WASPADA! Ini Lima Syndrome Aneh yang Serang Ahoker


[PORTAL-ISLAM.ID]  Sebagian Ahoker memutuskan bersikap positif. Hidup sehat dengan dukung gubernur baru. Mereka sadar, Anies-Sandi legitimate. Dipilih via mekanisme pemilu demokratis.

Tapi ada di antara Ahoker tolak move on. Mereka punya sebentuk "sindrom" i.e. tanda-tanda sebuah "particular abnormality".

Pertama, they feel no guilt. Mereka pernah rusuh di depan LP Cipinang, gebukin pejalan kaki hanya karena pake baju putih, turunkan badai sembako di injury time, kerahkan Iwan Bopeng di TPS, bakar lilin hingga motor-bikers tergelincir dan sebagainya. Sedikit pun mereka ngga merasa bersalah atas aksi-aksi itu.

Kedua, they don't feel emphaty. Hati mereka sehitam aspal. Senang melihat Ahok caci-maki ibu-ibu sebagai maling KJP. Mereka ngga kasian melihat jutaan mujahid sholat Jumat di jalanan diguyur hujan. Mereka ngga sanggup merasakan apa yang dirasakan umat muslim ketika Surah Al Maidah 51 dinodai.

Ketiga, they enjoy making people feel guilty. Mereka terus meraung bahwa Ahok dizolimi. Supaya dunia bersimpati. Seolah mau bikin kontra Ahok merasa bersalah. Mereka sama sekali ngga merasa apa-apa ketika Ahok menggusur warga di banyak titik. Di tangan Ahoker, "rasis" berarti siapa saja yang beda pendapat.

Keempat, they only value themselves. Mereka merasa superior dari siapa pun. Nyaris mengidap God-like syndrome. Ahok is the best. Anies-Sandi disingkat jadi "ASU", artinya...you know what.

Kelima, they’re liars. Sama seperti Ahok. Janji ngga menggusur di masa kampanye. Tapi menggusur secara bringas setelah menjabat. Nyatakan diri well educated, ngatain FPI barbar, tapi rusuh setiap kali demo. Ngaku bukan "panasbung", tapi bukti-bukti foto marak: sehabis demo, mereka pulang bawa "nasbung".

Itu lima ciri-ciri generic Ahoker gagal move-on. Bagi yang ngerti ilmu jiwa, ternyata ini mirip-mirip syndrome pschyopath dan sociopath. Well, that's answer the big question.

Penulis: Zeng Wei Jian
Aktivis KOMTAK