"SENJATA Makan TUAN" Ketika Fatwa Ulama Saudi Menjadi Bumerang Bagi Mereka Sendiri


"Senjata makan tuan"

Berita ini sebenarnya sudah timbul pasca putra mahkota menggantikan ayahandanya Raja Salman...tapi saya masih keep...agar komunitas salafy di Indonesia gak terkaget-kaget...apalagi akun-akun yang sering sensitif apabila saya kritik pemerintahan KSA (Kerajaan Arab Saudi).

Tapi setelah berjalan dua bulan...sikap pangeran makin masiv...yah apa boleh buat informasi ini bisa menjadi pembelajaran bersama.

Sejak Agustus - Oktober 2017 ulama-ulama "salafy" di KSA diamankan kerajaan untuk diintrogasi, sebagian dilepaskan sebagian lagi masih di tahan...why?

Aneka ragam berita beredar, ada media menyebut sebagian ulama tersebut kritik kerajaan atas ketidakharmonisan Saudi dengan Qatar, ada yang dituduh berafiliasi dengan kelompok asing (ulama Qatar), ada juga yang mulai berani mengkritik kebijakan-kebijakan kerajaan yang cenderung sekuler dan dianggap melanggar syariat.

Terbaru, Otoritas Saudi menangkap Syaikh al-Munajjid pendiri situs Islam paling Populer (https://www.almunajjid.com/). (https://www.islam21c.com/news-views/founder-of-worlds-most-popular-islamic-website-sh-munajjid-detained-in-new-saudi-arrest-spree/)

Dilema...bak bumerang...

Dahulu fatwa ulama mereka sendiri yang melarang protes dan melakukan demo kepada kerajaan yang kemudian dimasukkan ke dalam UU di KSA, sekarang setelah pemerintahan mulai bias dengan syariat, dan ulama mulai kritis....malah aturan tersebut yang menjerat mereka.

Sekali lagi... ini pembelajaran para ulama dalam membuat fatwa dengan niat keberpihakan politik kepada suatu pemerintahan disuatu masa yang bisa berakibat kepada ulama itu sendiri dimasa sesudahnya.

(Laila Nahwa Harun)