Si Pesek Janda Syariah


"Si Pesek Janda Syariah"

Oleh Saidul Tombang*
(Jurnalis dan kolumnis)

Rina Nose si hidung pesek? Saya lebih mengenalnya dengan si janda syariah. Dalam sebuah guyonannya, dia dengan bangga menyebut diri sebagai "janda syariah" di tengah teman-teman artisnya yang juga janda.

Mengapa janda syariah? Karena dia memakai jilbab. Karena dia sudah hijrah. Karena dia semakin cantik dengan busana gaya barunya. Karena, walaupun menjadi host comedy traveler hingga ke negeri kafir, dia tetap tampil dengan hijabnya. Tetap mempertahankan status janda syariahnya.

Tapi kemudian dia membuka hijabnya. Kembali ke masa lalunya. Perlu waktu dua hari bagi saya untuk memastikan kabar kekufurannya. Perlu waktu sampai seminggu untuk mendapatkan alasannya membuka hijabnya. Dan, bagi saya butuh waktu seumur hidup untuk memaafkan alibinya, kenaifannya, dan tentu saja status janda syariahnya.

Ketika dia sudah tak pakai hijab, tentu status janda syariahnya akan hilang. Pastilah dia tidak akan bangga menyebut dirinya janda syariah. Lalu, ketika dia tidak lagi dipanggil janda syariah, akan dipanggil apa perempuan bernama asli Nurina Permata Putri itu?

Ya, Rina "Nose". Seperti itulah nama panggung yang membesarkannya. Rina "Nose" berarti Rina "si Hidung". Lalu si hidung apa? Mengapa dia menisbatkan namanya pada hidung? Karena hidungnya mancungkah? Karena pesekkah? Ya, karena pesek. Dan, Rina berjualan di layar kaca memang karena hidungnya yang pesek. Kalaulah dia mancung mungkin lain lagi ceritanya. Bisa saja dia tidak selaris ketika dia memakai nama Rina si Hidung.

Lalu, apa yang salah dengan pernyataan Ustad Abdul Somad yang menyebutnya si pesek? Tak ada. Tidak menghina. Tidak memfitnah. Bahkan kalau UAS, singkatan nama sang ustadz, menyebutnya Rina si Mancung itu akan bernilai fitnah dan menghina.

Apakah salahnya ketika UAS menyebutnya jelek? Pertanyaannya memangnya Rina itu cantik? Kalaupun cantik, lebih cantik mana ketika dia memakai hijab atau ketika melepas hijab? Anak saya yang masih umur 9 tahun pun menyebut bahwa dia cantik ketika memakai hijab.

Lebih jauh, apakah pernyataan UAS bagian dari bullying? Menurut saya tidak. Pernyataan UAS adalah sikap. Itu adalah sikap muslim yang seharusnya. Sebagai panutan, UAS memang harus menyampaikan sesuatu pada batasnya. Dan batasnya ya itu, menyebut Rina dengan sebutan yang mengingatkannya bahwa dia hina karena dia menghinakan agama Allah. Mengingatkan dia bahwa dia bukan siapa-siapa ketika dia mengingkari syariat Allah.

Rina harus diajari bahwa beragama bukan suka-suka dia. Tuntutan berhijab itu wajib selagi dia masih muslimah. Ketika dia tidak memakainya, mungkin sebagian orang bisa menutup mata. Tapi ketika dia memgingkari syariat lalu menantangnya, dia akan berurusan dengan umat Islam lainnya.

Pada kapasitas ini, sikap Rina memang harus diperangi. Salah satu siyasah peperangan itu adalah mematahkan argumennya yang mengingkari syariah. Kita memang harus sombong untuk mematahkan kesombongan kaum fasik. Kita memang harus keras kepada orang-orang yang mencoba memerangi aqidah kita.

Kalau ada dua sikap yang harus kita pilih, mendukung Rina atau UAS, sudah sepatutnya kita memihak kepada sikap UAS. Karena dia adalah ulama kita. Dia adalah pemimpin kita. Ulama itu adalah pewaris para nabi. Jangan terkecoh dengan framming opinion yang diusung kaum yang memang sudah benci pada Islam sejak dia masih orok.

Bersyukurlah Rina karena diingatkan UAS, walaupun dengan cara sinis dan sadis. Karena sikap UAS itu belum seujung kuku dibanding azab yang disediakan Allah di neraka bagi yang membuka auratnya.***

__
Sumber: fb penulis