Anies Baswedan, Arena Pertarungan Baru Raksasa Malio dan Alexis Grup


[PORTAL-ISLAM.ID]  Dunia hiburan malam disebut-sebut sebagai bisnis yang tidak akan pernah merugi. Menilik angka omzet yang fantastis, bisnis hiburan malam mengisyaratkan adanya kebutuhan untuk mendekati para penguasa, agar usaha beromzet miliaran bahkan mungkin triliunan per tahun itu aman dan lancar.

Kabar ditutupnya Alexis sempat menggegerkan dunia persilatan hiburan malam Jakarta. Bukan karena hilangnya surga dunia, namun adanya reaksi keras atas penutupan tersebut dari beberapa kalangan. Salah satu yang sempat mengemuka adalah selentingan bahwa penutupan Alexis merupakan "pesanan" dari kelompok lawan bisnis Alexis, Malio Grup.

Bagi para penggila "jajanan malam Jakarta", Malio Grup bukan nama asing. Malio adalah satu dari dua raksasa penguasa  jagat bisnis hiburan malam Jakarta.

Malio dan Alexis adalah dua raksasa yang saling bersaing merebut hati para penggemar dunia malam. Alexis Grup yang membawahi Zen, Club 3, Colosseum and 1001, Emporium, Tease Club, Play Club dan tentu saja Alexis Hotel.

Sementara Malio Grup yang membawahi Exodus, Kampus, Stadium, Milles Club, Sumo, Classic, Rajamasz Nebula, King Cross, Level V, dan tentu saja Malioboro.

Lazimnya kelompok yang bermain di area bisnis yang sama, kedua raksasa ini juga saling bersaing demi omzet menggiurkan. Mereka juga mendekati lingkar kekuasaan sebagai alat untuk menjatuhkan pesaing.

Contohnya, di era Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, Gubernur DKI Jakarta, ia nampak bersemangat menutup beberapa bisnis hiburan yang dimiliki Malio Grup. Stadium, Kampus, Rajamas dan Milles Club.

Tapi sayang, Ahok tak punya nyali membabat Alexis padahal Hotel tersebut secara jelas dinyatakan oleh Ahok sendiri sebagai "surga dunia". Ahok seperti kaku untuk menghantam bisnis milik Alex Tirta yang dikenal akrab dengannya. Ahok memilih menggebuk Milles dan Stadium, dua lokasi milik Malio Grup.

Setelah Ahok tergusur secara menyakitkan dan Anies-Sandi dilantik sebagai gubernur wagub baru Jakarta, langkah pertama mereka adalah menghentikan perpanjangan izin usaha Hotel dan Griya Pijat Alexis, yang notabene berada di bawah bendera Alexis Grup.

Ada banyak alasan Anies menghentikan surga dunia tersebut. Anies tak peduli citranya hancur di luar negeri setelah beberapa media asing melabelinya Gubernur yang didukung kelompok Islam radikal.

Anies menyakini tindakannya benar sesuai agama, etika dan tentu saja hukum. Namun, pernyataan ulama yang mengkhawatirkan adanya serangan dan tudingan tak terelakkan dari pihak yang tak menyukai penutupan Alexis, juga perlu disimak oleh Anies-Sandi.


“MUI juga berharap bahwa kebijakan tersebut tidak hanya diberlakukan untuk Hotel Alexis tetapi semua hotel dan tempat hiburan lainnya yang menawarkan bisnis prostitusi dan perdagangan orang,” kata Wakil Ketua MUI, Zainut Tauhi Sa'adi dalam pers rilisnya, Selasa, 31 Oktober 2017.

Satu yang masih perlu disyukuri bersama: Alexis sudah selesai.