Tampolan PEDAS Aktivis Tionghoa Untuk Budayawan yang Nyinyir ke Anies Baswedan


[PORTAL-ISLAM.ID]  Dalam rangka jatuhkan kredibilitas Anies Baswedan, historian-cum-budayawan (ora jelas) Remy Sylado angkat bicara. Dia bilang Anies ngawur.

Sylado gusar. Dia masalahin stateman Anies yang menyatakan, "Jakarta adalah kota yang paling merasakan penjajahan Belanda di Indonesia. Sebab penjajahan itu terjadi di ibukota. Yang lihat Belanda dari jarak dekat siapa? Jakarta!"

Mestinya, bagi yang ngerti Bahasa Indonesia, statemen ini tidak butuh tafsir. Remy Sylado is another case. He is unique.

Dia mengartikan Jakarta adalah satu-satunya kota yang merasakan kerasnya kolonialisme. Sehingga dia harus kutip-kutip sejarah perjuangan Aceh, Diponegoro, Pattimura, Sisingamangaraja, Sumpah Pemuda dan sebagainya. Sesuatu yang sudah diketahui sejak kita SD.

Padahal, statemen Anies tidak seperti itu. Perhatikan kata "paling" yang digunakan Anies. Itu artinya, bagi Anies (dan semua orang), semua daerah juga alami penindasan kolonialisme. Tapi Jakarta punya pengalaman khusus. Makanya jadi daerah khusus ibukota. Dia jadi "khusus" bukan cuma karena berfungsi sebagai pusat pemerintahan. Di aspek sejarah juga, Jakarta punya ceritanya sendiri.

Menurut Vickers (A. A History of Modern Indonesia Cambridge University Press, 2005), Dutch colonial rule mendirikan pusat pemerintahan di Jakarta sejak tahun 1619. So too, Batavia became the center of the Dutch East India Company's trading network in Asia.

Di Jakata, ada 68 Gubernur Jenderal in total. Zaman Dutch East India Company ada 32 orang, dari Pieter Both (1610–1614) sampai Willem Arnold Alting (1780–1796). Plus Era Dutch East Indies yang punya 36 Gubernur Jenderal. Nggak termasuk Sir Thomas Stamford Raffles, Lieutenant-Governor of British Java (1811–1815).

Jakarta jadi gerbang penaklukan Inggris atas seluruh Tanah Jawa. Tahun 1811, dari Malaka, Lord Muito memerintahkan Sir Thomas Stamford Raffles yang berkedudukan di Penang (Malaya) untuk menguasai Pulau Jawa.

Raffles mengerahkan 60 kapal perang. Menggempur Jakarta. Tanggal 26 Agustus, Jakarta jatuh ke tangan Inggris.

Sebelum Jepang masuk, Jakarta menjadi colonial city selama 320 tahun. Kantor Gubernur Jenderal (Kasteel van Batavia) dan fortress (Fort Jacatra) didirikan di sini. Rijswijk Palace dan Istana Gambir tetap jadi pusat pemerintah Kolonial Jepang (Saiko Shikikan).

Jakarta selalu menjadi enclave The Dutch. Sensus tahun 1699, populasi orang Belanda mencapai 1,783 jiwa. Disamping ada 3,679 Chinese; 2,407 Mardijkers inlandse Christenen); 670 Mixed blood; dan lain-lain sebanyak 867 orang.

Di akhir abad 19, populasi Jakarta meroket. Tembus 115,887 people, di antaranya 8,893 Belanda (Eropa), 26,817 Tionghoa dan 77,700 indigenous islander.

Tahun 1905, populasi Jakarta dan sekitarnya mencapai 2.1 juta. Termasuk 93 ribu Tionghoa, 14 ribu Belanda dan 2,800 Arab.

Jadi, Anies benar: Jakarta melihat Belanda dari dekat. Remy Sylado yang ngawur.

Soal nama Indonesia, Remy Sylado kembali nyinyir. Dia ngeledek Anies dengan kutip, Katanya, “Dulu orangtua kami itu pendiri Partai Arab Indonesia…Orang Arab mengatakan tanahairnya Indonesia, tahunnya 1934…Apakah Indonesia sudah ada? Belum!…Mereka menyatakan sumpah tanahairnya Indonesia sebelum Indonesia ada. Tidak ada yang lain, yang melakukan itu kecuali keturunan Arab…”

Sylado belaga tersentak dengan menulis,"Astaga! Tahun 1934 belum ada Indonesia?"

Lalu dia kupas soal Adolf Bastian dan JR Morgan yang menciptakan istilah "Indonesia". Ditutup dengan closing statemen kurang enak dibaca. Silado bilang, "Kita di Indonesia alpa mengapresiasi J.R. Logan, sementara di Malaysia patung J.R. Logan dipasang di pusat George Town."

Sebelum saya mulai membantah, saya mau saranin sebaiknya Remy Sylado pindah saja ke Malaysia.

Sekali lagi, sebenarnya statemen Anies tidak perlu diinterpretasi. Jelas. Solid. Kecuali anda anak SD.

"Indonesia" yang dimaksud Anies adalah sebuah negara. Bukan konsepsi ethnografis yang diciptakan James Richardson Logan. Di sini ngawurnya Remy Sylado.

Istilah "Indonesia" pertama kali muncul pada tahun 1850. Awalnya ditulis "Indunesians" oleh George Samuel Windsor Earl dalam Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia. Earl berusaha menciptakan terminologi etnografis untuk menerangkan "the branch of the Polynesian race inhabiting the Indian Archipelago" atau "the brown races of the Indian Archipelago."

Sedangkan Logan menulis, "I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian islands or the Indian Archipelago. We thus get Indonesian for Indian Archipelagian or Archipelagic, and Indonesians for Indian Archipelagians or Indian Islanders."

Jadi jelas, Adolf Bastian atau JR Logan berbicara seputar ethnografis. Sedangkam Anies bicara soal negara berdaulat. Nggak keliru, bila ada yang dibilang Sylado yang ngawur.

Saya menduga, keterangan seputar Adolf Bastian dan JR Logan dicontek dari risalah "Yayasan Nabil" yang dibiayai konglomerat Eddy Lembong (Bos Pharos). Sedangkan jurnalist Andreas Harsono, setahu saya, adalah orang pertama yang mengangkat cerita seputar JR Logan. Jadi bisa diasumsikan Remy Sylado adalah the third hand party. Makanya ngawur.

Penulis: Zeng Wei Jian