"PARA PECUNDANG AGAMA"


"PARA PECUNDANG AGAMA"

Trend muslim abal-abal saat ini, berlomba-lomba memojokkan ulama, memfitnah hal yang masih abu-abu, dishare di lini masa, diketawain plus dibumbui tepuk tangan oleh teman-temannya yang non muslim, dia pun semakin bangga, hanya karna ingin diterima di lingkungannya, kemudian merasa populer dan kekinian. Padahal yang sebenarnya mereka tak lebih dari pecundang bagi agamanya sendiri.

Tapi sebaliknya, teman-teman mereka yang non muslim, kalau mau sama-sama kita perhatikan, sedikitpun saya belum pernah melihat atau mendengar mereka yang non muslim memperolok para tokoh agamanya sendiri, menjatuhkan antar golongannya yang seiman di depan umum.

Mereka justru berlomba saling menutupi rapat-rapat isu-isu yang beredar bahkan aib yang jelas-jelas terbukti secara terang-terangan dilakukan oleh golongannya. Hal itu tidak lain karna panggilan hati dan jiwa mereka yang berusaha untuk tetap menjaga dan mempertahankan marwah golongan dan kesucian agama mereka di mata lingkungannya. Salah kah mereka? Tentu saja tidak, dan justru memang sudah seharusnya seperti itu.

Nah bagi kalian para pecundang agama, teruslah pecundangi diri kalian sendiri, karna agamamu akan tetap tinggi walaupun kau berusaha menjatuhkannya.

Entah apa yang ada di kepala serta hati kalian dan yang telah orang tua kalian bekalkan kepada kalian sedari kecil, sehingga ketika kalian beranjak dewasa, bukannya sumbangsih terhadap agama dan umat yang kalian berikan, justru menjadi pengumbar fitnah dan penistaan terhadap ulama dan agama kalian sendiri yang kalian lakukan, bahkan kalian melakukannya dengan penuh kebanggaan di hadapan pemeluk agama lain.

Buat para orang tua, ayo bekali baik-baik anak-anak kita dengan ilmu agama sejak dini, biar kelak ketika besar mereka menjadi pembela bagi agamanya. Kedangkalan ilmu agama dan iman mereka tak lepas dari pola didik kita selaku orang tua.

Jangan sampai mereka menjadi generasi yang gemar memperolok sesama saudara seiman, sorak sorai ketika ulamanya dipersekusi umat agama lain, ustadz abal-abal dipuja-puja, phobia dan risih terhadap agamanya sendiri, hingga bangga agamanya dihinakan.

Entah hukuman apa kelak yang layak bagi orang tua yang anaknya menjadi pecundang terhadap agamanya sendiri.

Semoga kita dan seluruh anak keturunan kita dijauhkan dari hal itu semua.

Aamiin.

(Syarif Shahab)