[Pengaduan Warga] Anies Bekerja dengan Otak Bukan Syahwat, Membereskan Kebiasaan Ahok


[PORTAL-ISLAM.ID] Gubernur DKI Jakarta yang baru, Anies Baswedan menerima pengaduan warga yang datang ke Balai Kota. Dari pukul 07.00 - 09.00 pengaduan warga diterima oleh Anies. Ada yang diterima oleh staf Balai Kota, ada yang langsung diterima oleh Anies saat beliau tiba di Balai Kota.

Hal ini "meneruskan" kebiasaan yang telah dijalankan Ahok. Bijaknya Anies, dalam akun media sosialnya beliau masih menyebutkan nama Ahok sebagai pelopor kegiatan ini. Apa yang dilakukan Anies ini membuktikan tuduhan buruk dari pendukung Ahok bahwa kebiasaan datangnya warga mengadu ke Balai Kota hanya ada di zaman Ahok, mereka beranggapan kebiasaan ini akan hilang di era Anies, karena rakyat sangat dekat dengan Ahok yang dirasa lebih peduli.

Terbukti sejak Anies berkantor di hari Selasa hingga hari ini, warga masih mendatangi Balai Kota untuk mengadu. Mereka tidak peduli siapa gubernurnya. Mereka datang karena ada keperluan yang butuh diselesaikan.

Namun, kebiasaan warga mengadu ini akan diperbaiki oleh Anies.

Logika saya, kebiasaan warga Jakarta mendatangi Balai Kota bukanlah kebiasaan baik. Warga mendatangi Balai Kota dan menemui gubernurnya jangan dianggap sebagai sebuah prestasi kedekatan warga dan pemimpinnya. Justru disinilah letak "kegagalan" seorang pemimpin karena tidak mampu mencitrakan dirinya pada bawahan yang telah diposisikan di instansi dibawah Pemprov DKI.

Andai bawahan Gubernur mampu bekerja maksimal dan mampu bekerja mengatasi masalah warga, tentu saja kebiasaan warga pergi ke Balai Kota di pagi buta tidak perlu dilakukan. Mereka cukup pergi mengadu ke kantor Kelurahan dan menceritakan permasalahan yang mereka hadapi, staf Kelurahan akan selesaikan masalah mereka dengan cepat. Itu andai estafet kepemimpinan memang berjalan di Pemprov DKI.

Ketidakpercayaan warga pada bawahan Gubernur membuat mereka lebih mengutamakan mengadu pada Gubernur daripada ke staff yang telah diberi tugas. Berangkat pagi buta dari rumah mereka membawa permasalahan yang belum tentu selesai pada hari itu.

Sudah 3 hari Anies bertugas dan Anies ternyata sangat konsen pada permasalahan ini, permasalahan warga mengadu ke Balai Kota. Anies akan evaluasi laporan warga ke Balai Kota untuk selanjutnya memanggil instansi terkait yang berhubungan dengan Pemprov DKI agar bisa menjadi leader dalam menyelesaikan masalah warga. Anies ingin warga tidak lagi mengadu ke Balai Kota dalam artian masalah mereka selesai saat mereka mengadu pada instansi tempat mereka mempunyai permasalahan.

"Tidak pernah ada larangan (warga ke Balai Kota). Cuma kami harusnya bisa membuat persoalan ini selesai tanpa merepotkan warga. Kasihan warga harus sampai datang ke Balai Kota," ujar Anies di Balai Kota DKI Jakarta, seperti dilansir Kompas.

Anies Akan Evaluasi Proses Pengaduan Warga di Balai Kota
http://megapolitan.kompas.com/read/2017/10/19/09194841/anies-akan-evaluasi-proses-pengaduan-warga-di-balai-kota

Inilah contoh pemimpin yang benar, beginilah pemimpin yang sebenarnya. Tidak mau merepotkan warga dengan datang jauh-jauh dari rumahnya hanya untuk bertemu sekian menit dengan gubernurnya untuk mengadu. Kalau kita manusia, maka kita akan paham bagaimana repotnya warga harus mempersiapkan diri mereka untuk berangkat ke Balai Kota. Kalau yang lokasi dekat mungkin gak maslah, kalau lokasi jauh..butuh 2-3 jam dari rumah, sedangkan waktu di Balai Kota hanya sampai pukul 09.00 pengaduan diterima, karena gubernur juga mempunyai agenda yang sudah terjadwal. Tidak mungkin gubernur menghabiskan waktu mendengarkan pengaduan warga di Balai Kota.

Ahok mewarisi kebiasaan ini, "kebiasaan bagus" bila dinilai dari luar. Namun menjadi "kebiasaan buruk" apabila terus dilakukan tanpa ada pembenahan. Harusnya makin sedikit warga yang datang menandakan ada kemajuan dari jajaran Aparatur Sipil Negara (APN) Pemprov DKI dalam bekerja, makin sedikit yang datang malah menunjukkan prestasi kerja. Namun yang diopinikan, makin banyak yang datang malah dinilai sebuah prestasi yang membanggakan. Apalagi didukung pemberitaan media yang ingin menunjukkan kedekatan warga dan gubernurnya. Dan lucunya, hal ini malah di agung-agungkan oleh pendukung Ahok sebagai sebuah prestasi.

Jujur saja, selama ini kita telah dibodohi penyesatan cara berpikir. Logika berpikir masyarakat saat ini sudah dibuat TULALIT atas pemberitaan yang dilebih-lebihkan. Harusnya kita prihatin, malah kita disuruh berbahagia karena media memberitakannya dengan background yang diatur sedemikian rupa.

Untung saja gubernur saat ini memiliki pemikiran yang maju, tetap menerima pengaduan namun menjadi catatan tersendiri bahwa kebiasaan ini akan di evaluasi melalui jajarannya. Tujuannya, tidak ada lagi warga yang datang dengan artian masalah mereka telah teratasi di jajaran bawah. Kalau teratasi, buat apa lagi datang ke balaikota...???

"Emang mau anter bunga atau karangan apalah namanya gituh...?"

Maaf, ini era Anies Baswedan. Dimana bekerja dengan Otak, bukan dengan Syahwat.

Bukankah kepemimpinan dianggap berhasil manakala berhasil menggerakan seluruh jajarannya?

Anies bukan "one man show". Dia leader.

(by Iwan Balau)