DRAMA "Ahok Khatam Baca Quran Di Dalam Penjara" dan Jatuhnya TEMPO Jadi Buzzer


DRAMA AHOK KHATAM BACA QUR'AN DI DALAM PENJARA DAN JATUHNYA TEMPO JADI BUZZER

Setelah spekulasi Ahok tidak berada di Mako Brimob selama 5 bulan proses pemenjaraannya karena terbukti bersalah menistakan agama, tiba-tiba berita gombal muncul. Tak tanggung-tanggung, isinya Ahok hampir khatam baca Qur'an selama 5 bulan di dalam penjara. Tak tanggung-tanggung, yang memberitakannya Tempo online pula.

Berita berjudul "Lima Bulan Hidup di Penjara, Ahok Hampir Khatam Alquran" dari Tempo online (25/10/2017) ini ingin mengatakan 2 hal:

(1) Pertama, Ahok memang benar berada di dalam penjara dan membantah spekulasi selama ini bahwa dia tidak berada di dalam penjara.

(2) Kedua, Ahok adalah orang baik yang mau belajar tentang kitab suci agama Islam yang menjebloskannya ke dalam penjara.

Luar biasa, Tempo.

Tapi nanti dulu. Tapi ada yang tidak beres dengan berita ini. Karena sumber berita ini berasal dari seseorang bernama Ignatius Haryanto yang disebut Tempo sebagai penulis, bukan liputan langsung wartawan Tempo sendiri di dalam penjara Mako Brimob.

Karenanya, kebenaran berita Tempo ini bisa dipertanyakan karena bukan wartawan Tempo sendiri yang datang melihat langsung ke penjara. Kita tahu, sumber Tempo ini yaitu Ignatius Haryanto adalah seorang Ahoker keturunan Cina dan non Muslim yang tentu akan berbicara baik tentang Ahok dan selalu membelanya.

Namun kesaksian Ignatius Haryanto ditelan mentah-mentah oleh Tempo tanpa proses verifikasi yang seharusnya dilakukan dalam ilmu jurnalistik. Pertanyaannya, mengapa Tempo melakukan ini? Mengapa Tempo tidak lagi kritis? Apakah Tempo sudah jadi PR Ahok penista agama sekarang?

Apakah berita yang tidak jelas kebenarannya ini ditulis Tempo untuk memberikan kesan baik dan membalikkan citra Ahok yang sudah buruk karena terbukti menistakan agama melalui keputusan pengadilan? Apakah Tempo dibayar melakukan ini? Mengapa Tempo berani mempertaruhkan hal yang paling mendasar dalam ilmu jurnalistik?

Netizen mulai curiga, jangan-jangan Tempo sudah jatuh harkat dan martabatnya menjadi buzzer, atau bahkan "presstitute".

Lagian, yang namanya Khatam Al Qur'an itu membaca Al Qur'an dalam bahasa aslinya (Arab), bukan baca terjemahan Al Qur'an.