Fahriku Hamzah


"Fahriku Hamzah"

By: Ust. Nandang Burhanudin

(1) Perhelatan Reuni 212 usai. Optimisme kembali tergalang: umat Islam harus bangkit atau terus jadi pesakit.

(2) 212 setahun lalu sempat dibuat ragu. Dituduh makar, hingga dianggap tak berakar. Tak dinyana, 212 membinar dan bersinar.

(3) Fahri Hamzah wajar tampil menggelegar. Ia percaya diri, sebab ia pun membackup 212 sedari awal 411 tak pernah gentar.

(4) Bagi antitesa FH. Tentu tidak perlu baperan. Bangsa ini harus bersyukur, masih ada pejabat negara semodel FH.

(5) Lazimnya Hamzah, ia selalu jadi trendsetter. Di posisi ini disebut Hamzah AlQatha', berhenti. Pesannya: terus terang, jangan ada suara ikhfa atau idghom.

(6) Hamzah di kala washol, ia berperan tak nampak di permukaan. Ikhlas tanpa pamrih, walau nasibnya selalu tak terbaca dan tunduk pada huruf lain.

(7) Qamus Ma'ani menyebutnya: لأنها يتوصل بها إلى النطق بالحرف الساكن الواقع في ابتداء الكلام
Ia berfungsi menjadi energi penghubung bagi huruf yang cenderung pasif, padahal ia berada di awal kata.

(8) Hamzah berarti juga Shoutun Syadiid. Suara keras, tegas. Maka Hamzah hobinya jahar (terus terang) atau Hams (jelas). Ia tidak suka suara sumir apalagi berdengung.

(9) Ketika berfungsi sebagai huruf istifham (pertanyaan). Hamzah hanya perlu jawaban: Iya (na'am, balaa) atau tidak (laa). Hamzah tak suka muter-muter.

(10) Oleh karena itu, Hamzah saat berbentuk manusia. Ia harus dikendalikan keshalihan. Jika tidak, ia akan berisik menjadi hamazaatis syayaathiin (AlMukminun: 97).

(11) Hamzah selalu menunjukkan cerita kepahlawanan. Paman Nabi, Hamzah telah menunjukkannya. Kini kita merindu Hamzah itu hadir, lalu ia menjadi kebanggaan (Fahri).

(12) Kata tetangga saya, "Manusia model Hamzah harus disayang, jangan dibuang!"