RUARRR BIASA Tumpah Ruah! Tak Ada Acara Sertijab Seperti Ini, dari Duta Besar Sampai Korban Gusuran Sambut Gembira


Oleh: Agi Betha
(wartawan senior)

Hari ini (Senin 16 Oktober 2017), suara riuh rendah rakyat Jakarta menyelimuti Balai Agung. Sebuah ruangan besar di Balai Kota Jakarta, tempat biasa diadakannya acara resmi telah disiapkan.

Tumpah ruah manusia disana. Kursi tak mencukupi. Orang-orang pun berdiri. Orang penting maupun kurang penting, pejabat ataupun rakyat semua jadi serupa.

Dari mulai mantan ketua MPR Hidayat Nur Wahid, mantan Menkumham Yusril Ihza Mahendra, para Duta Besar negara sahabat, Boy Sadikin dan pasukan relawan, hingga warga gusuran Kampung Akuarium berjubel jadi satu. Bahkan di dekat saya duduk warga pengagum Anies-Sandi dari etnis Tionghoa, yang menyatakan sengaja datang dari luar Jawa. Ia katanya khusus ke Jakarta karena ingin menyaksikan pelantikan. Saya memandangnya kagum. Karena tadinya saya yang dekat saja hampir tidak berangkat, hanya karena hujan deras siang-siang.

Betul-betul suasana Indonesia tumpah ruah di Balai Agung. Semua ingin jadi saksi Sertijab (serah terima jabatan). Padahal di depan tak ada Djarot Saiful Hidayat, karena kata media ia sudah berlibur ke Labuan Bajo. Tapi ada pak Sony Sumarsono, PLH yang senyum-senyum menyaksikan kemeriahan rakyat disana.

Semua warna kulit, mata belok maupun sipit, ada di sekeliling saya. Pun yang bercakap bahasa Tegal, aksen Minang hingga Batak, saya dengarkan. Semua sumringah dan cerah. Sejak jadi wartawan di awal tahun 90-an, belum pernah saya temui suasana Sertijab se-informal ini. Jauh dari suasana hening dan resmi. Bagian protokoler pun tampak memaklumi antusiasme warga. Semarak dan meriah.

Ketika Anies Baswedan & Sandiaga Uno akhirnya muncul, waktu sudah mendekati pukul setengah 6 sore. Mereka baru selesai dari mengikuti sidang istimewa di Gedung DPRD. Semua yang hadir pun berdiri menyambut. Nama keduanya diteriakkan berulang-ulang. Dari balkon para juru foto berebut mengabadikan momen istimewa itu.

Antara rakyat dan pemimpin barunya tampak tak berjarak. Siapapun bisa hadir disana, semua gembira. Tapi upacaranya tetap berlangsung khidmat, dan mengundang haru.

Sebuah fase perjuangan sudah terlewati.

Di kejauhan, saya menatap jas perlente pak Yusril. Lalu beralih ke ibu-ibu cantik berkebaya dari rombongan Perempuan Peduli Keadilan dan grup Indonesia Satu, di sisi kiri saya. Berlanjut ke sandal jepit warna ungu dan onggokan payung merah di kaki Dharma Diani, penduduk Kampung Akuarium yang rumahnya dirobohkan.

INILAH JAKARTA, INILAH INDONESIA. INILAH WAJAH KITA.

Seusai menandatangani serah terima jabatan, Anies Baswedan pun berorasi pendek. Ia menyatakan: Birokrasi tak tergantung kepada siapa yang memimpin. Birokrasi akan terus bekerja siapapun pemimpinnya. Karena itu Anies-Sandi akan langsung bekerja mewujudkan harapan rakyat Jakarta.

✔Kenangan di Balai Agung sore tadi, adalah sepenggal memoar yang tentang sejarah Kota Jakarta. Belum pernah kekuasaan di Ibukota diperebutkan sampai sesengit itu. Semua kepentingan, seluruh unsur kekuasaan, terengah-engah dan megap-megap menghadapi suara rakyat.

Dari Balai Agung, semoga kehendak rakyat dapat diwujudkan. Impian-impian diurai menjadi kenyataan. Dan keadilan nantinya bukan hanya milik sang pemenang, melainkan jadi hak semua tangan.

INSYA ALLAH, AAMIIN.

☝☝☝

[video - suasana sertijab di Balai Agung]