Relevankah 'Pribumi' Dalam Pidato Anies dengan Kondisi Zaman Now?


Oleh: Bambang Prayitno

Sejak semalam, saya membaca tiga kali pidato Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang disampaikan di halaman Balai Kota, pada Senin malam (16/10). Sebuah pidato dengan durasi 22 menit yang indah. Pidato ini memberikan gambaran tentang bagaimana jiwa Pancasila hadir di tengah-tengah Jakarta; gambaran Jakarta sebagai titik temu seluruh budaya dan kehidupan; dan bagaimana agama menjadi jiwa yang menghiasi jalan dan gedung-gedung.

Banyak makna.

Di berbagai saluran televisi sendiri, beberapa kali orang bertepuk tangan ketika pidato itu dibacakan.

Sayangnya, haru biru dan keindahan itu tercemar oleh sinisme pendukung calon Gubernur yang kalah dalam kontestasi Pilkada DKI kemarin. Entah syetan kebencian dan kemarahan apa yang merasuk. Tapi pidato itu dikritik habis-habisan. Sejak kompetisi hingga menang, Anies-Sandi memang seperti dicari-cari terus celah salahnya. Media sosial menjadi alat bully yang bengis. Ribuan. Tak henti-henti.

Kritik mereka dalam pidato semalamn terutama soal kata "pribumi" yang diucapkan Anies dalam pidatonya. Terutama di paragraf ketujuh;

"Jakarta adalah satu dari sedikit tempat di Indonesia yang merasakan hadirnya penjajah dalam kehidupan sehari-hari selama berabad-abad lamanya. Rakyat pribumi ditindas dan dikalahkan oleh kolonialisme. Kini telah merdeka, saatnya kita jadi tuan rumah di negeri sendiri. Jangan sampai terjadi di Jakarta ini apa yang dituliskan dalam pepatah Madura, Itik se atellor, ajam se ngeremme. Itik yang bertelur, ayam yang mengerami. Seseorang yang bekerja keras, hasilnya dinikmati orang lain". 

Kata pribumi diributkan. Lalu disebarkan berita seolah-olah Anies rasis. Membelah anak bangsa dalam dua wajah dan golongan; pribumi dan non pribumi. Orang asli Indonesia dan bukan orang asli Indonesia. Anies sedang menciptakan perang baru katanya.

Kalau kita membaca pelan-pelan teks pidato yang disebarkan di media dan juga menonton rekaman video terutama  menit ke 6.31 hingga 7.07 di Youtube yang juga beredar, tanpa sinisme dan pikiran terbuka, sebenarnya tidak ada yang salah. Anies sedang menjelaskan bahwa Jakarta menjadi tempat yang secara nyata penjajahan dan kolonialisme itu nampak dan terus berlangsung.

Lalu, apa yang dimaksud pribumi yang disampaikan Anies dalam pidatonya? Saya melacak istilah pribumi dan non-pribumi sejak muncul lebih seratusan tahun lalu. Ternyata, pribumi atau 'inlander' adalah istilah yang pernah dipakai Belanda untuk mendekatkan negara kolonial kepada rakyat Indonesia. Bagi Belanda, 'inlander', adalah rakyat asli Indonesia yang sudah berdiam lama. Sementara keturunan India, Arab dan Cina adalah non pribumi. Lalu, Belanda sendiri disebut apa? Mereka menyebutnya 'penduduk Barat Asing'.

Pribumi atau 'Bumiputera' (dalam istilah orang-orang di rentang kawasan Melayu) sendiri pada awalnya berarti orang yang tinggal, berdiam dan mencintai tempat mereka hidup. Mereka memuliakan tanah tempat mereka berdiri. Dan mereka menghidupkan tanah itu, menyuburkannya dan menjaganya dengan segenap yang mereka miliki. Istilah pribumi itu mulia sekali.

Dalam sejarah perjuangan dan revolusi bangsa ini, istilah pribumi memiliki makna yang dalam. Ia vis a vis secara istilah dengan penjajah. Orang yang terjajah -apapun sukunya- adalah pribumi. Siapapun yang menjajah dan menganeksasi dan melakukan praktik kolonialisasi atas sebuah wilayah, ia disebut penjajah.

Apakah istilah 'Pribumi' atau 'Bumiputera' itu relevan dengan situasi hari ini? Kalau melihat situasi Indonesia yang sedang dalam proses aneksasi, dirampok sumberdaya alamnya, dipinggirkan hak-haknya, tidak dilibatkan dalam pengambilan kebijakan publik dan penguasa lebih mempriirotaskan korporasi raksasa untuk menguasai tanah Jakarta dan tempat lain di Indonesia, maka kita pantas mengambil intisari kata pribumi sebagai semangat untuk perlawanan.

Anies sedang menyebarkan semangat kepada kita semua; bahwa Indonesia sedang dalam situasi darurat karena tanah air kita sudah dikuasai orang lain. Kedaulatan sudah sirna. Dan anak cucu kita hampir tak punya apa-apa. Seperti puisi 'Tapi Bukan Kami Punya' yang pernah dibacakan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo.

Pertarungan politik selanjutnya, sesungguhnya adalah ajang eksistensi para penjajah ekonomi bangsa ini dan cecunguk serta antek-anteknya yang akan berhadapan dengan kita, 'pribumi'; orang yang mencintai Indonesia dengan seluruh jiwa raga.

Mari berjuang terus demi keadilan.

Jakarta, 17 Oktober 2017


[Bambang Prayitno. Alumni KAMMI, peneliti, sering menulis di media]