5 Alasan Setya Novanto Layak Dijadikan Presiden


[PORTAL-ISLAM.ID]  Setya Novanto for President?  Barangkali banyak diantara kita yang langsung mengernyitkan dahi. Orang Sunda pasti akan langsung berkomentar “Aya-aya wae.”  Sementara kata orang Jawa, "ingkang mboten-mboten kemawon". Dalam bahasa Inggris plesetan ala Jogya “not maybe,”  alias tidak mungkin.

Tapi apa sih yang tidak mungkin di dunia ini, apalagi di dunia politik dikenal istilah the art of possibility. Semuanya mungkin-mungkin saja. Selama ada kemauan, disitu ada jalan. There is a will, there is a way.

Jangan selalu berpikir negatif. Mari kita kita kembangkan cara berpikir positif, sehingga kita bisa melihat dengan jernih peluang dan kemungkinan yang terbuka. Setidaknya ada lima  alasan mengapa Setnov layak dan potensial menjadi Presiden.

Pertama, dari sisi popularitas, siapa yang tak kenal dengan Setnov. Kasus kecelakaan mobilnya yang menabrak tiang lampu penerangan jalan membuat popularitasnya melonjak drastis. Jangan-jangan popularitas Setnov saat ini sudah mengalahkan Presiden Jokowi.

Popularitas dalam rezim demokrasi  langsung adalah modal utama seseorang yang ingin mengejar jabatan publik. Dari popularitas tadi,  turunannya menjadi  disukai, dan setelah itu menjadi tingkat keterpilihan (elektabilitas).

Dengan modal popularitas yang tinggi, Setnov dan timnya tinggal membuat program yang bisa menjadikan Setnov disukai publik dan pada gilirannya akan dipilih sebagai presiden.

Barangkali Anda akan menyanggahnya dengan pernyataan, popularitas seperti apa dulu? Setnov benar sangat populer, tapi banyak orang yang tidak suka, bahkan sebel. Soal ini tidak perlu dikhawatirkan.

Siapa yang tidak sebel dengan  Donald Trump yang kasar. Kalau ngomong seenak udelnya. Trump juga diketahui melakukan berbagai pelecehan seksual atas sejumlah perempuan. Trump dimusuhi oleh selebritas papan atas AS.  Para petinggi perusahaan IT termasuk Mark Zuckerberg pendiri Facebook bahkan berkampanye agar rakyat AS jangan memilihnya.

Media massa, bahkan hampir semua lembaga survei memprediksi Trump akan kalah dari Hillary Clinton. Trump juga sering jadi becandaan, dibuat meme, parodi, bahkan  dia juga di-bully habis dalam berbagai  acara talkshow tv. Tapi apa yang terjadi? Trump jadi Presiden AS dalam usia 71 tahun.

Setnov jelas berbeda dengan Trump. Walaupun  pernah bertemu Trump dan hadir dalam salah satu kampanyenya, Setnov orangnya santun. Banyak senyum, dan tidak pernah bicara menyakiti orang lain. Setnov juga tidak pernah terdengar bertindak kasar, apalagi melakukan pelecehan seksual.

Perjalanan hidupnya juga sangat dramatis dan layak dibukukan. Pada masa mudanya Setnov pernah menjadi tukang cuci mobil dan sopir, hingga kini menjadi orang yang kaya raya, memimpin partai besar, dan menjadi pejabat tinggi negara. From zero to hero. Yang perlu dijaga jangan sampai situasi Setnov menjadi from zero to hero,  back to zero.

Bagi jagoan branding situasi dan kondisi Setnov ini gampang sekali di-switch.

Meminjam tagline sebuah produk iklan “Ingat tiang listrik, ingat Setya Novanto,” tinggal diubah menjadi “Ingat Setya Novanto, ingat presiden.”  Kebetulan pula Setnov kan sangat dekat sekali dengan Presiden Jokowi, atau setidaknya sangat dekat dengan Luhut Binsar Panjaitan tangan kanan presiden.

Kedua, Setnov dalam waktu singkat berhasil menyatukan dan menjembatani jurang pemisah  antara kelompok-kelompok yang bertentangan di masyarakat. Pasca Pilkada DKI masyarakat kita terbelah antara Ahoker dan penentang Ahok, dan sekarang antara Jokower dan para penentangnya. Perbedaan tersebut sangat dalam  dan mengarah menjadi bangsa yang terbelah (a divided nation). Menghadapi kasus Setnov,  semuanya bersatu. KOMPAK.

Prestasi Setnov menyatukan haters dan lovers Jokowi tidak mampu dilakukan oleh tokoh-tokoh lain, bahkan termasuk oleh Presiden Jokowi sendiri! Setnov berhasil menjadi solidarity maker, dan membuat masyarakat bersatu melupakan perbedaan diantara mereka. Bersatu dalam lucu.

Tak ada lagi meme saling serang antara kedua kubu. Yang terjadi dua kubu yang berseberangan tersebut bersama-sama, bahkan saling berlomba untuk membuat meme, joke, dan cerita-cerita paling lucu seputar Setnov.

Kecelakaan yang dialami Setnov membuat dua kubu yang berseteru ini,  tanpa dikomando langsung melakukan gencatan senjata.

Tidak perlu dana besar, apalagi menghabiskan anggaran pemerintah seperti kampanye “Saya Indonesia, Saya Pancasila,”  yang digagas oleh Badan Ekonomi Kreatif dan dibintangi oleh Jokowi beberapa waktu lalu.

Ketiga, Setnov berhasil menyebarkan kegembiraan secara merata ke tengah masyarakat Indonesia. Dalam dua hari terakhir mood public berubah menjadi sangat bagus. Banyak orang yang tersenyum-senyum, tertawa, bahkan terbahak-bahak sambil  memelototi gadgetnya.

Setnov berhasil membuat publik melupakan berbagai problem kehidupan sehari-hari, kenaikan harga dan pelemahan daya beli. Dia tidak perlu meminta bantuan profesor untuk membuat justifikasi, bahwa lesunya pasar dan pelemahan daya beli, karena adanya shifting pola belanja publik dari on store ke online.

Orang memang banyak yang tersenyum ketika mendapat kiriman video Presiden Jokowi sedang pidato atau diwawancarai dalam bahasa Inggris, atau ketika Presiden Jokowi melakukan tebak-tebakan nama lima jenis ikan. Tapi tawa mereka tidak selebar ketika membaca joke, atau mendapat kiriman meme dan video tentang Setnov.

Keempat, barangkali ini salah satu yang tidak banyak dimiliki oleh pemimpin kita, cara berpikir Setnov sangat out of the box. Tidak banyak orang yang punya kemampuan seperti Setnov bisa menghindar dari KPK  dengan dua kali masuk rumah sakit. Kalau cuma sekali, banyak dilakukan oleh politisi lain.

Cara berpikir out of the box model Setnov ini sangat penting  bagi para pemimpin negara. Mengelola negara memang tidak bisa hanya dengan cara konvensional dan business as usual. Diperlukan kreativitas, terobosan, inovasi.

Jangan seperti rezim saat ini yang mencoba mengatasi defisit  anggaran negara dengan cara memajaki semua aspek kehidupan rakyat, termasuk pajak ketika ada pasangan yang bercerai.

Cara berpikir seperti itu sangat sederhana, tidak kreatif dan inovatif, bahkan primitif. Dalam soal ini Setnov jauh lebih unggul beberapa ribu langkah.

Kelima, Setnov adalah Ketua Umum Partai Golkar, salah satu partai terbesar di Indonesia. Pada Pileg 2014 Golkar  memperoleh sebanyak 14.75 persen suara nasional. Untuk memenuhi syarat Presidential Threshold 20 persen, tinggal menggandeng satu partai mitra koalisi. Setnov juga Ketua DPR salah satu lembaga tinggi negara. Jadi dari sisi kelayakan, Setnov sudah sangat layak. Tinggal naik kelas sedikit.

Memang ada sedikit masalah yang barangkali bisa mengganjal perjalanan Setnov berkaitan dengan kasus korupsi e-KTP yang kini tengah dihadapinya. Bila ancaman hukumannya sampai minimal lima tahun penjara,  berdasarkan UU No 8/2015 seorang terpidana tidak diperbolehkan mencalonkan diri.

Soal itu tidak perlu khawatir. Semuanya bisa diatur. Belajar dari kasus Ahok yang melakukan penistaan agama dan ancaman hukumannya lima tahun (Pasal 156a KUHP), secara kreatif jaksa penutup menggunakan pasal alternatif 156 KUHP yang ancaman hukumannya paling lama empat tahun.

Ahok oleh majelis hakim pada bulan Mei 2017 dijatuhi hukuman dua tahun penjara. Dengan remisi dan proses asimilasi bila telah menjalankan 2/3 masa hukuman, maka pertengahan tahun tahun depan, Ahok sudah bebas  dan bisa ikut berlaga dalam pileg maupun pilpres.

Pada kasus Setnov lumayan pelik karena para terdakwa e-KTP  telah divonis antara lima sampai tujuh tahun. Salah satunya adalah kolega Setnov di DPR Miryam S Haryani  divonis lima tahun. Jadi lebih memerlukan akal panjang untuk menjaga agar kartu politik Setnov tetap hidup.

Sejarah  mencatat orang-orang besar, adalah orang yang pandai mengubah tantangan, menjadi peluang. Kesulitan menjadi sebuah keuntungan. 

Mari kita amati bagaimana perjalanan politik Setnov dengan pikiran yang terbuka. Bagi Anda yang sekarang sedang tersenyum dan tertawa-tawa  menikmati berbagai kelucuan Setnov dan pengacaranya, nasehat  Sun Tzu dalam buku The art of war perlu direnungkan. “Tampak lemah,  ketika kamu kuat. Dan tampak kuat,  ketika kamu lemah.”

Perjalanan hidup Setnov dan keberhasilannya menjadi Ketua Umum Golkar telah menunjukkan kualitasnya. Di balik sopan santun dan cara bicaranya yang lemah lembut, Setnov adalah figur yang kuat. Hanya para jagoan dan pemenang yang bisa tampil menjadi pemimpin di belantara politik Golkar yang penuh intrik.

Penulis: Hersubeno Arief, Jurnalis Senior