Membenci Habib Rizieq Shihab


[PORTAL-ISLAM.ID]  "Ga salah koh Zeng Wei Jian? Temen kampus saya banyak yang benci (HRS) walaupun dia ISLAM?" tulis Netizen X.

I don't have the right to airing a comment. Itu domainnya sesama muslim. Saya nggak punya kompetensi berkomentar soal itu.

Saya punya beberapa teman satu type. The secondary haters. Mereka kerja di US Aid, NGO, feminist, LGBT, pluralis palsu, sekular, liberalis uneducated, stupid leftist, dan job-seekers.

Opini mereka miring semua. Ngaco. Sok tau. Keminter. Weird. Bikin ngakak. Saat mereka berargumentasi, kedengarannya cuma blup-blup-blup.

Mereka korban hoax, framming media, spin, propaganda merah. Pembenci utama Habib Rizieq Syihab adalah drug-dealers, mucikari, bos-bos underworld, penjual gadis dan koruptor. Teman-teman saya, cuma terima info tersier.

Nyatanya, Habib Rizieq orang baik. Bagaikan Singa Gurun Pasir. Ulama besar. Rendah hati. Humoris. Ilmunya tinggi. Bukan penyuka publikasi.

Saya ingat, hujan gas-gas air mata di Aksi 411. Seorang mantan Kopassus ex anak buah Pa Prabowo Subianto sembunyikan saya dalam ruang kerja Pamdal Gedung MA. Mata perih. Merah. Sakit akibat gas air mata rasanya pedas. Seperti ada knalpot di dalam paru-paru.

Habib Rizieq Syihab ada di atas mobil komando. Ditembaki gas air mata. Bertubi-tubi. Alamak, dia santai aja. Nggak ngacir. Nggak panik. Dia bertahan. Supaya microphone tidak jatuh ke tangan penjahat.

Bila microphone jatuh ke tangan penyusup, Komando palsu bisa dirilis. Triger chaoz. Jutaan massa nggak bisa ditahan peluru. Istana jebol. Tumpah darah. Rezim ambruk. Jakarta in turmoil. Banyak petualang politik. Penjarahan, pembunuhan, bisa terjadi malam itu.

Untung ada Habib Rizieq Syihab. Dia ngerti situasi. Dia bertahan. Saya melihat Salahuddin Al Ayyubi bersurban hijau.

Rasa benci orang-orang itu sifatnya irasional. Mereka menderita adrenaline "high" intoxication. Mabok adrenalin. Dengan membenci Habib Rizieq, mereka mengira bisa buy back their self-worth. Merasa punya godlike power. Padahal, dongo sempurna. In another parlance: Schizoprenia.

Rasa benci itu berasal dari cultivated long-time anger. Para pembenci Habib Rizieq pasti menderita "emotional damage". Mereka menikmati rasa benci itu, like sex or drug. Kernberg menyebutnya "pleasure in hatred".

Sedangkan Charles Darwin melukiskan kebencian sebagai "intense form of dislike". Menurut Darwin, Animals display "aggression," or "rage." They don't hate each other. Cuma manusia insecure yang punya rasa benci.

Mereka berfantasi macam-macam mengenai Habib Rizieq. Fantasi ini bertransformasi jadi hatred. Menurut "Freudian" Melanie Klein, rasa benci itu merupakan "powerful denial mechanism" yang menciptakan pseudostupidity about the world.

Gimana nggak bodoh, those haters pasti kalah bila debat agama, politik, sosial-ekonomi dengan Habib Rizieq. Bukannya levelnya. Mau main kasar, ora punya massa.

Satu-satunya cara selamatkan muka dan harga diri mereka adalah cemo'oh. Dengan begitu, mereka merasa pintar.

Penulis: Zeng Wei Jian