Antara Tong Kosong, Abu Janda, dan Ust. Felix Siauw


[PORTAL-ISLAM.ID]  Pepatah 'tong kosong nyaring bunyinya' (empty vessels make the most noise), sejatinya merupakan konsep filosofis yang cukup dalam maknanya. Konon pepatah ini pertama kali dipopulerkan oleh Plato sejak berabad sebelum masehi.

Namun sejarah tersebut masih dhaif. Sebab tak cukup banyak literatur yang mengulas sejarah dari Plato dan tong kosong ini.

Satu hal yang jelas, pepatah tong kosong ini merupakan konsepsi nyata atas kenyataan tingkah polah manusia lintas peradaban. Ya, tak peduli zaman berubah tapi sifat manusia masih tetap sama.

Alat boleh canggih, tapi tong kosong tetap nyaring bunyinya. Bahkan di era media sosial ini, bunyi tong kosong semakin menggema.
Hanya dengan akun media sosial, seseorang bisa terlihat pintar bak seorang ustaz. Tapi terkadang ustad di sosial media itu hanya bermodal lima menit menjamah kitab riwayat syekh Google.

Di sosial media memang banyak yang terlihat garang bak harimau Sumatra. Padahal kenyataannya hanya sekadar macan Cisewu. Duh celaka!

Lagi-lagi kisah soal tong kosong ini memang banyak tersaji akhir-akhir ini. Hanya dengan bekal followers banyak, mereka dengan mudahnya membuat provokasi, agitasi, bahkan fatwa-fatwa.

Kembali ke filosofi soal tong kosong, sejatinya pepatah populer ini punya makna yang dalam. Sebab, saat seseorang tak cukup diisi bekal keilmuan maupun bekal nilai-nilai di dalam dirinya, output yang mereka hasilkan biasanya omong kosong belaka.

Tidak hanya berbicara nyaring tapi tak berisi, konsepsi tong kosong yang berbunyi nyaring juga mewakili seorang yang minimnya aksi, edukasi, dan kekosongan hati. Sehingga saat berurusan dengan 'tong kosong' ini tak ada sisi produktivitas yang bisa dihasilkan. Sebaliknya malah menciptakan keributan yang tak keruan.

Sengaja saya membuka bahasan ini dengan membahas soal tong kosong. Sebab akhir-akhir ini ruang publik banyak yang diisi oleh perdebatan yang kurang produktif dan hanya menghasilkan kegaduhan. Ini terutama di media sosial yang mana banyak melahirkan aktor-aktor yang tak kita tahu asal muasalnya. Tiba-tiba dia mengaku mewakili ormas tertentu, tiba-tiba mengaku ustaz, tiba-tiba memberi fatwa soal agama.

Saya tak ingin buru-buru menuduh orang lain yang punya karakter macam tong kosong ini. Ada baiknya saya berkaca, mungkin yang punya karakter tong kosong ini adalah diri saya sendiri. Sehingga sampai ketikan di paragraf ini, saya hanya nyaring menulis mengumbar kata hingga belum masuk pada substansinya.

Okay, tanpa berlama-lama saya ingin masuk pada pokok bahasan. Filosofi tong kosong ini ingin saya kaitkan dengan banyaknya tokoh di media sosial yang lebih menimbulkan kegaduhan ketimbang memberi pendidikan. Lewat unggahannya, entah itu tertulis atau gambar, banyak dari mereka ini yang sejatinya justru memberi pengaruh buruk (bad influencer).

Dalam buku The Social Media Bible l yang ditulis Lon Safko dijelaskan mengenai sosial media yang punya muatan untuk memberi pengaruh baik dan buruk. Salah satu tujuan sosial media adalah transfer ide. Ada unsur memengaruhi baik faktor kepentingan bisnis, ideologi, maupun politik.

Proses sosialisasi yang berlangsung di dunia maya itu punya karakter unik. Sebab, mayoritas pengguna media sosial berada di posisi pendengar atau pengikut (followers). "Cara umum sosial media bekerja adalah mendengar terlebih dahulu, memahami konteks pembicaraaan, barulah mereka (pengguna) berbicara (bersikap) di akhir," begitu penjelasan Social Media Bible.

Fase (1) mendengar, (2) memahami, (3) bersikap ini menjadi kunci dari setiap gerakan yang muncul di sosial media.

Lantas siapa yang menjadi sumber pendengaran masyarakat di sosial media saat ini?


Biasanya sumber suara yang didengar adalah orang yang punya pengaruh. Istilah kerennya disebut 'selebritas' media sosial. Selebritas inilah yang menjadi buzzer untuk membela kelompok atau kepentingannya. Selebritas media sosial ini kerap menyamar dengan baju aktivis atau pegiat media.

Celakanya banyak dari selebritas ini yang justru seperti tong kosong. Hanya gaduh dengan propaganda kebencian demi tujuannya, tapi isi serta keredibilitasnya omong kosong belaka.

Makin runyam apabila sejak awal tong-tong kosong yang berbunyi nyaring ini dipercaya masyarakat dan jadi sumber pandangan utama kaumnya. Walhasil jika yang didengar saja salah, yang diterima netizen adalah pendengaran yang salah dan cara bersikap yang salah pula.

Hingga akhirnya tokoh tong kosong ini bisa membuat followers mudah dipengaruhi akibat propaganda trending yang mereka ciptakan. Padahal, trending itu hanya berbunyi nyaring tanpa isi kebenaran. Hoax pun jadi konsumsi sehari-hari.

Saya juga ingin mengutip pandangan ahli geopolitik Timur Tengah Dr Christof Lehmann dalam artikel The Arab Spring story in a nutshell: Fake springs, post-modern coup d’etat" yang dimuat Global Reasearch. Pandangan Lehmann mengacu pada kecenderungan media masuk dalam pusaran besar propaganda politik di media sosial.

Dia mengambil sampel kasus Arab Spring 2011. Menurut dia, media menjadi bagian permainan besar yang melibatkan aktor-aktor bayaran yang punya tujuan untuk menghancurkan. Ibarat tong kosong, mereka ini hanya bertujuan membuat kegaduhan. Menggiring rakyat untuk terpecah belah dan saling membenci.

Menurut Lehmann, aktor-aktor di sosial media ini punya backup kekuatan modal dan beking politik tertentu. "Narasi gerakan yang mereka bangun (di media sosial) persuasif dan menipu. Mereka secara khusus menggunakan pemikir progresif, media, dan aktivis untuk mendorong gerakan (di media sosial)," kata Lehmann.

Arab Spring sudah menjadi contoh bagaimana potensi destruktif yang ditimbulkan tong kosong ini. Karena itu, penting bagi kita untuk mengkritisi siapa pun yang kini menyandang status selebritas sosial media, entah itu pangkatnya ustad betulan atau jadi-jadian. Ini agar kita tak mengimpor sosok tong kosong ini ke dalam negara kita tercinta.

Antara Tong Kosong, Felix Siauw, dan Abu Janda

Kebetulan di Indonesia saat ini ada dua sosok 'seleb' media sosial yang sama-sama punya banyak pengikut, yakni Felix Siauw dan Permadi Arya alias Abu Janda. Kebetulan dua sosok ini sama-sama baru saja viral lewat perdebatannya pada sebuah acara dialog di stasiun televisi swasta.

Kedua tokoh yang sama-sama dipanggil ustaz oleh pengikutnya itu mewakili dua kelompok berbeda. Mari kita sama-sama membedah latar belakang keduanya. Ini agar tak ada lagi tong kosong di antara kita.

Untuk sosok Felix Siauw kita akan dengan mudah mencari tahu sepak terjangnya. Dia punya banyak karya yang bisa kita jumpai di toko buku-buku besar. Salah satunya buku best seller-nya Muhammad Al-Fatih 1453. Buku ini mendapat apresiasi luas dari kalangan pembaca terkait gaya penulisan dan isinya yang baik.

Di sisi lain, nama Felix jadi semakin dikenal karena dalam beberapa kesempatan usaha dakwahnya di beberapa daerah mendapat penolakan. Felix dianggap anti-NKRI karena dituding menyebarkan ajaran khilafah. Label-label anti-keberagaman dan anti-Pacasila disematkan padanya. Di sisi lain, Felix sendiri sejatinya hidup di tengah keberagaman keluarganya yang beda keyakinan.

Nah, di sisi lain Abu Janda adalah orang yang memproklamirkan diri sebagai orang yang pro-keberagaman. Dia pun mengklaim pro-Pancasila. Sama seperti Felix, pengikut Janda memanggil dirinya ustaz. Tapi di sisi lain, Janda ini kerap menyerang dan menuding secara verbal orang-orang yang dipetakannya sebagai kelompok intoleran, anti-NKRI, dan anti-Pancasila.

Tuduhan ini kerap dilemparkannya di sosial media. Hingga akhirnya mulai terdengarlah nama Abu Janda hingga ke dunia nyata. Tapi untuk melacak karya dan riwayat si Janda ini agak sulit.

Karyanya sulit dilacak selain unggahan di media sosial. Latar belakang pendidikannya juga agak sulit ditelusuri. Saat mencari artikel tentang si Janda ini, malah yang ditemukan adalah bantahan NU soal kaitan sosok Abu Janda ini.

"Dengan nama akun yang tidak jelas, kita mesti berhati-hati dengan akun model Abu Janda ini. Selain tidak jelas profilnya, kita masih meraba motif dan kepentingannya apa,” ujar Kepala Satuan Koordinasi Nasional (Kasatkornas) Banser H Alfa Isnaeni lewat artikel yang dimuat laman NU.or.id, 9 Januari 2017.

Terlepas dari sosoknya yang sulit dilacak, Abu Janda akhirnya tampil di dunia nyata lewat perdebatannya dengan Felix Siauw di sebuah acara televisi swasta. Lucunya di acara itu, pria yang di akunnya melabeli diri sebagai ustaz itu justru mengaku bukanlah ustaz.

Yang lucu lagi adalah saat Abu Janda berbicara dengan membawa data berupa gambar soal bendera panji Rasulullah. Data yang sudah dia persiapkan itu ternyata dibantah habis oleh Felix Siauw yang menyatakan data tersebut salah.

Hingga akhirnya, Abu Janda jadi sasaran olok-olok netizen. Terlebih dia kemudian membahas soal hadist dhaif yang kemudian dikritisi oleh tokoh NU, Mahfud MD. Mengaku NU tapi ternyata karakternya dinilai sama sekali bukan NU. Lantas siapa sebenarnya Abu Janda ini?

Sontak orang jadi mempertanyakan kredibilitas seorang Abu Janda yang begitu gahar di dunia maya tapi melempem di forum diskusi dunia nyata. Tapi apa pun itu, saya tak setuju dengan orang yang langsung melabeli Abu Janda sebagai sosok tong kosong. Sebab kekeliruan adalah hal yang wajar bagi setiap manusia.

Tapi sebagai sosok publik agaknya Abu Janda memang mesti belajar lebih dalam lagi agar suaranya bisa lebih berbobot dalam memukul lawan debat di dunia nyata. Ini pun agar bisa membedakan warna dan ciri bendera-bendera dalam sejarah. Sebab kalau warna kuning bukannya bendera panji Rasulullah melainkan bendera parpol.

Namun pada sisi lain pula, saya juga setuju dengan pandangan Abu Janda soal Pancasila dan keberagaman. Sebagai warga yang cinta negara, Pancasila dan keberagaman memang sudah menjadi harga mati yang tak bisa ditawar lagi.

Tapi Pancasila dan keberagaman hanya bisa ditegakkan dengan pendidikan. Sebaliknya musuh sesungguhnya Pancasila bukan khilafah melainkan kebodohan.

Mengakhiri tulisan ini, izinkan saya mengutip penggalan lagu Slank berjudul 'Tong Kosong':

"Tong kosong nyaring bunyinya,

tetapi tong kosong banyak bicara,

oceh sana sini gak ada isi,

otak udang ngomongnya sembarang."

Penulis: Abdullah Sammy, wartawan Republika