Anis Matta: Membaca Kelemahan Gerakan Islam


Membaca Kelemahan Gerakan Islam

Oleh: Anis Matta*

Kegelisahan aktivis dakwah bukanlah kegelisahan sendirian, tetapi sudah menjadi kegelisahan global. Karena memang sedang ada krisis di tingkat global dan juga di tingkat Gerakan Islam (Harokah Islam). Krisis global ini kalau salah dibaca oleh Gerakan Islam, maka akan berdampak pada hilangnya peran Gerakan Islam dalam proses-proses perubahan global.

Arab Spring terjadi bukan karena menguatnya Islam Politik tetapi lebih faktor-faktor alamiah yang terjadi dan menjadi unsur-unsur syarat lahirnya sebuah revolusi.

Arab Spring terjadi karena beberapa hal:

1. Adanya masalah kolektif yang dirasakan oleh rakyat secara keseluruhan dalam waktu yang lama
2. Adanya tirani yang membelenggu kebebasan rakyat dalam waktu yang lama
3. Adanya kesadaran elit yang mampu memobilisasi rakyat untuk bergerak dengan agenda bersama

Jadi Arab Spring terjadi karena faktor-faktor tersebut bukan karena dukungan publik terhadap Islam Politik yang dijalankan Gerakan Islam.

Dan inilah yang terjadi di Gerakan Islam, Gerakan Islam membaca bahwa Arab Spring adalah menguatnya dukungan Islam Politik, padahal Arab Spring terjadi karena memang harus terjadi karena faktor-faktor atau unsur-unsurnya sudah terjadi.

Adanya masalah dan adanya tirani dalam waktu yang lama inilah yang membangkitkan kesadaran rakyat dan diwaktu yang bersamaan Gerakan Islam adalah organisasi yang organik, kuat dan solid yang berhasil memobilisasi rakyat untuk agenda bersama.

Jadi dalam Arab Spring, Gerakan Islam adalah unsur elit (unsur ke-3) yang mampu memobilisasi rakyat untuk bergerak dengan agenda bersama.

Situasi Arab Spring dan situasi yang terjadi pasca Pilpres USA adalah wujud dari krisis di tingkat global. Dalam kasus Pilpres USA (Trump) ini adalah efek dari keruntuhan rezim ekonomi kapitalis dan demokrasi liberal, terjadinya proses tatanan dunia baru dikarenakan berkurangnya dominasi USA dan kawan kawannya terhadap ekonomi global dan menguatnya ekonomi lokal dalam percaturan ekonomi dunia, sehingga tatanan dunia baru sedang ingin mencapai titik equilibrium (keseimbangan).

Kemenangan Trump dalam Pilpres USA di lapangan sangat terasa bau campur tangan Rusia dan Cina, sehingga sampai hari ini krisis pasca Pilpres masih melanda USA.

Krisis Manhaj

Dari sisi Gerakan Islam, manhaj dakwah yang disusun secara sistematis oleh Pendiri Gerakan Islam dari mulai bina’ul fardi (membentuk pribadi Muslim), bina’ul usroh (membina keluarga Muslim) sampai ustadziatul ‘alam mengalami kekosongan manhaj di tingkat pengelolaan masyarakat dan pengelolaan negara. Dalam murotibul amal, maka yang narasinya komprehensif adalah pada aspek bina’ul fardi dan bina’ul usroh.

Gerakan Islam pada aspek bina’ul fardi dan bina’ul usroh pengetahuan dan amal A sampai Z nya sangat faham karena memang pada fase itu Gerakan Islam sudah khatam dan merealisasikan semua pengetahuannya dengan eksekusi amal nyata.

Tetapi pada aspek pengelolaan masyarakat dan pengelolaan negara di sini ada kekosongan manhaj, dalam situasi dan kondisi hari ini itulah yang namanya “krisis manhaj”.

Gerakan Islam belum sampai menyiapkan perangkat-perangkat yang komprehensif dalam aspek mengelola masyarakat dan negara dengan situasi dan kondisi yang sangat drastis perubahannya.

Dunia hari ini mengalami perubahan orang, teknologi dan sistem secara global, manhaj Gerakan Islam belum bisa menjawab itu, belum ada perangkat-perangkatnya, sehingga dibutuhkan kerja fikiran dan kontribusi dalam mengatasi hal tersebut.

Kegelisahan-kegelisahan kader Gerakan Islam adalah refleksi dari "hidupnya" Gerakan Islam, karena kegelisahan itulah yang menggerakkan orang untuk sadar dan bergerak mengambil perannya. Kegelisahan-kegelisahan kader terhadap situasi kondisi hari ini harus dirubah dari sekedar “curhat” menjadi amal dan kontribusi nyata.

Pertanyaan yang harus ditanyakan dalam setiap diri kader adalah: kontribusi apa yang bisa saya lakukan pada saat ini dan yang saya pertanggung-jawabkan secara individu dihadapan Allah SWT? Dihadapan Allah kita tidak ditanya kita anggota Gerakan Islam atau anggota partai dakwah atau bukan. Tetapi kita akan ditanya amal pribadi kita.

Jamaah adalah faktor pengganda amal, kalau kita sholat sendiri di rumah sah tapi dapat pahala 1, tetapi ketika sholat berjamaah kita dapat pahala 27, jadi berjamaah adalah faktor pengganda amal. Jadi ketika kita berjamaah maka kita sedang melakukan amal fardi agar kita dapat melipatgandakan pahala di hadapan Allah SWT. Amal kita di dalam berjamaah adalah amal fardi kita yang akan kita pertanggung-jawabkan dihadapan Allah SWT.

Penerimaan dan penolakan dalam amal jama’i tidak relevan mempengaruhi amal dakwah kita, karena kita beramal di dalam jamaah adalah wujud kontribusi kita terhadap dakwah dan amal soleh fardi yang harus dipertanggung-jawabkan di hadapan Allah SWT, dalam hal ini kita harus menjadi orang yang “istiqlal dzatiyah”, merdeka secara personal, pilihan-pilihan hidup kita adalah amal yang harus dipertanggung-jawabkan di hadapan Allah SWT. Setelah “istiqlal dzatiyah” maka kita harus senantiasa “ikhlasu niyat” (mengikhlaskan niat) bahwa semua pilihan-pilihan amal kita adalah karena mencari ridho Allah SWT.

Jadi kegelisahan-kegelisahan kita terhadap situasi dan kondisi Harokah Islam saat ini adalah dikarenakan kekosongan manhaj atau krisis manhaj terhadap situasi yang sedang terjadi.

Gerakan Islam hari ini belum memiliki “tools” dalam menghadapi zaman ini. 18 tahun memasuki amal siyasi adalah bekal dalam mengisi kekosongan manhaj. Exercise amal siyasi kita dapat menjadi pijakan dalam mengisi krisis manhaj, namun tidak cukup itu, dibutuhkan budaya yang dapat mengisi kekosongan manhaj tersebut, yaitu:

1. Tradisi pengetahuan. Semua peristiwa yang terjadi sesungguhnya dapat dibaca secara scientific. Sebagai kader dakwah tradisi pengetahuan ini harus selalu tumbuh, karena kita butuh banyak pengetahuan untuk membaca peristiwa. Karena setiap peristiwa akan terjadi perubahan dalam membaca seiring waktu dan usia, peristiwa reformasi ’98 kita akan berbeda membacanya pada saat itu dan pada saat sekarang, istilahnya terjadi “penggelembungan”, dalam hal ini dibutuhkan ragam pengetahuan agar kita dapat tepat membaca zaman dan membaca peristiwa.

2. Menghilangkan “block-mind” (belenggu pemikiran). Gerakan Islam tidak boleh anti dengan hal-hal baru atau pemikiran-pemikian baru, karena zaman ini dibutuhkan pemikiran-pemikian baru bahkan generasi baru untuk mengelolanya. Sehebat apapun pengetahuan di sekitar kita tetapi kalau ada “block-mind” maka pengetahuan dan informasi tesebut tidak bisa diserap.

3. Membangun visi. Semua kenyataan yang terjadi pada saat ini maka sebelumnya sudah lahir dalam alam fikiran. Pendiri Gerakan Islam merumuskan murotibul amal sampai “ustadziyatul ‘alam” pasa usia 20 tahunan dan dalam kondisi Mesir dibawah penjajahan. Visi pada situasi tersebut bukan sekedar memerdekakan Mesir seperti halnya Soekarno visinya memerdekakan Indonesia, Pendiri Gerakan Islam lebih visioner lagi targetnya sampai “ustadziyatul ‘alam”.

Ke-3 hal ini adalah upaya-upaya yang bisa kita lakukan di tempat masing-masing.

Persolan Gerakan Islam saat ini adalah menyerahkan kerja-kerja pikiran atau kerja-kerja ideologi kepada para qiyadah (pimpinan), padahal setiap kader dakwah harus juga melakukan kerja-kerja pikiran. Mental “antum aja ustadz yang mikir, ane tinggal diarahin dan menjalankan” sudah harus dijauhkan.

Krisis Eksistensial

Persoalan berikutnya Gerakan Islam adalah masalah eksistensial. Krisis eksistensial dipengaruhi oleh krisis pertama yaitu krisis manhaj. Krisis manhaj membuat gerakan Islam gagap membaca zaman dan membaca peristiwa, ketika gagap membaca zaman dan membaca peristiwa maka Gerakan Islam gagap merespon dan bertindak dengan tepat.

Kegagapan membaca zaman dan peristiwa akan berdampak pada eksistensi Gerakan Islam. Contoh di Mesir dimana Gerakan Islam berhasil memimpin 11 bulan yang kemudian dikudeta dan para pimpinannya dipenjarakan. Kita lihat komunis yang akhirnya runtuh ideologinya. Tetapi kita bisa lihat Revolusi Iran yang bisa bertahan hampir 40 tahun hingga sekarang.

Hasil survey mutakhir kombinasi suara Golkar dan PDIP itu mencapai kisaran 42% sedangkan kombinasi suara Gerindra dan Demokrat mencapai kisaran 23%, suara partai-partai Islam hanya mencapai 16%.

Partai nasionalis mencapai kisaran elektabilitas 65% bandingkan dengan gabungan partai-partai Islam yang cuma sampai 16%.

Kalau situasinya konstan maka bisa jadi gabungan partai-partai nasionalis bisa mencapai 85%. Situasi pada hari ini mencerminkan ancaman eksistensi partai-partai Islam. Tapi ada hal yang menarik dalam Aksi 411 dan 212 yang tidak di prediksi banyak orang.

Semua informasi intelijen dan aparat keamanan tentang jumlah yang hadir pada 411 dan 212 tidak akurat, tidak bisa diprediksi. Karena cara negara membaca 411 dan 212 juga dengan menggunakan tools yang salah. Cara negara membaca jumlah peserta aksi 411 dan 212 dengan metode info teritorial dan hirarki, tidak ada tools lain dalam membacanya.

Tidak ada pimpinan ormas, habaib atau siapapun yang bisa memobilisasi orang sebanyak itu, karena massa digerakkan oleh nilai dan agenda bersama. Aksi 411 dan 212 adalah aksi demo terbesar sepanjang sejarah Indonesia merdeka, massa dengan inisiatif sendiri, dengan biaya sendiri dan sebagian besar bukanlah aktivis pergerakan tetapi berkumpul dalam jumlah besar.

Pelajaran dari aksi 411 dan 212 buat Gerakan Islam:

1. Terjadinya kesadaran Islam secara kolektif, orang sadar akan agamanya.
2. Terjadi kesadaran Islam di kalangan ummat tentang kepemimpinan Islam.
3. Aksi 411 dan 212 adalah bukti bahwa ummat siap bersatu dan digerakkan apabila ada agenda bersama.
4. Minimnya peran partai politik dalam menyerap aspirasi umat digantikan dengan ormas.

Pelajaran ini harus dipahami oleh Gerakan Islam bahwa eksistensi parpol Islam terancam digantikan oleh ormas-ormas Islam.

Melihat aksi 411 dan 212 Gerakan Islam harus melihat dengan 2 pendekatan:

1. Gerakan Islam harus melihat 411 dan 212 adalah masalah aqidah tidak ada hubungannya dengan politik apalagi pilkada. Justru ini adalah panggilan keimanan bagi kader-kader Gerakan Islam atas doktrin yang mereka yakini “Al Quran Dusturuna”. 411 dan 212 adalah kemarahan karena Allah dan Rasul-Nya, tidak ada hubungannya dengan politik, pilkada apalagi makar. Jadi 411 dan 212 adalah kewajiban kader Gerakan Islam untuk turun sebagai bukti pembelaannya atas nama aqidah.

2. Aksi 411 dan 212 dengan massa jutaan itu wajar kalau ada yang "mengambil manfaat". Pedagang seputar Monas ambil manfaat, pengusaha bus ambil manfaat, tukang kaos ambil manfaat, travel-travel ambil manfaat, tukang ketoprak, tukang lontong sayur juga ambil manfaat, apalagi mungkin ada aktor politik ambil manfaat, itu wajar terjadi. Tapi apakah karena ada yang mengambil manfaat ketika kita menjalankan kewajiban aqidah kita terus kita membatalkan menjalankan kewajiban? Kemungkinan aksi 411 dan 212 dimanfaatkan oleh "agenda politik" mungkin saja tapi jauh dari upaya makar atau revolusi, tapi apakah karena kemungkinan dimanfaatkan oleh agenda politik kemudian Gerakan Islam melarang kadernya untuk turun?

Jadi aksi 411 dan 212 adalah murni pembelaan aqidah kita, tidak ada hubungannya dengan politik apalagi dengan pilkada. Menurunnya elektabilitas parpol Islam dan fenomena 411 dan 212 disebabkan karena gagalnya parpol Islam menawarkan “ideologi” bersama.

Gerakan Islam harus merumuskan ideologi baru yang bisa menaungi Islam, negara dan rakyat. Ideologi baru ini yang harus dikomunikasikan oleh para elit politik bangsa.

Al Quran menyebut penguasa itu dengan kata “al Mala” (elit politik). Jadi bukan satu orang penguasa tapi bersama kawan-kawannya dari berbagai macam bidang (seperti Haman atau Qorun dalam kisah Firaun).

Eksistensi Gerakan Islam bukan sekedar menang pemilu atau jadi presiden tetapi sejauh mana bisa menguasai elit atau dengan kata lain eksistensi Gerakan Islam terwujud apabila Gerakan Islam bisa menawarkan ideologi bersama kepada para elit politik bangsa.

Karena berkuasa belum tentu memimpin. Gerakan Islam bukan sekedar berkuasa tetapi dia harus memimpin, memimpin bukan sekedar negosiasi kepentingan tetapi memimpin harus punya tawaran ideologi.

Ideologi bukan sekedar nilai (value), value hanyalah bagian dari ideologi, narasi juga bagian dari ideologi, banyak aspek yang harus dirumuskan oleh Gerakan Islam terkait dengan ideologi baru yang lebih kompatibel dengan zaman dan stakeholder negara dan itu tantangan Gerakan Islam ke depan.

Situasi saat ini bukanlah salah para pendiri Gerakan Islam, para pendiri yang sudah syahid dan yang sekarang sedang di dalam penjara sudah menyelesaikan pekerjaan mereka, bahkan di Mesir walaupun hanya 11 bulan mereka berhasil menikmati hasil jerih payah mereka selama ini, mereka sudah tuntas menyelesaikan pekerjaannya. Gerakan Islam tetap eksis, tumbuh dan berkembang sampai mencapai “ustadziyatul ‘alam” adalah tugas generasi selanjutnya, tugas kita.

Kembali ke pertanyaan awal : “Apakah yang bisa saya lakukan pada saat ini dan yang bisa saya pertanggung jawabkan di hadapan Allah SWT?”

Maka kesimpulannya adalah Gerakan Islam sedang menghadapi “krisis manhaj” dan “krisis eksistensial”. Dan yang bisa kita lakukan adalah senantiasa menambah pengetahuan secara terus menerus, membongkar kebuntuan berfikir dan selalu memiliki visi ke depan.

Menjadi kader yang “istiqlal dzatiyah” menjadi kader merdeka dan selalu berkontribusi secara real dalam amal nyata sambil selalu meluruskan niat kita bekerja dan berkontribusi hanya untuk Allah SWT.***

(Sumber: http://sulselku.com/membaca-kelemahan-gerakan-islam/)