"Jerusalem is the capital of PALESTINE" (Yerusalem Ibu Kota Palestina) Bergema di Seantero Dunia


[PORTAL-ISLAM.ID] Presiden Amerika Serikat Donald Trump sekali lagi telah mengirim gelombang kejut ke seluruh dunia, setelah mengumumkan ia akan mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

Menurut pejabat senior Gedung Putih, Trump akan mengarahkan departemen luar negeri untuk memulai proses panjang pemindahan kedutaan AS dari Tel Aviv ke kota tersebut.

Para pemimpin di Timur Tengah dan lainnya telah memperingatkan Trump bahwa tindakan semacam itu akan berdampak bahaya bagi apa yang disebut sebagai proses perdamaian dan untuk stabilitas regional.

Status Yerusalem sangat sensitive sebagai bagian dari konflik Israel-Palestina. Israel mengklaim kota itu sebagai ibukotanya, pasca pendudukan Yerusalem Timur pada perang 1967 dengan Suriah, Mesir dan Yordania, dan menganggap Yerusalem sebagai sebuah kota “bersatu”.

Orang Palestina telah lama menganggap Yerusalem Timur sebagai ibukota dari negara masa depan mereka. Mereka menyebut bahwa tindakan AS memindahkan kedutaan akan mencederai usaha apapun dari Washington untuk memulai ulang proses perdamaian.

Ini yang dikatakan oleh orang-orang di media social :

Pengguna ini, yang berbasis di Amerika Serikat, memberikan konteks tertentu. “pada 1995, kongres meloloskan Jerusalem Embassy Act, mewajibkan pemindahan Kedutaan Amerika dari Tel Aviv ke Yerusalem. Cabang eksekutif menolak menerapkan hukum ini. Hukum ini lolos dengan suara 93-5 di Senat dan 374-37 di Majelis.

Trita Parsi, pendiri dan presiden dari National Iranian American Council, menyebut bahwa pengumuman tersebut adalah “induk dari segala tindakan bodoh”.

Jurnalis Syed Talat Hussain menulis: “Trump sepertinya sedang dalam sebuah misi untuk menghancurkan sisa-sisa perdamaian di Timur Tengah dan lainnya. Akan menarik untuk melihat bagaimana setiap negara muslim bereaksi terhadap perilaku berbahaya ini.”

Surat kabar The Daily Star di Lebanon dengan headline: “Tak bermaksud menyinggung Mr. President, Yerusalem adalah ibukota Palestina.”

Sentimen ini tersebar

Ketua Joint Arab List di parlemen Israel, politisi dan pengacara Ayman Odeh, menulis: “Trump adalah seorang piromaniak yang dapat membakar seluruh kawasan dengan kegilaannya. Mereka membuktikan bahwa AS tak bisa jadi sponsor dalam negosiasi. Jika pemerintah Israel ingin dunia mengakui Yerusalem Barat sebagai ibukotanya yang harus mereka lakukan adalah mengakui Yerusalem Timur sebagai ibukota Palestina!”

Samar Ziadat, seorang sejarawan seni, mentwit: “Yerusalem adalah ibukota Palestina. Israel adalah negara apartheid yang didirikan atas pendudukan illegal militer Israel terhadap Palestina. Zionisme adalah ideology rasis & kolonialis yang membenarkan pembersihan etnis rakyat saya – warga asli Palestina.”

“Jerusalem is the capital of Palestine” juga menjadi trending twitter berbahasa arab.

Aktivis dan jurubicara Break Gaza Siege @adham922, yang berbasis di Gaza, menyebut: “Berhati-hati menjadikan isu Yerusalem sebuah isu kontroversial, karena kita harus menjadikannya sebuah nilai besar diatas perseteruan apapun diantara kita. Setiap usaha untuk Yerusalem diapresiasi dan diberkahi, karena itu adalah isu pertama/utama bagi muslim.”

@AAlMashaikhi menyebut: “Trump adalah seorang pria eksentrik. Memerangi terorisme dan disaat bersamaan berhubungan dengan para Zionis yang tidak mewakili agama Yahudi.”

@al3nze_g menulis: “Yerusalem dihancurkan dua kali, dikepung 23 kali, diduduki dan dibebaskan 44 kali dan diserang 52 kali. Tapi Yerusalem tetaplah kota perdamaian. Semua dari mereka pergi tapi Yerusalem tetap disini.”

Yang lain memperingatkan potensi kerusuhan.

Ijeoma Oluo, seorang editor, menyebut Trump berusaha untuk “menimbulkan kekerasan yang bisa ia gunakan untuk membenarkan ketakutan dan persekusi muslim disini yang ia gunakan untuk menggerakan para bigot ke kotak suara.”

“Jika Trump memindahkan kedutaan Amerika dari Tel Aviv ke Yerusalem itu akan membesarkan api dan memprovokasi mereka yang mencintai kota itu,” twit organisasi Jewish Voice for Peace, sebuah lawan vocal dari kebijakan-kebijakan Israel dan warganya di Palestina.

Ali Abunimah, salah satu pendiri Electronic Intifada, sebuah majalah online yang mendokumentasikan pendudukan Israel, menulis: “Selalu ADA kekerasan di Yerusalem; pendudukan militer adalah definisi kekerasan.”

Sumber: Al-Jazeera