Catatan Perempuan: HOTEL, SPA & ENTERTAINMENT ALEXIS


HOTEL, SPA & ENTERTAINMENT ALEXIS

Oleh: Agnes Marcellina*

Tempat tempat hiburan di kota kota besar bukan hanya satu atau dua buah saja tetapi menurut informasi cukup marak dan jumlahnya kalau dihitung bisa sangat banyak. Tempat tempat tersebut dikemas dengan nama panti pijat, spa, salon, karaoke dan lain lain tetapi tidak sedikit yang di dalamnya menyediakan hiburan asusila.

Kebetulan selama 17 tahun saya berkecimpung di dunia usaha yang didominasi oleh hampir semuanya laki laki. Usaha saya adalah sebagai broker di bidang perikanan dan kerap mendapatkan kunjungan pembeli dari luar negeri.

Awal-awal dalam melakukan usaha ini, partner bisnis saya dari Korea menyukai hiburan karaoke dan minuman keras sehingga 17 tahun yang lalu mau tidak mau saya sering mengunjungi tempat karaoke saat dia berkunjung ke Jakarta atau pun kota kota lain di Indonesia. Saya tidak pintar menyanyi dan mungkin juga kurang suka menyanyi karena menyadari bahwa suara saya sama sekali tidak merdu saat bernyanyi.

Biasanya ditemani oleh pemilik pabrik sebagai suatu usaha menjamu importir tersebut agar membeli barang mereka. Di tempat karaoke saya hanya menjadi penonton saja karena tidak mau menyanyi dan tidak mau minuman keras dan saya terus berkomitmen dengan hal tersebut karena profesionalisme buat saya menjadi modal utama dalam bekerja dan saya bukan entertainer sehingga merasa tidak berkewajiban untuk mengentertained pembeli.

Terus terang saat melihat suasana di tempat hiburan malam seperti itu, saya miris sekali melihat perempuan perempuan muda ber make up sangat tebal yang dipajang seperti boneka dalam ruangan berkaca kemudian laki laki memilih mereka. atau mereka masuk kedalam ruangan berbaris dan dipilih, yang tidak terpilih meninggalkan ruangan. Saya merasakan suasana pelecehan betul terhadap status perempuan. Saya tahu bahwa ada juga dari mereka yang merupakan korban human trafficking (perdagangan manusia), ada juga yang ingin mencari uang dengan mudah, ada yang terpaksa harus bekerja disitu untuk membantu keluarga dan sulit mencari pekerjaan di tempat lain dan sebagainya.

Setelah usaha saya mapan dalam membina hubungan bisnis dengan clients, lama lama saya mencari alasan untuk tidak ikut bergabung saat waktunya hiburan malam, hanya sampai makan malam saja kemudian saya pulang dan meminta kawan laki laki atau pemilik pabrik untuk melanjutkan sisa hari setelah deal bisnis di siang hari.

Ya benar bahwa di tempat tempat seperti itu, tempat seperti ALEXIS telah terjadi transaksi yang boleh kita sebut asusila tetapi mungkin dalam versi mereka sebutannya menjadi lain lagi tetapi intinya ada transaksi seksual. Mereka dibawa ke hotel tempat dimana tamu menginap. Saat itu beberapa tahun yang lalu tarif untuk perempuan Rusia/Kroasia dan Eropa Timur seharga 5 juta rupiah per malam, perempuan Thailand dan China 3 juta rupiah dan perempuan Indonesia 2 juta rupiah.

Tempat lain yang terselubung adalah panti-panti pijat yang ada di daerah Mangga Besar. Salon dan spa menyediakan pijat plus plus, di lakukan di tempat tersebut dengan biaya yang relatif murah mulai dari 300.000 sampai 1.000.000 rupiah saat itu. Ada juga restoran dimana perempuan tanpa baju berbaring diatas meja dan diatas tubuhnya ditabur makanan makanan yang akan dinikmati oleh para lelaki hidung belang tersebut. Ada juga di sebuah tempat hiburan di Jl. Gajah Mada di lantai 5 yang terdapat kolam renang, para pramusaji perempuan muda bertelanjang dan tidak memakai satu helai pakaian pun. Penjagaan disana super ketat dan hanya anggota saja yang diperbolehkan masuk. Astaga….. ternyata bukan cerita di luar negeri saja yang menyediakan hiburan asusila tetapi di tempat yang sangat dekat dengan kita semua yaitu JAKARTA.

Semoga Gubernur dan Wakil Gubernur yang baru ANIES – SANDI dapat menertibkan lebih banyak lagi tempat tempat seperti Alexis dan menyediakan lapangan pekerjaan yang bersusila untuk para perempuan muda tersebut dan menggiring warganya menjadi sejahtera dan bahagia.

Sebagai seorang perempuan, ya betul saya merasa prihatin, miris dan terhina melihat hal hal nyata tersebut. Di satu sisi diharapkan perempuan untuk maju, berjuang dan setara dengan laki laki tetapi di sisi lain kita harus menghadapi kenyataan bahwa perempuan dieksploitasi, didiskriminasi dan yang terburuk adalah perempuan perempuan yang mau dirinya dilecehkan.

Saya, Agnes Marcellina menyerukan kepada perempuan perempuan Indonesia untuk menjadi srikandi srikandi yang tangguh, bermartabat untuk turut serta membangun bangsa ini dengan lebih baik dan beradab. Menjadi ibu sebagai pionir dalam keluarga yang mendidik anak anaknya menjadi manusia Indonesia yang berkualitas.

Salam Indonesia Raya.

__
Sumber: fb penulis