dan Nadem tetap akan lolos ke senayan 2019, namun angka elektabilitasnya sangat kecil, kisaran 4-6% maksimal.

Khusus Hanura dan PPP, kami sepakat dengan hasil riset LSI, PPP dan Hanura besar peluang tidak akan lolos ke senayan 2019 jika dalam masa sisa waktu sampai 2019 tidak melakukan kejutan dan manuver yang berarti.

Lalu apa penyebab utama elektabilitas PKS yang pada 2014 lalu memperoleh angka 6,7% dan sekarang angka elektabilitasnya menurun menjadi 3,8%?

Pertama: kepemimpinan nasional yang lemah, PKS saat ini dipimpin oleh elit yang masuk kategori lemah dan agak keluar dari gaya dan ruh PKS sebagai partai kader dan partai pergerakan Islam yang terkenal militan (tesis budaya politik Gabriel Almond dan Sidney Verba).

Kedua: konflik internal, khususnya konflik hukum antara DPP PKS dan Fahri Hamzah di pengadilan yang berlarut larut yang sampai saat ini pengadilan telah mengalahkan PKS sebanyak 3x, hal ini memicu polarisasi di tubuh PKS yang begitu tajam, dan menggerus elektabilitas PKS sebesar 2%.

Ketiga: tidak adanya program baru dari PKS yang menarik yang ditawarkan kepada publik, seperti halnya 3 program unggulan partai Golkar dibawah ketua umum baru Airlangga Hartanto misalnya.

Keempat: PKS masih dianggap sebagai partai yang sibuk sendiri, masih ekslusif dan masih kurang moderat dan toleran terhadap perbedaan pendapat internal juga iklim negara demokrasi, di titik ini, simpatisan PKS sebagai pemilih terbesar PKS selama ini memilih untuk lari dari PKS dan memutuskan memilih Gerindra.

Kelima: tingkat elektabilitas elit-elit PKS saat ini yang sangat kecil, publik saat ini hanya mengenal PKS lewat nama nama Fahri Hamzah, Anis Matta, Hidayat Nur Wahid, dan Ahmad Heryawan, selebihnya, publik tidak mengenal figur PKS termasuk Presiden PKS saat ini M Sohibul Iman, yang elektabilitasnya dibawah 5%.

(poin ini sesuai dengan hasil riset Prof Ozer Senchar dari ankara Turki tentang perlunya tokoh kuat dan kharismatis untuk menaikkan elektabilitas sebuah partai politik)

Keenam: transisi kepemimpinan PKS yang berjalan sangat lambat, jika dilihat secara kasat mata, pengurus DPP PKS hari ini masih dihuni wajah-wajah lama yang bahkan sudah menjabat sejak zaman PK dulu berdiri, ini masuk faktor tambahan bagi publik dalam menilai, bahwa PKS bukan partai yang segar dalam rotasi kepemimpinan, ini karena PKS adalah partai kader bukan partai massa.

Ketujuh: isu "PKS Muda" yang digulirkan oleh DPP PKS untuk pemilu legislatif 2019 adalah isu yang kurang diminati oleh masyarakat, karena logikanya, bagaimana mungkin PKS menawarkan caleg caleg muda, sedangkan pengurus pusat dan wilayah nya saja masih wajah wajah lama dan tidak produktif dan tanpa banyak perubahan, program PKS muda ini ditangkap rakyat tidak lebih dari sekedar "pencitraan" PKS yang lamban dalam menyegarkan isu kepemimpinan sebagai isu utama.

Kedelapan: tidak adanya gagasan baru yang langsung bisa menyentuh persoalan utama rakyat Indonesia sat ini, ekonomi, hukum, politik dan terutama demokrasi, bagaimana rakyat bisa percaya bahwa PKS adalah partai yang demokratis, sedangkan ruang berbeda pendapat di internal saja masih sangat sempit.

Kesembilan: nama-nama capres dan cawapres yang telah diumumkan oleh DPP PKS sebanyak 9 orang ketika dilakukan test kepada publik, hanya beberapa figur saja yang bisa menarik minat pemilih, antara lain Anis Matta, Hidayat Nur Wahid, dan Ahmad Heryawan, sedangkan jika nama Fahri Hamzah disimulasikan masuk kedalam daftar capres tersebut, posisi Fahri Hamzah menempel ketat posisi Anis Matta dan mengalahkan HNW juga Aher, sedangkan sisa dari nama nama tersebut diatas, rakyat masih menganggap mereka masih kelas caleg bukan kelas capres.

Dari semua isu dan faktor faktor diatas, top isu utama yang menyebabkan elektabilitas PKS turun drastis adalah poin 1, 2,3 5, 6 dan 9.

Jika top isu utama tersebut bisa diselesaikan oleh PKS dalam waktu kurang 2 tahun ini, maka PKS masih dalam posisi aman untuk lolos ke senayan dengan tingkat elektabilitas 4-6%, namun jika top isu utama diatas tidak juga beranjak, maka bukan tidak mungkin, PKS akan keluar dari ring senayan untuk 2019.

Wallahu a'lam.