Jokowi: Lawan Politik Isukan Daya Beli Rendah, Netizen: NGAWUR!! NIH SEABREG BUKTINYA!


[PORTAL-ISLAM.ID]  Presiden Joko Widodo menuding isu soal turunnya daya beli masyarakat sengaja diciptakan oleh lawan politik untuk menghambat elektabilitasnya di pemilu presiden 2019 mendatang.

Hal ini disampaikan Jokowi dalam pidato peresmian penutupan Rapat Koordinasi Nasional  Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Tahun 2017 di Hotel Ritz Carlton, Kuningan, Jakarta, Selasa, 3 10 Oktober 2017 sore.

"Isunya hanya daya beli turun. Saya liatin siapa yang ngomong, politik oh enggak apa-apa," kata Jokowi tawa para anggota Kadin yang hadir.

"Kalau pengusaha murni saya ajak ngomong. Kalau orang politik kan memang tugasnya itu, membuat isu-isu untuk 2019. Sudah kita blakblakan saja," tambah Jokowi.

Sumber: KOMPAS

--------------

Menanggapi ucapan Jokowi, netizen pun memberi bukti tentang lesunya daya beli yang diembuskan oleh portal-portal berita mainstream. Sama sekali jauh dari lawan politik seperti yang dituduhkan Jokowi.

Berikut ulasannya.

1. 30 Gerai Seven Eleven Tutup
https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/3435533/ini-alasan-30-gerai-seven-eleven-tutup-tahun-ini


Sebanyak 30 gerai 7 Eleven (Sevel) tutup di awal tahun 2017 ini. Jumlah gerai yang ditutup itu meningkat dari tahun 2016 sekitar 20 gerai. Apa alasannya?

Corporate Secretary PT Modern Putra Indonesia, Tina Novita, mengatakan sejumlah gerai yang tutup di awal tahun ini karena ada beberapa toko tidak dapat mencapai target perusahaan.

Ia mengatakan, sejak tahun 2015, pendapatan Sevel menurun karena situasi ekonomi sedang melemah sehingga perusahaan mengevaluasi kinerja toko yang tidak mencapai target untuk mengurangi biaya operasional.

"Kebanyakan karena penjualannya turun karena waktu itu tahun 2015 ekonomi sedang tidak bagus kan, daya saing tinggi, konsumer belinya rendah jadi angkanya itu performanya menurun," ujar Tina, Rabu 1 Maret 2017.


2. Tak Menguntungkan, Dua Gerai Hypermart Ditutup


PT Matahari Putra Prima Tbk menutup dua gerai Hypermart yang dianggap tak menguntungkan. Perusahaan menganggap penutupan gerai sebagai proses normal dalam menjalankan bisnis.

“Sampai saat ini ada dua gerai yang tutup karena berbagai faktor seperti lokasi yang sudah tidak mendukung,” kata Sekretaris Perusahaan Danny Kojongian, Selasa 11 Juli 2017.

3. Bangkrutnya Produsen Jamu Nyonya Meneer


PT Nyonya Meneer dinyatakan bangkrut oleh Pengadilan Negeri (PN) Semarang. Beratnya beban utang yang ditanggung, membuat perusahaan tak lagi sehat. 

Selain beban utang, sengketa perebutan kekuasaan antarkeluarga disebut-sebut menjadi pemicu bangkrutnya perusahaan yang lahir sejak 1919 tersebut.

4. Merugi, Ramayana Tutup 8 Gerai


PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk menutup delapan gerainya,Senin 8 Agustus 2017

Unit bisnis supermarket jaringan ritel pemilik merek Ramayana, Robinson, serta Cahaya, disebut-sebut merugi. Manajemen terpaksa menyetop operasional delapan gerai divisi supermarket karena merugi. 


5. Matahari Tutup Dua Gerainya


Berita mengenai akan ditutupnya dua gerai milik PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) di Pasaraya Manggarai dan Pasaraya Blok M mendapatkan tanggapan dari analis pasar modal.

Hans Kwee, analis dari Investa Saran Mandiri, mengatakan bahwa secara industri, saat ini pelaku industri ritel memang mendapatkan tantangan yang sangat berat dari berbagai sisi, yakni dari sesama pemain industri ritel, dari pelaku industri ritel online, serta dari sisi gaya hidup masyarakat.

Hans mengatakan, kabar akan ditutupnya gerai Matahari sebenarnya sudah diutarakan pihak manajemen sekitar 2 bulan lalu. menurut Matahari, satu gerainya mereka mengelola sekitar 500 karyawan.

Transaksi e-Commerce hantam ritel komvensional?

Secara terpisah, Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) Aulia E Marinto mengungkapkan, kompetisi antara pelaku bisnis transaksi perdagangan secara elektronis (e-commerce) dan pedagang ritel konvensional sebagai dua entitas berbeda yang saling melengkapi.

Dia menjelaskan, secara umum volume pasar e-commerce di Indonesia masih kecil. Bahkan, jumlahnya masih di bawah 2% dari total pasar ritel konvensional. Tetapi dilihat dari sisi pertumbuhannya, pasar e-commerce memang bertumbuh cukup menjanjikan.

“Kami masih mengumpulkan data-data dari berbagai perusahaan e-commerceuntuk mengetahui seberapa besar pertumbuhannya di Indonesia. Secara volume, kita masih di bawah 2% dari total ritel konvensional,"