Erdogan Murka pada Menlu Emirat terkait Tudingannya pada Khilafah Ottoman


[PORTAL-ISLAM.ID] ANKARA - Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, murka terhadap Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab (Menlu UEA), Abdullah bin Zayed. Tanpa menyebut nama, Erdogan menanggapi postingan terakhir Menlu UEA tersebut. Sebelumnya, sang menlu diketahui menghina komandan Ottoman yang bertanggung jawab melindungi kota Madinah pada awal abad yang lalu.

Saat menerima para pustakawan di kantor kepresidenan, Erdogan menegaskan bahwa Imperium Ottoman dan sekutunya bertaruh nyawa dalam mempertahankan kota Madinah. “Saat kakek kami, Fakhri Pasya, mempertahankan kota Madinah, di mana kakek Anda wahai orang yang malang, yang penuh kesombongan?” kata Erdogan, seperti dilansir Aljazeera, Rabu (20/12/2017).

Presiden Turki itu memang sama sekali tidak menyebut nama Menlu UEA, Abdullah bin Zayed. Namun, wakil PM Turki pada hari ini melontarkan kecaman langsung kepada Menlu UEA itu, dan menyebutnya “pembohong”.

Selain itu, Erdogan juga menegaskan, Arab Teluk dan seluruh umat Islam merupakan saudara bagi bangsa Turki. Namun sebagian masih ada pihak-pihak yang mencoba menyerang bangsa Turki.

Erdogan menambahkan, “Anda (Bin Zayed), harus tahu batasan. Anda tidak tahu betul tentang bangsa ini (Turki). Anda juga tidak mengenal Erdogan, apalagi dengan kakek-kakeknya. Kami mengenal mereka yang sibuk mengurusi sejarah kami dan juga sosok Fakhri Pasya. Kami akan mengungkapnya pada waktu yang tepat.”

“Ada pula yang menuduh Ottoman mencuri berbagai peninggalan dan memindahkannya ke Istanbul. Jelas tudingan itu tidak benar. Negara Ottoman melestarikan arkeologi, memerintah dengan adil dan senantiasa menjaga amanah,” imbuh Erdogan.

Disebutkannya, Ottoman mengirim peninggalan Rasulullah SAW ke Istanbul dengan tujuan untuk menjaganya. Hal itu untuk mencegah peninggalan-peninggalan tersebut dikirim ke Eropa.

Twit Bin Zayed

Sebelumnya, Menlu UEA diketahui menghina komandan Ottoman yang saat itu bertugas untuk kota Madinah. Melalui akun twitternya, Bin Zayed me-retweet posingan DR. Ali al-Iraqi yang tinggal di Jerman.

Dalam postingannya al-Iraqi menuding komandan Ottoman Fakhri Pasya mencuri harta penduduk Madinah dan mendeportasi mereka ke Levant dan Istanbul pada tahun 1916. Ia menambahkan, “Ia juga mencuri sebagian besar manuskrip di perpustakaan al-Mahmudiyah dan mengirimnya ke Turki.”

“Mereka itu nenek moyang Erdogan dan sejarahnya terhadap kaum muslimin dan Arab,” tutup al-Iraqi dalam postingannya tersebut. (Dakwatuna)