Jokowi-Gatot? Time will tell (Analisa Sederhana)


Jokowi-Gatot? Time will tell (Analisa Sederhana)

Oleh: Ustadz Syarifuddin Chan

Belakangan ini beredar tulisan yang isinya beranggapan bahwa Jokowi-Gatot tengah memainkan sandiwara politik. Sepak terjang panglima TNI Gatot Nurmantyo belakangan ini yang cukup kontroversial disebut sebagai manuver untuk memantaskan dirinya sebagai pendamping Jokowi kelak di 2019. Dengan harapan, berkat manuver tersebut, hati rakyat Indonesia terpaut pada sosok panglima, sehingga ketika disanding dengan Jokowi, maka kekurangan Jokowi akan tertutupi dengannya.

Well, berasumsi boleh saja. Beranggapan sah-sah saja. Karenanya, saya juga tentu tidak salah dong jika punya anggapan. Tulisan ini bukan bantahan pada anggapan diatas, namun hanyalah tulisan yang semata memuat tanggapan dan analisa saya pribadi.

Analisa saya ini bisa saja salah, namun anggaplah ini sekedar tanggapan sebagai pembanding dari tulisan tentang adanya sandiwara politik diatas.

(1) Pertama, jika memang benar sudah ada deal dari Jokowi dan Gatot untuk memainkan sandiwara politik, maka yang harus digaris bawahi adalah pada 2019 nanti yang maju apakah Jokowi-capres dan Gatot-cawapres, atau Gatot-capres dan Jokowi-cawapres. Ini penting dimaklumi terlebih dahulu karena akan membuat penglihatan kita makin jernih.

Jika memang Jokowi-capres, Gatot-cawapres, maka teorinya, semestinya popularitas capres haruslah berada diatas cawapres. Karena jika popularitas cawapres di mata rakyat lebih tinggi dari capres, ini berpeluang merusak pasangan, karena akan ada manuver dari Partai lain yang mensabotase dengan memajukan si cawapres sebagai capres mereka.

Tentunya dengan tokoh sekaliber Gatot, pastilah posisi capres lebih menarik baginya dari sekedar cawapres yang sudah terbukti "tidak banyak berfungsi" di masa kepemimpinan Jokowi saat ini.

Padahal kita lihat elektabilitas Gatot di mata rakyat terus meningkat, dan semakin melejit dengan sepak terjang beliau belkakangan ini. Terutama dengan perintah nobar G30S PKI dan isu senjata ilegal yang dilontarkan beliau.

Bahkan menurut saya, popularitas Gatot kini sudah melewati kepopularitasan Jokowi. Jika Jokowi dan Gatot tengah bermain sandiwara, maka disini sudah ada improvisasi yang merusak sandiwara itu sendiri. Sudah sangat terlambat bahkan untuk menghentikan sandiwara ini, jika ini memang sandiwara.

(2) Kedua, Jika Gatot memang diberi tugas mengambil hati rakyat (umat Islam), sehingga nanti punya nilai tambah pada pasangan Jokowi-Gatot, maka banyak sebenarnya manuver lain yang bisa dilakukan Gatot untuk meraih hati umat Islam tanpa harus menghancurkan kredibilitas Jokowi. Umpamanya memperbanyak silaturahmi dengan ulama dan melontarkan statement-statement yang menunjukkan keberpihakannya pada umat Islam.

Namun yang dilakukan Panglima justru sepak terjang yang menghancurkan kredibilitas pemerintahan Jokowi, nasional maupun inaternasional.

Bayangkan disaat Indonesia dan China kini mesra-mesranya, justru panglima mengangkat isu yang membuat masyarakat semakin benci pada komunis. Ini membahayakan posisi Jokowi secara bilateral dengan China, apalagi pernyataan panglima itu dilontarkan tidak berselang jauh dengan kedatangan Ketua Partai Komunis Vietnam ke Indonesia.

Maka jelas sekali disini, sepak terjang Panglima bukan cuma menumbuhkan popularitas dirinya, tapi juga menghancurkan kredibilitas Jokowi. Ini bertentangan dengan tujuan adanya sandiwara, kalau ini sandiwara.

(3) Ketiga, suatu sandiwara itu mestinya sudah punya skenario. Tidak ada sandiwara yang tanpa skenario. Sandiwara tanpa skenario itu julukan tepatnya, kebetulan.

Nah, ketika Panglima melontarkan isu senjata ilegal, jika ini sandiwara, tentunya reaksi yang muncul dari pemerintah akan isu ini sudah diskenario, sudah direkayasa. namun yang terlihat, pemerintah sepertinya benar-benar kaget dan tidak siap untuk memberikan reaksi yang terencara pada isu dari panglima ini. Terlihat betapa gagapnya dan kacaunya berbagai pihak dalam menanggapi ini. Ini menunjukkan bahwa isu yang dilontarkan panglima itu tidak ada dalam skenario sandiwara, jika ini sandiwara.

(4) Keempat, orang yang sedang memainkan sandiwara akan terlihat melakukan lakon yang bukan cerminan pribadinya sendiri. Maka jika panglima bersandiwara, kita akan bisa melihatnya apakah sepak terjang sandiwara ini sesuatu yang dadakan, atau memang sudah begitu dari dulunya.

Kita tahu statement-statement panglima tentang bahaya komunis itu bukan baru saat ini. Jauh sebelum ini, panglima sudah sering melontarkan itu di berbagai forum. Maka aneh jika kemudian perintah nobar G30S PKI ini disebut sandiwara politik, tanpa kita kaitkan dengan sikap beliau terhadap komunis sebelum-sebelumnya.

(5) Kelima, pernyataan dari panglima bahwa dia loyal pada Jokowi, adalah pernyataan normatif, yang memang harus menjadi sikapnya sebagai Panglima TNI kepada pemimpin negara, siapapun pemimpin itu. Gatot akan menyalahi sumpah jabatannya jika mengatakan tidak loyal pada Presiden. Ucapan ini tidak bisa dijadikan arguman bahwa sepak terjang gatot belakangan ini hanyalah sandiwara.

Jika kita piknik sejenak ke Mesir di masa pemerintahan Mursi, sekalipun tidak pernah Jenderal as-Sisi menyatakan tidak loyal pada Presidennya. Namun waktu bercerita lain. As-Sisi menggulingkan Mursi atas dasar menyelamatkan negara dari chaos akibat gonjang-ganjing pemerintahan Mursi yang menimbulkan gejolak ditengah-tengah rakyat Mesir, yang ditandai dengan terjadinya demontrasi berkepanjangan yang melumpuhkan pemerintahan.

Ingat kan ucapan Panglima: "Kami tahu kapan kami akan bergerak." Itu ucapan yang bisa dimaknai keloyalan panglima pada Presiden berada dibawah keloyalan panglima pada negara. Jika negara terancam, maka panglima akan bergerak, walaupun untuk itu terpaksa berseberangan dengan Presiden sekalipun. Begitu memang sumpah militer.

Jadi ucapan-ucapan Panglima ini hanya menunjukkan keprofessonalan beliau yang dilakukan dengan sangat baik dan proporsional.

Dengan melihat berbagai fakta diatas, maka besar dugaan saya bahwa tidak ada yang namanya sandiwara politik Jokowi-Gatot demi 2019, tidak terpenuhi syarat-syarat adanya sandiwara disini.

Semoga ada manfaatnya.

Wallahu a'lam bish-shawab.