Pencekalan Gatot Nurmantyo Dalam Perspektif Pilpres 2019


[PORTAL-ISLAM.ID] Di era yang serba sensitif ini, apa saja peristiwa tingkat tinggi hampir pasti akan ditoleh dengan kacamata politik. Tak ketinggalan isu pencekalan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo (GN) untuk masuk ke Amerika Serikat (AS).

Mengapa pencekalan GN sangat mudah dan relevan untuk diletakkan di dalam perspektif politik? Tak lain karena beliau sedang menjadi atau dijadikan salah satu bintang “sinetron Pilpres 2019”. Dia tiba-tiba muncul sebagai figur yang disebut-sebut berpeluang untuk maju sebagai capres atau cawapres.

Lantas, bagaimana kita meletakkan pencekalan GN di dalam konteks perpolitikan nasional Indonesia saat ini?

Walaupun GN dianggap berpotensi untuk merebut simpati rakyat di Pilpres 2019, posisi jenderal berbintang empat itu masih memerlukan penguatan (enhancement). Boleh juga dikatakqn GN perlu mesin booster. Popularitas yang diraihnya dari isu “senjata impor”, tidak cukup kuat untuk menggoreskan kesan “berani” yang bisa bertahan lama.

Dimensi internasional, apalagi melibatkan AS, akan sangat efektif menggiring opini publik untuk menguatkan atau melemahkan seorang figur. Tetapi, kita perlu bertanya apakah pencekalan GN oleh pemerintah Washington ada kemungkinan menguatkan atau melemahkan GN? Jawabannya, kemungkinan itu sangat besar.

Boleh jadi, gerak-gerik GN belakangan ini yang terasa “merapat ke umat Islam”, agak mengganggu AS. Barangkali, pemerintah Washington berpendapat bahwa mencekal GN akan membuat namanya menjadi “rusak”. Dalam arti, dia akan masuk golongan orang-orang penting yang tidak akan diterima oleh masyarakat internasional.

Akan tetapi, dalam suasana yang berlangsung sekarang ini, konspirasi untuk melemahkan GN di mata rakyat Indonesia adalah miskalkulasi total. Ini kemungkinan pertama.

Kemungkinan kedua, pencekalan boleh jadi bermaksud untuk menguatkan posisi politik GN di mata rakyat. Katakanlah AS sengaja melakukan pencekalan dengan harapan GN akan dilihat rakyat sebagai “korban” kampanye negatif. Dengan cara ini, Washington “by request” atau tidak mungkin berrujuan untuk memperkuat dukungan rakyat kepada GN.

Skenario ini pun, pada saat sekarang, tidak akan berlaku dengan mudah. Publik di negeri ini sangat kritis. Akan cepat ketahuan bahwa AS “bermain” untuk menguatkan posisi GN dengan tujuan agar elektabikitas figur lain, termasuk Prabowo Subianto, akan semakin rendah sehingga di Pilpres 2019 hanya ada Jokowi dan GN.

Jadi, tujuan pencekalan untuk menghancurkan nama GN, atau sebaliknya unruk memperkuat posisi politik beliau, kelihatannya akan sama-sama tak akan mencapai sasaran.

Sekarang, yang tersisa bagi AS ialah dilema yang bersumber dari skenario konyol yang menunjukkan “immaturity” (ketidakmatangan) para perancang pencekalan GN. Pemerintah AS jelas-jelas memojokkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) melalui pencekalan itu.

Sebab, dampak pencekalan GN baik berupa pelemahan posisi Sang Jenderal maupun sebaliknya penguatan nama beliau, adalah dua sisi koin yang saat ini sangat mudah dikaitan dengan hasrat polotik Jokowi menuju Pilpres 2019.

GN lemah dan GN kuat merupakan paradoks yang sangat diperlukan oleh Jokowi. Suatu kondisi zig-zag yang mungkin masuk akal tetapi sekaligus tak logis.

Penulis: Asyari Usman